Ini Kelebihan Sabun Limbah Minyak Buatan UMKM Bantul

Pelaku UMKM pembuatan sabun dari limbah minyak. - Ist
09 September 2020 13:17 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Jika biasanya minyak jelantah (bekas pakai) dibuang begitu saja, di tangan Yomi Windriasni bersama komunitas bank sampah di Jambidan, Banguntapan, Bantul, salah satu limbah rumah tangga itu diubah menjadi sabun.

Bukan sembarang sabun, melainkan sabun yang diklaim mampu membersihkan noda membandel di pakaian dan bisa digunakan untuk mencuci kain batik dengan pewarna alami dan tak akan memudarkan warnanya.

"Sangat cepat membersihkan noda, terutama noda yang membandel. Kemudian, karena tidak menggunakan deterjen, jadi aman untuk ibu yang sensitif terhadap deterjen, biasanya timbul rasa panas," ujar Yomi dalam Program Pemberdayaan UMKM - Perempuan Wirausaha Tangguh dan Kreatif, Selasa (8/9/2020).

BACA JUGA : 49.000 Pelaku UMKM Bantul Diusulkan Memperoleh Bantuan 

Yomi mengatakan, sabun kreasinya yang bernaung di bawah label Sabun Langis itu juga tidak menggunakan pemutih dalam pembuatannya sehingga lebih aman untuk lingkungan.

Kemudian, karena minyak jelantah mengandung cukup banyak asam lemak, Yomi yang berlatar belakang pendidikan ilmu kimia itu tidak menyarankan penggunaan sabun Langis untuk tubuh.

Yomi pun menceritakan mengenai awal mula ia menciptakan sabun dari minyak jelantah itu. "Awalnya kami aktif dalam gerakan komunitas bank sampah. Pada November 2018 mulai kami mengolah minyak jelantah, karena memang limbah minyak jelantah ini banyak. Dalam satu bulan, di kegiatan bank sampah, kami bisa mengumpulkan sampai 40 liter minyak," katanya.

BACA JUGA : Pandemi, UMKM Bantul Mulai Bangkit

Ia memikirkan upaya mengolah limbah ini agar tidak mencemari lingkungan namun memiliki nilai ekonomis. Perlahan dia mulai bereksperimen. Dia membutuhkan waktu sekitar empat bulan untuk memformulasikan minyak jelantah menjadi sabun yang kini tersedia dalam bentuk batang dan cair.

"Upaya merisetnya butuh waktu empat bulan. Kemudian, kenapa sabun? Sebenarnya minyak jelantah sebagai bagian dari lemak yang menjadi bahan baku sabun. Proses produksi dua minggu hingga satu bulan," ujar Yomi.

Yomi termasuk salah satu pegiat UMKM yang terdampak pandemi COVID-19. Angka penjualan produknya turun signifikan hingga mencapai 50 persen.

Beberapa waktu lalu dia berpartisipasi dalam Program Pemberdayaan UMKM - Perempuan Wirausaha Tangguh dan Kreatif hasil gagasan Tokopedia bersama Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) dan Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil-Mikro (ASPPUK).

Melalui program itu, dia diajak untuk mulai berjualan memanfaatkan e-commerce sebagai salah satu cara untuk bertahan di tengah pandemi COVID-19 dan meningkatkan pendapatannya.

"Dengan program, Alhamdulillah saya jadi mengenal platform digital, mulai ada penjualan, lalu kami ada pendampingan terus supaya volume penjualan bisa lebih optimal. Kami didampingi dari awal, membuat akun lalu memotret produk yang menarik, sampai menyelesaikan pesanan. Itu mudah sekali diikuti, jadi kami bisa langsung memanfaatkannya," katanya.

BACA JUGA : UMKM Jogja Pemohon Bantuan Rp2,4 Juta Sudah Ribuan

Deputy Director Asosiasi Perempuan Pengusaha Usaha Kecil (ASPPUK), Mohammad Firdaus, menyambut positif program tersebut karena bukan hanya memperkenalkan cara pemasaran daring pada para pelaku usaha, tetapi juga adanya pendampingan untuk mereka.

"Hampir di atas 50 persen, perempuan yang kami dampingi belum menggunakan media online sebagai sarana marketing. Program ini membuka, awal yang baik. Program ini memberi berkah saatnya pelaku usaha kecil mikro masuk dalam dunia pemasaran secara online," ujar dia.

Sabun Langis batang dibanderol Rp15 ribu per batangnya, sementara untuk sabun cair dia jual Rp25 ribu per botol dan sudah tersedia di salah satu e-commerce yang belakangan ini menjadikan grup idola K-pop Bangtan Sonyeondan (BTS) sebagai brand ambassador-nya itu.

Penjualan produknya kini justru paling banyak ke luar DIY seperti Jakarta dan Surabaya. Dalam waktu dekat, Yomi berencana mengeluarkan produk sabun berbentuk bubuk karena menilai adanya pontensi pasar yang besar.

Sumber : Antara