Tak Tahu Tertular di Mana, Pegawai Pemkot Jogja yang Terinfeksi Corona Alami Sesak Napas

Ilustrasi. - Freepik
31 Juli 2020 20:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Seorang tenaga teknis Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja dinyatakan positif Covid-19. Pasien tersebut sebelumya sempat sesak napas sehingga melakukan tes swab mandiri.

Lelaki paruh baya tersebut merupakan petugas lapangan dari salah satu organisasi pemerintah daerah (OPD).

Awalnya pasien tersebut smepat dinyatakan negatif rapid test, tapi ternyata setelah swab test hasilnya positif Covid-19.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi membenarkan kasus positif yang terjadi di lingkungan pemerintah kota Yogyakarta tersebut. Kasus positif Covid-19 yang menginfeksi lelaki berusia 42 tahun ini sudah diambil sejumlah langkah. Di antaranya, yang bersangkutan telah menjalani rawat inap isolasi sejak 28 Juli lalu.

"Ada satu tenaga teknis Pemkot Yogyakarta positif Covid-19. Langkah medis selanjutnya adalah kami akan melakukan tracing dan tracking kepada pasien kasus positif Covid-19. Mulai dari rekan kerja, keluarga, hingga lingkungan dimana pernah terjadi antara pasien dengan warga lainnya," ujar Heroe, Jumat (31/7/2020).

Lebih lanjut, upaya karantina juga telah dilakukan terhadap enam rekan pasien positif Covid-19 yang berada dalam satu ruangan. Upaya tracing juga sudah dilakukan kepada lima orang yang diketahui pernah melakukan kontak dengan pasien positif Covid-19 di luar lingkungan Pemkot Yogyakarta.

"Keluarganya juga akan dilakukan tes swab. Korban merupakan warga kota Yogyakarta. Kami masih menyelidiki darimana sumber penularan terhadap pasien positif Covid-19 tersebut. Untuk hasilnya akan ketahuan jika sudah kami lakukan rapid dan swab test," jelas Heroe.

Sementara itu, Heroe menolak jika kasus positif Covid-19 yang terjadi di lingkungan pemerintah kota Yogyakarta disebut dengan klaster. Pasalnya, pihaknya masih melakukan upaya tracing. Apakah sumber penularan terjadi di lingkungan di mana pasien positif Covid-19 tersebut tinggal atau di tempat lainnya.

"Sampai sekarang kami masih melakukan upaya blocking agar tidak terjadi penularan Covid-19. Korban diketahui terpapar Covid-19 setelah dilakukan upaya test swab mandiri, memang ada gejala. Beberapa kali dia memang tidak ikut acara kantor. Gejalanya yang dialami pasien tersebut adalah sesak napas," jelas Heroe.

BACA JUGA: LL Dikti Pastikan Mahasiswa Baru dan Lama Tak Perlu Pulang ke Jogja

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Tri Mardoyo mengaku telah berkoordinasi dengan kepala dinas OPD terkait dimana ditemukan seorang pegawainya yang dinyatakan positif Covid-19. Upaya tersebut dilakukan agar diberikannya izin kepada enam rekan pasien untuk melakukan karantina diri.

"Tujuannya untuk meminimalisir potensi persebaran Covid-19. Kami juga telah meminta adanya upaya penyemprotan disinfektan di ruang kerja pasien Covid-19. Juga melacak mobilisasi selama di luar kantor. Pasien positif Covid-19 tersebut memang tenaga lapangan," sambung Mardoyo.

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta ada 5 orang luar UPT yang sempat kontak erat dengan pasien positif Covid-19 selama sekitar 15 menit. Diantaranya, Warga Tegalrejo, Bausasran, Kotagede dan Giwangan. Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan masing-masing wilayah untuk dilakukannya tracing.

Diakuinya, pasien positif Covid-19 tersebut memang pernah melakukan rapid diagnostic test (RDT) pada 15 Juli dan hasilnya non reaktif. Namun, memasuki 21 Juli lelaki tersebut sudah merasakan gejala sakit. Di antaranya pusing, sesak napas, dan pilek. Alhasil, uji swab mandiri 25 Juli dilakukan oleh yang bersangkutan dan hasilnya positif Covid-19.

"Hasil dari tes sendiri keluar pada 28 Juli. Pasien positif Covid-19 langsung jalani isolasi di rumah sakit rujukan. Dari hasil tracing ini, yang bersangkutan tidak pernah keluar kota, terutama daerah merah seperti Surabaya dan Jakarta," imbuhnya.

Tri Mardoyo menjelaskan, terkait dengan mobilitas pasien positif Covid-19 tersebut diketahui pada 21 Juni, yang bersangkutan sempat mengikuti halal bihalal dengan 50 orang. Lantas, pada 1 Juli ia juga sempat mengikuti halal bihalal di tempat berbeda.

Pasien positif Covid-19 ini mulai masuk kantor 9 Juli dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Namun demikian, yang halal bihalal ini juga belum tentu sudah positif. Kami dalami kenanya (tertular Covid-19) kapan, dimana dan oleh siapa," tutupnya.