Ini Rahasia Parangtritis Bebas Covid-19 meski Ramai Dikunjungi Wisatawan

Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Bantul, menyosialisasikan penerapan protokol kesehatan kepada warga dan wisatawan dusun setempat, beberapa waktu lalu. - Harian Jogja/Istimewa/Dok. Kepala Dusun Mancingan
19 Agustus 2020 06:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Desa Parangtritis adalah salah satu desa di Bantul yang masih nihil kasus positif Coronavirus Disease (Covid-19) meski desa tersebut menjadi pusat kunjungan wisatawan. Warga setempat cukup disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Tiap malam Jumat Kliwon dan malam Selasa Kliwon, Handri Sarwoko yang menjadi Koordinator Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Dusun Mancingan memimpin operasi penerapan protokol kesehatan bagi pelaku usaha dan pengunjung di sekitar wisata Parangkusumo. Tim razia bahkan berjaga di pintu masuk Parangkusumo untuk menghalau wisatawan yang tidak mengenakan masker.

BACA JUGA: Waduh, Uang Pecahan Rp75.000 Dijual di Online Rp50 Juta

Jika tidak mengenakan masker, wisatawan akan disuruh kembali dan tidak diperkenankan masuk area sekitar Cepuri Parangkusumo. Parangkusumo, salah satu objek wisata di kawasan Parangtritis, kerap didatangi wisatawan yang ingin melakukan ritual tiap Selasa dan Jumat Kliwon.

“Kalau ada yang tidak menggunakan masker kami suruh pulang lagi.  Kami perketat soal protokol kesehatan,” ucap Sarwoko, Selasa (18/8/2020).

Parangkusumo berada di Dusun Mancingan dan Sarwoko adalah kepala dusunnya. Selain Parangkusumo, sejumlah objek wisata di Parangtritis adalah Gumuk Pasir, Pantai Pelangi, Depok, Laguna Depok, dan Pantai Cemoro Sewu.

BACA JUGA: Bangunan Mirip Candi Ditemukan di Piyungan, Diduga Terhubung dengan Bangunan Abad Ke-9

Area masuk Parangkusumo dijaga sejak sore hari hingga dini hari. Bukan hanya mendisiplinkan wisatawan,  warga setempat juga mendisiplinkam diri untuk tetap menjalankan protokol kesehatan seperti menyediakan tempat cuci tangan, mengenakan masker, dan menjaga jarak.  Pelaku usaha kuliner juga sudah menata tempat duduk agar pengunjung bisa menjaga jarak atau physical distancing.

Sarwoko dibantu tujuh orang yang masuk dalam barisan gugus tugas. Karang taruna dan pemuda setempat juga turut serta melakukan razia. “Kami melakukan ini sukarela tanpa dibayar,” ucap dia.

Dusun Mancinhan dihuni 545 kepala keluarga atau sekitar 2.000 jiwa. Dusun itu paling banyak penduduknya dibandingkan 10 dusun lainnya seperti, Dusun Kretek, Sono, Samiran, Bungkus, Depok, Duwuran, Grogol VII. sampai Grogol X.

BACA JUGA: 120 Tenaga Kesehatan di Bantul Terkonfirmasi Positif Covid-19

Sarwoko mengatakan razia bersifat persuasif, tidak ada sanksi yang diberikan pada pelanggar.  Namun sejauh ini imbauan itu cukup efektif.  Terbukti sampai sekarang belum ditemukan warga yang terkonfirmasi positif kena virus Corona.

Warga setempat yang pulang dari luar daerah juga diwajibkan untuk isolasi dan menjalani rapid test yang difasilitasi Dinas Kesehatan Bantul.  Imbauan lainnya adalah larangan warga untuk berjabat tangan dengan wisatawan atau pengunjung di Pantai Patangtritis dan sekitarnya.  Sebab jabat tangan merupakan salah satu potensi penularan Covid-19.

“Warga kami sudah komitmen untuk menghindari jabat tangan dengam warga luar dusun apalagi dengan wisatawan,” kata Sarwoko.

BACA JUGA: Viral Baju Adat China di Uang Baru Rp75.000, Begini Penjelasan BI

Meski Desa Parangtritis sejauh ini terbebas dari virus Corona, Kecamatan Kretek secara umum masuk dalam zona oranye. 

Artinya penyebaran Covid masuk kategori sedang.  Data suspek per 17 Agustus 2020 di Kecamatan Kretek ada 54 orang,  probable 11 orang.  Sementara yang terkonfirmasi positif Covid-19 di Kretek lima orang. Dari jumlah tersebut,  satu orang meninggal dunia dan satu lainnya sembuh.  Jadi saat ini tinggal tiga orang yang positif. Sementara pelaku perjalanan tercatat ada 236 orang.

Adapun Gugus Tigas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bantul mencatat sampai 17 Agustus 2020 ini total suspek mencapai 1.184 orang dan probable 512 orang.  Dari jumlah itu terkonfirmasi positif 327 orang,  sembuh 249 orang,  isolasi 69 orang,  dan meninggal dunia sembilan orang.

BACA JUGA: Muncul Klaster Pernikahan, Satu RT di Sukoharjo Diisolasi

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantul,  Sri Wahyu Joko Santoso, mengimbau masyarakat tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19 meski di wilayah zona hijau.  Sebab penularan virus Corona saat ini didominasi orang tanpa gejala (OTG) sehingga tidak diketahui siapa yang membawa virus.

Oki, sapaan akrab Sri Wahyu Joko Santoso mengatakan virus, bukan hanya virus Corona, ditularkan oleh makhluk hidup atau bukan pda benda mati.  “Virus yang ada pada benda mati tidak akan bertahan lebih dari satu jam terutama di lingkungan yang paparan mataharinya banyak,” kata Oky.

Menurut Oki, penularan virus Corona terdapat beberapa faktor. Yang pertama dalah soal jumlah virus yang menyerang, kedua ada pintu masuk penularan, dan ketiga faktor ketahanan tubuh.

BACA JUGA: Penggerak Massa dalam Penyerangan Atas Nama Agama di Mertodranan Solo Ditangkap

Ia mengatakan di suatu daerah terbuka atau tidak terdapat banyak bangunan maupuun tidak banyak orang dalam satu ruangan atau bangunan, konsentrasi virus lebih rendah. Sementara, embusan angin cukup kencang dan paparan sinar Matahari dalam jumlah banyak membuat konsentrasi virus menjadi terurai. Ketika konsentrasi virus rendah, maka penularannya juga rendah

“Kalau dikaitkan dengan Parangtritis itu banyak area terbuka, banyak angin, dan paparan sinar Matahari, itu bagus,” kata Oki.

Selain itu, kata Oki, ada kemungkinan belum terdeteksi karena belum ada rapid test Covid-19 massal di kawasan Parangtritis.