Pedagang di Malioboro Meninggal Dunia Setelah Terinfeksi Corona

Pengunjung dan warga Malioboro menghentikan aktivitas untuk menyaksikan gaok di Pasar Beringharjo berbunyi, Senin (17/8/2020). - Harian Jogja/Lugas Subarkah\\n
06 September 2020 17:37 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Setelah beberapa bulan dibuka, kasus positif Covid-19 muncul dari kawasan Malioboro. Seorang Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan tas dan dompet di Zona 3 Malioboro terkonfirmasi positif dan meninggal dunia.

Ketua Harian Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja, Heroe Poerwadi menyampaikan bahwa pedagang tersebut sejak 20-26 Agustus 2020 masih aktif berjualan di Malioboro dari pagi hingga malam. Selanjutnya pada 27 Agustus 2020, pedang yang bersangkutan merasa demam, lemas dan batuk sehingga tidak berjualan mulai terhitung tanggal itu.

Pada 1 September 2020 PKL tersebut memeriksakan diri ke Puskesmas, selanjutnya pada 2 September 2020 dibawa ke rumah sakit untuk menjalani Rapid Diagnostic Test (RDT) dan hasilnya reaktif. "Tanggal 4 [September] hasil swab keluar konfirmasi positif dan meninggal sore harinya, dimakamkan malam hari itu juga di Kulonprogo," jelasnya.

Heroe mengatakan upaya tracing dilakukan sejak Sabtu (5/9/2020) pagi. Gerak cepat dilakukan Tim Gugus Tugas dengan meliburkan dua ruas PKL di Zona 3 sebanyak 8 PKL. "Kedua ruas itu jualannya berdekatan dengan pedagang PKL yang berumur 68 tahun [yang positif Covid-19]," jelasnya. Sejak Jumat (4/9/2020) malam tracing terhadap kontak erat PKL tersebut telah dilakukan. "Baik yang ada di sekitar lapak jualan PKL maupun yg ada di sekitar rumah tinggalnya di Wilayah Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta," imbuhnya.

Dari hasil tracing diketahui anggota keluarga yang melakukan kontak yakni anak, menantu, dan cucu. "Anak dan menantu yang mengantar berobat ke puskesmas dan yang sempat menggantikan jualan," terang Heroe. Dia melanjutkan bahwa orang yang kontak erat dengan pasien mulai dari keluarga maupun rekan PKL Malioboro diminta untuk isolasi mandiri termasuk warga yang salat berjemaah bersama pasien yang bersangkutan.