Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
\r\nPelaku seni karawitan, Pardiman Djoyonegoro (tiga dari kiri), memberi paparan dalam Temu Seniman dan Budayawan DIY 2020 di Taman Budaya Yogyakarta, Kecamatan Gondomanan, Kamis (27/8/2020).-Harian Jogja/Lugas Subarkah
Harianjogja.com, JOGJA—Menjadi tantangan tersendiri bagi dunia karawitan yang dituntut semakin adaptif dalam dunia yang semakin terdigitalisasi ditambah dengan situasi pandemi Covid-19.
Hal itu menjadi pokok pembicaraan dalam Temu Seniman dan Budayawan DIY 2020 di Taman Budaya Yogyakarta (TBY), Kecamatan Gondomanan, Kamis (27/8/2020).
Sebanyak tiga pembicara dihadirkan untuk memantik diskusi dalam kegiatan ini, meliputi Dosen Karawitan Institut Seni Indonesia Anom Suneko, Dosen karawitan ISI Bayu Wijayanto dan pelaku seni karawitan, Pardiman Djoyonegoro.
Peserta diskusi terbatas dan menerapkan protokol kesehatan dengan mendaftarkan data diri, wajib memakai masker dan menempati kursi yang sudah ditentukan.
Anom menjelaskan pandemi Covid-19 memukul semua bidang kesenian tak terkecuali karawitan. Meski demikian, ia berharap pelaku karawitan untuk tidak diam begitu saja. “Kalau karawitan keterjang Covid-19 diam, ya tidak jadi. Gagal,” ujarnya, kemarin.
Pandemi Covid-19 bisa menjadi momentum yang tepat bagi dunia karawitan untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, yang memungkinkan bertemunya pengrawit dengan penonton tanpa bertatap muka langsung. Penyesuaian ini jika tanpa Covid-19, mungkin baru akan terpikirkan lima atau 10 tahun mendatang.
Hal ini menjadi peluang bagi karawitan untuk dapat lebih diterima oleh generasi muda. Menjadi tugas semua untuk menghubungkan karawitan sekarang, besok dan ke depan. “Sudah saatnya karawitan tidak hanya waton mlaku. Memang harus berkembang. Harus membuat gamelan menjadi pilihan bagi generasi muda,” ungkap Anom.
Kendati demikian, karawitan tetap harus memperhatikan esensi agar tidak sembarang menarik perhatian generasi muda. Karawitan memiliki cara tersendiri untuk dinikmati, tidak seperti kebanyakan konten youtube. Hal ini lah yang menjadi tantangan lintas disiplin bagaimana karawitan bisa menyesuaikan dengan perkembangan zaman namun tetap bisa dinikmati.
Pardinam menuturkan pandemic Covid-19 menjadi peluang bagi pelaku seni karawitan untuk tidak menyerah. Di samping menjaga kesehatan, pelaku seni karawitan juga harus tetap berkarya dengan berbagai penyesuaian.
Melalui media daring, karawitan justru bisa lebih jauh mempersatukan para seniman karawitan di berbagai daerah dan berbagai generasi. “Semoga tetap sehat, Covid-19 menjadi peluang untuk kita agar tidak menyerah,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
WNI tertentu kini bisa menggunakan eTA untuk ke Kanada tanpa visitor visa. Simak syarat, biaya, masa berlaku, dan cara mengajukan eTA.
Volkswagen recall 208.724 SUV di AS karena baut rak kemudi bisa korosi dan patah. Cek Tiguan, Atlas, dan Audi Q3 yang terdampak.
Erin Wartia resmi mengganti username Instagram menjadi @erintrygina setelah proses dengan Meta. Nama Taulany kini tak lagi digunakan.
Kaspersky menemukan ransomware Payload yang menyalahgunakan Group Policy Active Directory untuk menguasai komputer perusahaan tanpa mengenkripsi file.
Dosen Unisa Yogyakarta mengusulkan skema berkeadilan bagi PTS jika kuliah gratis di PTN diterapkan pemerintah.