Puluhan Tenaga Kesehatan di DIY Terpapar Covid-19, Ini Respons Dinkes Kota Jogja

Petugas medis mengambil sampel darah para pedagang dalam tes cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT) Covid-19 di Pasar Bantul, Bantul, Rabu (24/06/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
03 Agustus 2020 13:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Peningkatan jumlah kasus positif Covid-19 di DIY seolah berjalan seiring dengan bergerak laju ekonomi. Pergerakan ekonomi di berbagai sektor, khususnya pariwisata membuat mobilisasi orang makin meningkat.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan, Kota Jogja Tri Mardoyo menyebutkan semakin tinggi mobilisasi orang, maka risiko penularan akan semakin tinggi juga. Sementara pihaknya juga tidak dapat mencegah mobilisasi.

"Kalau kita mencegah mobilisasi, tentunya aspek ekonomi tidak akan bergerak, sedangkan aspek ekonomi juga digunakan untuk mendukung menguatkan kesehatan, karena untuk membangun kesehatan perlu dukungan ekonomi," jelasnya dihubungi Minggu (2/8/2020).

BACA JUGA : 43 Karyawan Kesehatan di DIY Positif Covid-19 dalam 2 Hari

Dalam rentang dua hari DIY mengalami penambahan kasus Covid-19 lebih dari 100 kasus. Di Kota Jogja sendiri penambahan kasus suspek Covid-19 sebanyak 15 orang. Namun Tri secara tegas menyatakan bahwa pengetatan protokol tetap (protap) kesehatan di lingkungan fasilitas kesehatan telah sebenarnya diterapkan jauh-jauh, bukan hanya dua hari lalu pasca pelonjakan kasus Covid-19 di DIY.

 "Puskesmas sudah lama kami siapkan penyediaan protap bagaimana pelayanan ibu hamil, bagaimana pelayan imunisasi artinya jangan sampai terganggu," jelasnya.

Dari penambahan kasus yang terjadi selama kurun dua hari tersebut, Tri menyebutkan tidak ada satu pun nakes yang dinyatakan positif Covid-19. Mayoritas penambahan kasus di Kota Jogja menurut Tri masih didominasi pelaku perjalanan luar kota.

"Ada yang dari Papua, Gorontalo, dan sebagainya, tidak semua orang dari luar kota membawa surat," tuturnya.

Tri mengimbau kepada masyarakat dari luar kota terutama dari daerah zona merah ketika datang langsung komunikasi dengan lurah, RT, atau dengan RW setempat. "Kalau dia [orang dari luar kota] paham langsung Swab lebih bagus lagi," terangnya.

Alat Pelindung Diri

Maraknya paparan kasus Covid-19 di lingkungan nakes menurut Tri bukan karena persoalan Alat Pelindung Diri (APD). Pihaknya mengklaim bahwa kebutuhan APD baik ditingkat nasional maupun regional saat ini dipastikan aman.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Karyawan Kesehatan Positif Terus 

"Mungkin dia [nakes yang terpapar Covid-19] bisa karena lingkungan atau saat dia memakai pakaiannya, banyak faktor, cara pakainya cara melepasnya, kemudian bagaiamana dia bergaul baik itu di lingkungan, kita kan enggak tahu," terangnya.

Menurut Tri perlu kajian lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti penyebab tertularnya para nakes. Menanggapi banyaknya temuan kasus suspek Covid-19 di lingkungan nakes membuat Dinkes Jogja menyiapkan langkah antisipatif. Tri menjelaskan pihaknya akan melakukan screening beberapa nakes yang kontak kontak erat langsung dengan pasien suspek Covid-19.

"Misal yang bersangkutan melakukan Swab, terus pasien yang di Swab positif, tentunya nakes yang bersangkutan juga harus di-Swab," terangnya.

Uji Usap

Akan tetapi proses Swab atau uji usap tidak langsung dilakukan. "Akan kita lihat harinya sesuai Epidemiologinya, reaksi dalam tubuhnya kapan, jangan sampai begitu kontak langsung [dengan pasien positif] di-Swab, ya tentunya negatif karena belum ada reaksi, kalau tidak salah 7 sampai 10 hari," jelasnya.

Di sisi lain Tri mengimbau kepada nakes untuk meningkatkan kehati-hatian dan kewaspadaan dan meningkatkan daya imun. Pihaknya akan melakukan penguatan Tracing dan penguatan daya tahan tubuh nakes sebagai prioritas selain menyiapkan sarana serta prasarana screening uji usap.