Butuh Layanan Buku dan Dokumen Arsip di Jogja? Seperti Ini Operasional selama Pandemi Covid-19

Ilustrasi. - Freepik
18 Agustus 2020 07:37 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Buku dan dokumen arsip menjadi salah satu benda penting bagi peneliti maupun mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi, tesis, hingga disertasi. Namun selama pandemi, mobilitas yang terbatas dan penyesuaian layanan perpus membuat peneliti cukup kesusahan.

Salah satu lokasi dengan berbagai arsip penting adalah Museum Sonobudoyo. Memiliki koleksi buku, serat, hingga benda-benda budaya masa lalu, membuat lokasi tersebut sering dikunjungi peneliti.

Baca juga: Ini Perbedaan Upacara HUT Ke-75 RI dengan Peringatan HUT RI Sebelumnya 

Kepala Museum Sonobudoyo, Setyawan Sahli yang kerap disapa Iwan mengatakan selama pandemi peneliti tetap diizinkan masuk dengan catatan mentaati protokol Covid-19. "Prosedur sama seperti pengunjung museum," jelasnya dihubungi pada Minggu (17/8/2020).

Meski demikian Museum Sonobudoyo belum dapat melayani peneliti secara daring. Iwan menjelaskan sementara koleksi hanya boleh dibaca di tempat dan tidak boleh dibiarkan pulang atau keluar. "Harus ada surat permohonan penelitian dari dosennya," jelasnya.

Sama halnya dengan Museum Sonobudoyo, perpustakaan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) menjadi lokasi yang sering dikunjungi peneliti. Meski masih dapat dikunjungi secara langsung, namun saat ini sifatnya terbatas.

Baca juga: Layanan Penukaran Uang Baru Rp75.000 Bisa Dilakukan di 5 Bank, Ini Syaratnya..

Kepala Seksi Dokumentasi dan Informasi Seni Budaya, Padmono Anggoro Prasetyo mengatakan selama pandemi pengunjung nyaris tidak ada di perpustakaan TBY. Kesempatan ini digunakan Anggoro membuat katalog online sehingga kedepannya daftar arsip dilihat secara daring.

Sementara itu salah satu layanan bidang perpustakaan dan arsip yang saat ini bisa dibaca secara daring adalah Instalasi Arsip milik DInas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogjakarta. Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Jogjakarta, Wahyu Hendratmoko mengatakan peneliti dan mahasiswa bisa dilayani di Instalasi Arsip di Ngampilan. "Di sana ada layanan, datang ngasih surat kemudian kita layani," jelasnya.

Wahyu mengatakan pihaknya telah mengembangkan inovasi agar peneliti bisa melihat khasanah arsip melalui website. Aplikasi tersebut bernama Mariska (Mencari Arsip Melalui Layar Kaca).

"Ada headnote - nya, seandainya mau melihat izin dulu, kalau di arsip prosedurnya memang seperti itu, hanya orang yang berhak yang boleh mengakses, dinyatakan deng surat dulu, bikin surat kami kaji nanti kami layani," jelasnya.

Sementara itu menyangkut ruang restorasi arsip yang dulu sempat terbakar Wahyu mengatakan saat ini sudah difungsikan lagi. "Tahun pertama kita mengalami musibah, melalui anggaran kita yang ada pemeliharaan kita bisa membantu di akhir tahun juga sudah dibenahi," jelasnya.

Wahyu menjelaskan ruang yang terbakar tersebut merupakan ruang arsip musnah. "Jadi Arsipanya memang potensi musnah sehingga langsung kita musnahkan melalui kegiatan penilaian,"ujar Wahyu.

"Sekarang ruang arsip nya sudah berfungsi kembali yang menyimpan arsip potensi musnah untuk segera dinilai lalu dimusnahkan, kebakaran tidak membuat arsip penting hilang atau rusak, kebetulan kami segera mengetahui sehingga dapat dilokasir," imbuhnya.

"Kalau berkunjung di tempat kami ruang arsipnya terpisah pisah tidak ada yang menghubungkan sehingga [kebakaran] tidak merembet yang lain, jadi khasanah arsip statis kita aman," tambah Wahyu.

Wahyu tengah mencoba membangun sistem penanggulangan kebakaran tahun ini, tapi karena refocusing anggaran pihaknya akan mengulanginya lagi tahun depan.

"Sebetulnya sudah ada [sistem penanggulangan kebakaran] tapi kurang canggih, besok itu akan kita percanggih, tahun ini sebenarnya, karena refocusing makanya tahun depan," ujarnya.

Saat ini pihaknya masih melakukan restorasi arsip sama seperti biasanya, menjaga arsip statis lama tetap direstorasi.