Begini Kronologi Lima Pegawai KUA Danurejan Positif Covid-19

Petugas Dinas Kesehatan Kota Jogja meneliti sampel darah para pedagang dalam tes cepat atau Rapid Diagnostic Test (RDT) Covid-19 di Pasar Beringharjo, Jogja, Rabu (03/06/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
07 September 2020 18:47 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Terungkapnya lima staf KUA Danurejan Kota Jogja positif Covid-19 berawal dari seorang karyawan yang biasanya berjaga melakukan pemeriksaan suhu tubuh. KAU tersebut saat ini terpaksa ditutup dan layanan dialihkan ke Kanwil Kemenag Kota Jogja.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi menjelaskan ditemukannya lima staf KUA Danurejan positif corona bermula saat seorang staf mengalami gejala mengarah Covid-19. Setelah melakukan pemeriksaan ternyata staf tersebut positif Covid-19. Dijelaskan Heroe, staf yang pertama positif Covid-19 merupakan staf adminitarasi yang bertugas melakukan pemeriksaan suhu tubuh.

BACA JUGA : Tim UGM Temukan Virus Corona Telah Bermutasi di Jogja

Saat ini Tim Gugus Tugas Penanganan Covid - 19 sedang menelusuri kemana saja staf KUA melakukan mobilisasi. Termasuk Menikahkan atau menceraikan orang. Menurut catatan staf KUA Danurejan sempat menikahkan warga pada 17 Agustus 2020.

"Belum bisa disebut klaster baru, karena memang di satu kantor saja," katanya Senin (7/9/2020).

Sebelumnya Heroe menyampaikan KUA Danurejan ditutup hingga 13 September 2020 menyusul adanya staf yang terkonfirmasi positif Covid-19. "Kami belum memutuskan sampai dengan tanggal 13 September 2020, karena dari tujuh staf, lima orang positif," ujarnya.

Heroe menerangkan penutupan KUA Danurejan dilakukan sejak Jumat (4/9/2020). Sementara ditutup, pelayanan KUA Danurejan dialihkan ke kantor Kemenag Kanwil Kota Jogja.  "Tutupnya Jumat Sabtu Minggu, terus hari Sabtu kita perpanjang sampai Senin, setelah ada tambahan lagi kita tutup sampai 13 September 2020," katanya.

BACA JUGA : Pedagang di Malioboro Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi

Adapun dari lima orang staf yang positif, dua orang berdomisili di Bantul. Sementara tiga staf lainnya berasal dari Kota Jogja. Heroe menuturkan fakta tersebut membuat tracing sulit dilakukan karena keluarga berada di luar kota semua. "Tetapi sebenarnya domisilinya bukan Kota semua, keluarganya di luar kota semuanya dari daerah zona merah di Jawa Tengah," ujarnya.