Makna Akar Hening di Tengah Bising pada FKY 2020

Konferensi Pers kegiatan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2020 dengan judul 'Akar Hening di Tengah Bising' di kompleks Disbud DIY, Senin (7/9/2020). - Dok
09 September 2020 08:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Nomenklatur Festival Kebudayaan Yogyakarta FKY sejak dua tahun terakhir ini mengalami perubahan. FKY dulu yang artinya Festival Kesenian Yogyakarta saat ini berubah nama menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta.

Kabid Adat Tradisi Lembaga Budaya dan Seni Disbud DIY, Eni Lestari, menjelaskan jika sejak 2019, FKY mengalami perluasan area wilayah menjadi Festival Kebudayaan Yogyakarta. "K artinya bukan lagi kesenian tapi kebudayaan," ujar Eni, Selasa (8/9).

Mulanira yang diangkat sebagai tema besar FKY 2020 ini merupakan kelanjutan dari Mulanira pertama yang diadakan pada tahun 2019. Dengan kondisi pandemi Covid-19 ini, FKY juga mengalami perubahan jadwal.

Baca juga: FKY Ajak Warga Berpartisipasi Lewat Kompetisi Mulanira

"Dulu, FKY digelar selama 18 hari. Namun, imbas dari pandemi Covid-19 ini FKY digelar hanya selama enam hari. 21 sampai dengan 26 September 2020," sambung Eni.

Bukan berarti dengan penyusutan hari diselenggarakannya FKY kualitasnya juga ikut menurun. Disbud DIY ingin kualitas FKY tetap baik dan layak sebagai sebuah festival kebudayaan di Jogja.

"FKY juga harus dilaksanakan secara daring maupun luring dikarenakan panitia harus menerapkan standar protokol pencegahan penularan Covid-19," imbuh Eni.

Eni menambahkan, media juga ikut berperan penting dalam diselenggarakannya FKY. Pasalnya, media mempunyai gaung yang signifikan kaitannya dengan publikasi ke masyarakat. Oleh karena itu, Eni juga tidak lupa menggandeng media cetak maupun elektronik untuk mendukung kegiatan FKY agar bisa menyampaikan konten-konten FKY.

Baca juga: Keren, Rumah Kecil di Sudut Jakarta Ini Berhasil Raih Penghargaan Internasional

"Kami berharap teman-teman media juga ikut berperan serta dalam mempublikasikan FKY. Selain itu, masih banyak juga festival kebudayaan lainnya seperti sendratari, teater, dan lainnya di bulan Oktober mendatang," terang Eni.

FKY 2020 Butuh Adaptasi di Tengah Pandemi

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kebudayaan DIY Sumadi mengatakan jika FKY 2020 kali ini dituntut harus membaca situasi dan kondisi serta tantangan adaptasi ruang hidup dalam situasi pandemi. Pandemi Covid-19 yang menjangkiti semua belahan dunia memaksa lahirnya kebiasaan baru, begitu juga pagelaran FKY 2020.

Lebih lanjut, festival yang sebelumnya digelar secara leluasa dalam mengundang kerumunan kini harus diselenggarakan dengan format yang berbeda. Semua pertunjukan dan pameran disajikan dengan konsep daring melalui website www.fkymulanira.com dan luring dengan menghadirkan program melalui televisi dan radio.

"Laman website www.fkymulanira.com akan menjadi venue utama FKY 2020. Meskipun secara garis besar akan digelar dengan konsep daring dan luring, khusus untuk Pameran Seni Rupa akan tetap dihadirkan secara langsung dengan batasan kunjungan dan protokol kesehatan," ujar Sumadi, Senin (7/9/2020).

Sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, FKY 2020 akan diselenggarakan selama 6 hari mulai tanggal 21 sampai dengan 26 September 2020. Judul "Akar Hening di Tengah Bising" di FKY 2020 dimaknai sebagai pengingat, bahwa seriuh apapun kondisi yang harus dijalani seperti situasi pandemi seperti sekarang, masyarakat tetap memiliki ruang dalam mengupayakan produksi pengetahuan, memperlebar celah-celah ruang yang menghidupi kekuatan bertahan warga dan mempertajam daya baca.

"Akar yang bergerak hening seperti kita dalam diam namun tetap melakukan sesuatu yang menakjubkan di tengah situasi kondisi bising saat ini. Mengusung semangat yang sama di tengah pandemi Covid-19 ini, FKY harus tetap terselenggara seperti layaknya sebuah festival dengan mengikuti protokol kesehatan dan pemanfaatan teknologi digital," terang Sumadi.

Sementara itu, Direktur Utama FKY Paksi Raras Alit mengatakan jika transformasi FKY ke panggung virtual ini mempunyai tantangan tersendiri baginya. la menilai tak semua kegiatan seni dan budaya bisa dinikmati ketika medianya berganti.

"Contohnya pameran seni, pameran itu dinilai kehilangan rasa jika disajikan melalui virtual. Pengunjung pameran terbiasa menikmati secara detail karya-karya di pameran, untuk itu pameran seni rupa tetap dihadirkan secara langsung," tutur Paksi.