UPNVY Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif Beradaptasi dengan Kebiasaan Baru

Talkshow Kolaborasi dan Strategi dalam Pembangunan Ekonomi Kreatif di Era New Normal/Ist
02 Agustus 2020 17:37 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Adaptasi kebiasaan baru seolah menjadi pemantik untuk kembali menghidupkan perekonomian di Indonesia, tak terkecuali sektor ekonomi kreatif. Perguruan tinggi dan juga stakeholders yang lain pun didorong untuk ikut berkontribusi dalam menghidupkan ekonomi kreatif terdampak Covid-19.

“Semoga perguruan tinggi bisa bersinergi dalam rangka memberi kontribusi terbaik dari ekonomi kreatif untuk pembangunan nasional,” ujar Rektor Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakartav(UPNVY), Mohammad Irhas Effendi, dalam Talkshow Kolaborasi dan Strategi dalam Pembangunan Ekonomi Kreatif di Era New Normal, Rabu (8/7/2020) lalu.

UPN mengucapkan banyak terima kasih kepada Kemenparekraf karena sudah dipercaya dan ditunjuk kembali untuk berkolaborasi disektor ekonomi kreatif. Memasuki era pandemi ini kita harus memasuki situasi yang sama untuk menghadapi secara bersama-sama.

“Kebiasaan baru ini ditandai perubahan eksternal yang perlu ditata-ulang untuk membangkitkan iklim kreatif dan iklim bisnis yang mampu menyesuaikan dengan keadaan”, tambahnya.

Didalam sambutannya, Direktur Hubungan Antar Lembaga Kemenparekraf RI, K. Candra Negara menjelaskan pandemi Covid-19 membawa kita pada adaptasi kebiasaan baru atau new normal, beberapa negara dan daerah mempunyai istilah yang berbeda.

Diseluruh dunia mengalami hal yang sama dan kita harus diminta beradaptasi untuk memasuki fase baru atau kebiasaan baru tersebut. Disektor ekonomi kreatif, para pelaku ekonomi kreatif itu mau tidak mau juga terdampak oleh pandemi ini.

“Sebagian besar, pelaku ekonomi kreatif tidak dapat melaksanakan pekerjaan atktivitasnya sama seperti sebelum pandemi, bahkan tidak melakukan pekerjaan apapun, dan tidak mendapatkan penghasilan apapun”, imbuhnya.

Beliau juga mencontohkan seperti pada kalangan perfilman sudah tidak memproduksi film, namun kabar yang terbaru sudah akan produksi tetapi dengan perotokol kesehatan yang ketat. Ini fakta bahwa ternyata tidak hanya proses kreatif saja yang berubah akan tetapi juga model bisnis yang juga ikut berubah karena harus menyesuaikan pola dengan perubahan.

“Akhirnya banyak pelaku ekonomi kreatif yang mulai memanfaatkan keunggulan teknologi digital, seperti mereka pelaku seni dan pertunjukan yang serius beralih ke digital”, tambahnya.

Ricky J. Pesik, Staf Khusus Menteri Bidang Digital dan Industri Kreatif, membenarkan jika pandemi COVID-19 menghantam industri kreatif nasional maupun global secara signifikan. Ia mengatakan bahwa pelaku industri kreatif adalah sosok perintis.

“Bahkan, bisnis kuliner pun merasakan dampak dari pandemi ini, karena masyarakat tak lagi diperkenankan masuk ke warung beramai-ramai karena harus memenuhi protokol kesehatan”, ujar Ricky.

Meski demikian, ada terobosan baru dari bisnis kuliner selama pandemi ini. Salah satunya adalah kopi yang dikemas dalam botol berukuran 1 liter. Biasanya, kopi siap minum dijual di botol berukuran kecil atau di gelas sehingga bisa diminum langsung. “Kopi 1 liter itu kan munculnya gara-gara pandemi, kalau nggak ada pandemi mungkin nunggu 2-3 tahun lagi,” katanya.

Ricky menyampaikan jika perlu ada ekosistem digital yang baik untuk mewadahi para pelaku ekonomi kreatif ini. Selain itu, perlu juga adanya kolaborasi pihak satu dengan yang lain untuk membangun Indonesia lewat ekonomi kreatif di era adaptasi kebiasaan baru. “Harus ada kesadaran bahwa dunia tidak akan kembali normal seperti sebelumnya. Tantangan ke depan adalah dibutuhkan kolaborasi untuk menyiapkan ekosistem baru yang lebih resilience,” katanya.

Dr. Robinson Sinaga selaku Direktur Fasilitas Kekayaan Intelektual menyatakan bahwa baru menurut data statistic bahwa hanya sekitar 11% pelaku ekonomi kreatif di Indonesia yang mendaftarakan Hak Kekayaan Intelektualnya.

“Tantangan ke depan adalah produk ekonomi kreatif dan hak kekayaan intelektual harus di lindungi, jangan sampai ada masalah dan baru sadar bahwa kekayaan Intelektual itu penting” tambah Pak Robinson. Dalam hal Ini Kememparekraf dan UPN Yogyakarta akan melanjutkan kolaborasi dalam Program Sosialisasi dan Fasilitasi Pendaftataran Hak Kekayaan Interlktual bagi pelaku ekonomi kreatif.

Talkshow Kolaborasi dan Strategi dalam Pembangunan Ekonomi Kreatif di Era New Normal ini selain menghadirkan para narasumber dan pelaku ekonomi kreatif, juga menghadirkan Tri Suaka seorang penyanyi Yogyakarta yang kerap mengcover lagu-lagu tanah air sesuai dengan versinya dan populer di youtube.