Selama Pandemi Kafe Tetap Sepi, Ngopi Tetap Jadi Tradisi

Pengunjung salah satu kafe yang berada di Sanggrahan, Kecamatan Depok, Sleman, menghabiskan waktu di kafe tersebut, belum lama ini. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
20 Agustus 2020 10:17 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Imbauan social & physical distancing untuk memutus penularan Covid-19 membuat sebagian besar orang waswas berkerumun, tak terkecuali untuk ngopi dan menongkrong di kafe dan kedai kopi. Tak pelak ini membuat banyak kedai kopi harus memutar otak agar usahanya bisa tetap bertahan tanpa harus melanggar protokol kesehatan.

Bagi sebagian orang, menongkrong sambil minum kopi dan bercengkerama sudah bukan lagi sekadar penghabis waktu. Beberapa tahun terakhir, aktivitas itu bahkan sudah menjadi tren gaya hidup, khususnya bagi generasi milenial.

Saat ini orang datang ke kedai kopi, sudah bukan lagi hanya untuk menikmati secangkir kopi, tetapi mereka datang untuk saling bercengkerama dan bertukar pikiran.

Masyarakat Indonesia, khususnya anak-anak milenial saat ini terbiasa mencari sebuah tempat yang bagus (instagramable) untuk berfoto lalu mengunggahnya di media sosial. Tak jarang bahkan mereka lebih mementingkan tempat yang bagus dan unik ketimbang rasa minuman kopinya.

Karena mereka mencari tempat yang nyaman untuk berdisukusi, Berbeda dengan para penikmat kopi, mereka berkeliling kota untuk mencari kedai-kedai kopi yang memiliki cita rasa kopi yang enak. Para penikmat kopi tidak mementingkan tempat tetapi mementingkan rasa.

Salah satunya adalah Imas Indra Hapsari. Selam work from home (WFH), dia nyaris selalu memerlukan beberapa cangkir kopi agar bisa tetap produktif.

Kepada Harian Jogja, dia berkisah, beberapa tahun lalu, menongkrong sembari ngopi di kedai kopi adalah kegemarannya. Di kedai kopi, dia mengaku bisa betah berjam-jam. Tak hanya bercengkerama, dia acap berada di kedai kopi untuk bekerja.

Akan tetapi setelah kedai kopi kian dijejali anak muda, pria yang sehari-hari bekerja sebagai content writer itu pun memilih untuk bekerja di rumah.

Sejak itulah dia memilih membeli kopi dari kedai kopi untuk diminum di rumah. Dia pun terus konsisten membeli kopi dalam kemasan gelas plastik. Dalam sepekan, Imas membeli kopi dalam bentuk gelas plastik sebanyak 3-4 kali.

Beberapa pekan terakhir, muncullah tren baru cara minum kopi secara take away. Kedai kopi tak lagi hanya menyediakan kopi beragam olahan dalam kemasan gelas, tetapi dalam kemasan botol literan.  Imas pun penasaran, sesekali dia menjajal kopi kemasan literan itu. “"Kalau kopi literan aku beli baru dua kali. Aku membeli kopi literan murni karena kebutuhan untuk menjaga semangat kerja,” kata dia, Selasa (11/8/2020).

Bertahan Hidup

Memang, Maret 2020 menjadi bulan yang kelam bagi Ryan Zulqudsie, pemilik Kopi Literan Yk. Bisnis jasanya sama sekali tak ada pemasukan. Melihat kondisi itu, ditambah dengan belum jelasnya pandemi akan berakhir, Ryan pun mengambil langkah cepat. Pada awal April dia mengajak sang adik bekerja sama membuat inovasi kopi dengan kemasan botol ukuran satu liter.

"Saya lihat salah satu teman saya, dia pemilik kedai kopi di Jakarta. Dia mengunggah inovasi kopi literan. Saya ajak adik saya bikin Kopi Literan Yk," kata Ryan, Senin (10/8).

Ryan kemudian mengamati perkembangan kedai kopi di Jogja. Ternyata belum ada yang membuat inovasi itu. Setelah berlatih meracik berbagai jenis kopi selama seminggu penuh, Ryan langsung merilis Kopi Literan Yk di Instagram dengan produk kopi kemasan satu liter. Satu botol bisa didapatkan dengan harga Rp30.000 hingga Rp60.000.

Tak pelak, produk itu langsung diserbu pelanggan. Sebanyak 150 botol laku terjual pada akhir April. Setelah produknya dibahas oleh salah satu influencer idola para pecinta kopi, penjualan langsung meledak melampaui 150 botol per bulan.

Ryan mengaku mayoritas pelanggannya adalah orang-orang yang hobi menongkrong di kedai kopi yang kini tak lagi bisa ngopi di kedai lantaran pandemi. Satu pelanggan, kata dia, bisa memborong berbotol-botol kopi untuk persediaan di rumah saat menjalani WFH.

Fakta yang dialami Ryan itu ternyata memang benar adanya. Berdasarkan polling yang dilakukan Harian Jogja di media sosial selama 24 jam, Selasa (11/8). Dari total 89 respondens, tercatat sebanyak 51,7% memilih untuk ngopi di rumah; sebanyak 33,7% memilih untuk menongkrong di rumah dan terkadang di kedai kopi; sedangkan sisanya, 14,6% tetap setia menongkrong di kedai kopi.

Tak jauh beda, Manajer Hayati Specialty Coffee, Prasida Yogi Iswara, mengatakan inovasi kopi literan memang langkah tepat untuk mendongkrak penjualan yang lesu selama masa awal pandemi. Pada Maret, penjualan di Hayati Coffee anjlok 40%.

Yogi lalu mengevaluasi media sosial terhadap beberapa kedai kopi di Jakarta. Dia melihat inovasi kopi literan banyak dilakukan pelaku bisnis kedai kopi di Jakarta untuk bertahan di tengah pandemi.

Saat merilis produk kopi literan, penjualan berangsur normal. "Semua produk kami seperti kopi, coffee mocktail, tea mocktail kami jual dalam bentuk botol satu liter mulai April. Per bulan terjual 40 botol dengan harga Rp70.000 hingga Rp100.000," kata Yogi.

Relasi Komunal

Tak dimungkiri, kebiasaan menongkrong di Indonesia, termasuk salah satunya di kedai kopi kental karena adanya tradisi komunalitas. Masyarakat Indonesia senang berkegiatan secara bersama-sama, misalnya mengerjakan kegiatan kreatif, berdiskusi, hingga bekerja bersama-sama.

Tak heran ketika penulis buku sosial Margaret Clark dan Judson Mills dalam bukunya A theory of communal (and exchange) relationships (2011) menganggap relasi komunal lebih sehat secara psikologis dibanding relasi nonkomunal atau yang bisa disebut pula relasi pertukaran sosial. Semakin banyaknya relasi nonkomunal berkonsekuensi melemahkan interaksi dan interdepedensi kehidupan bertetangga yang berdampak negatif terhadap psikologis dan fisik bagi individu-individu di dalamnya.

Sosiolog dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Bambang Prihandono membenarkan kedai kopi yang menjamur di DIY juga tak lepas dari kentalnya tradisi komunalitas di DIY. Biasanya tradisi ini lebih kuat dimiliki oleh anak muda.

"Saat pandemi, tentunya aktivitas di luar rumah berkurang, termasuk nongkrong di kedai kopi juga. Nanti bisa terjadi fenomena yang disebut perpindahan ruang komunalitas ke dunia maya. Misalnya zoom meeting. Ruangnya pindah, komunalitasnya sama," kata Bambang.

Bambang memprediksi ketika pandemi sudah membuat banyak manusia beradaptasi, kedai kopi akan kembali ramai. Masyarakat tetap akan menggunakannya sebagai media untuk menjalankan tradisi komunalitas.