Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini 22 September, Dominan Berawan
Prakiraan cuaca Jogja hari ini, Selasa 22 September 2026, dominan berawan. Suhu di DIY diprediksi mencapai 32 derajat Celsius.
Ilustrasi. /Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA— Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Jogja terus berupaya memutus rantai penyebaran Covid-19 salah satunya kasus positif pedagang kaki lima (PKL) Malioboro. Selama dua hari terakhir sejak diumumkannya PKL Malioboro meninggal dunia positif Covid-19, Minggu (6/9/2020) beredar broadcast (BC) melalui media sosial sejumlah nama yang kontak erat dengan PKL tersebut. Akantetapi nama-nama yang beredar itu justru tidak sepenuhnya valid.
Salah Pedagang yang namanya masuk dalam broadcast tersebut adalah Vivi Trisnasari. Ia adalah pemilik toko Nam Hien sekaligus Ketua RT35/RW09 Sosromenduran, Gedongtengen, Kota Jogja. Vivi mengaku bingung dengan adanya BC yang ia dan ibunya berada di urutan teratas sebagai pihak yang kontak erat dengan PKL meninggal.
Baca juga: Muncul Lagi Kasus Baru, Lurah di Kotabaru Jogja Terinfeksi Corona
Padahal sudah berbulan-bulan keluarganya tidak pernah bertemu dengan PKL tersebut. Selain itu PKL tersebut sudah dua pekan tidak ke Malioboro sebelum akhirnya dikabarkan meninggal dunia. Ia tidak menampik bahwa PKL tersebut berjualan di depan tokonya.
“Saya tidak dekat dengan almarhum, jadi sejak ada corona ini sama sekali saya tidak pernah kontak, bisa dicek di CCTV. Nama-nama [yang beredar di BC] itu tidak valid, ada juga seorang PKL yang dimasukkan di kontak erat, padahal lapaknya jauh [dengan lapak PKL positif Covid-19]. Saya tidak tahun info pelacakan bisa keluar [ke publik], padahal sama sekali belum terkonfirmasi ke saya,” ungkapnya Selasa (8/9/2020).
Baca juga: Total 5 Pembeli Soto Lamongan Positif Corona, 2 di Antaranya Pegawai Pemkot Jogja
Ia menceritakan beredarnya BC itu berawal saat pelacakan yang dilakukan oleh petugas pada Sabtu (5/9/2020) siang sekitar pukul 12.30 WIB ke depan tokonya. Namun saat itu ia tidak bertemu dengan petugas. Baru kemudian sekitar pukul 15.30 WIB di hari yang sama bisa bertemu dengan petugas tracing. Hanya saja BC berisi nama keluarganya dalam kontak erat kasus positif justru sudah beredar di lewat pesan berantai sebelum ia dikonfirmasi petugas di sore itu.
“Jadi dari rentang waktu jam 12.30 sampai 15.30 itu ternyata info pelacakan pertama itu keluar, padahal info pelacakan itu belum terkonfirmasi ke saya sebagai Ketua RT dan pemilik toko,” ujarnya.
Vivi mengakui ada dampak sosial yang besar akibat BC tersebut. Soal sepinya toko, menurutnya sudah pastik karena nama tokonya disebut. Namun keluarganya mendapatkan stigma negatif di tengah masyarakat yaitu banyak yang menghindari.
“Saya enggak masalah untuk toko. Tetapi sebagai pengurus RT kami ingin meluruskan supaya semua bisa ditangani, bahwa pelacakan harus tepat. Karena ini dampaknya luar biasa, saudara saya ikut kena, bahkan ada yang rumahnya ditutup tidak boleh keluar sama warga,” ujarnya.
Kepala Puskesmas Gedongtengen Kota Jogja Tri Kusumo memastikan bahwa nama Vivi Trisnasari dan ibunya tidak masuk dalam kontak erat dari hasil pelacakan kedua. Ia mengakui, beberapa data broadcast tersebut adalah data yang diambil oleh timnya yang melakukan survey di lapangan. Data pelacakan pertama itu justru bocor ke publik melalui pesan berantai.
Parahnya pesan yang beredar justru dibumbui dengan sejumlah ajakan untuk menghindari Malioboro dan sejenisnya, sehingga yang menjadi hoaks. Pihaknya sudah membuat laporan ulang terkait nama-nama yang kontak erat untuk segera ditindaklanjuti. Ia berharap situasi menjadi kondusif dan tidak ada warga yang terkena stigma negatif.
“Kami sudah bertemu melakukan koordinasi kami sudah sampaikan permintaan maaf, bahwa ini di luar kendali kami, ini pembelajaran besok kalau melakukan tracing. Yang jelas Mbak Vivi dan ibunya ini tidak pernah kontak dengan yang positif Covid-19,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Prakiraan cuaca Jogja hari ini, Selasa 22 September 2026, dominan berawan. Suhu di DIY diprediksi mencapai 32 derajat Celsius.
Jalan Palagan Sleman rusak di tujuh titik dan butuh perbaikan drainase. DPRD DIY mendorong anggaran sekitar Rp24 miliar melalui APBD.
Stunting di Giwangan tercatat 6,25 persen. Kelurahan membentuk Tim SIGAB Stunting untuk mempercepat deteksi dan pendampingan keluarga.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Harga cabai rawit di sejumlah pasar rakyat Sleman tembus Rp70.000 per kilogram akibat pasokan berkurang selama kemarau panjang.
Performa Intel Core Ultra, keamanan kelas bisnis, dan ketahanan MIL-STD-810H dalam laptop kerja yang ringan dan terjangkau untuk profesional