Desa Wisata Blue Lagoon Siap Dikunjungi Wisatawan

Sejumlah penari membawakan tari klasik dengan mengenakan face shield, Minggu (23/8/2020). - Istimewa/Dispar Sleman
28 Agustus 2020 22:17 WIB Yudhi Kusdiyanto Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Desa Wisata Blue Lagoon di Desa Wedomartani, Kecamatan Ngemplak, terpilih menjadi lokasi uji coba penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB). Uji coba yang diinisiasi Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Badan Promosi Pariwisata Sleman (BPPS) dan pengelola Blue Lagoon, digelar Minggu (23/8/2020).

Acara uji coba dikemas dalam pentas seni dan dialog interaktif yang melibatkan 30 peserta Press Tour Blogger dengan Kepala Dispar Sleman, Sudarningsih Msi; Kepala BPPS, Guntur Eka Prasetya; Pengelola Desa Wisata Blue Lagoon, Suhadi; dan perwakilan Blogger Yogya, Rokhmadu Inuhayi.

"Kami sangat memerlukan peran serta para blogger untuk kembali menghidupkan pariwisata secara bertanggung jawab di masa adaptasi kebiasaan baru,” kata Sudarningsih, seperti dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Jumat (28/8).

Menurut Sudarningsih, di era milenial ini, peran aktif blogger sebagai penyebar informasi yang benar sangat diperlukan. Media sosial telah mendapat tempat di hati masyarakat, sehingga perlu dirangkul untuk diajak bekerja sama sebagai saluran informasi yang tidak menyesatkan.

Oleh karena itu, Dispar dan BPPS mengajak kalangan blogger untuk bersinergi memberikan informasi pariwisata yang mendidik dan memotivasi masyarakat agar tidak takut berwisata, namun tetap sehat dengan mematuhi protokol kesehatan di era AKB. "Melalui ekspose di blog dan media sosial, mari ajak masyarakat menghadapi dan melawan pandemi Covid-199 dengan aktivitas sehat," kata Sudarningsih.

Pengelola Desa Wisata Blue Lagoon, Suhadi, menyatakan pihaknya telah mengupayakan standar protokol kesehatan seperti menyiapkan tempat cuci tangan, petugas selalu mengenakan masker dan face shiled, dan wisatawan terus diingatkan agar selalu pemakaian masker jaga jarak.

Dalam uji coba ditampilkan tiga tarian tradisional, di mana seluruh penari dan penabuh gamelan mengenakan face shield dan berjarak satu meter. "Ternyata penampilan tari menjadi sangat kekinian, tetap artistik dan photogenic," kata seorang blogger, Faida Zuhria.