Profil Gama Group, Investor Swasta yang Akan Bangun Tol Jogja-Solo Senilai Rp26,6 Triliun

Gama Tower di Kuningan, Jakarta. - Dok. Westin Hotel
11 September 2020 06:27 WIB Ilman A. Sudarwan Jogja Share :

Harianjogja.com, JAKARTAPenandatanganan proyek Tol Solo—Jogja—YIA Kulonprogo bernilai Rp26,6 triliun menarik perhatian. Pasalnya, proyek tol ini dikuasai swasta, memasang target agresif di tengah pandemi dan memerlukan investasi besar.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menjelaskan rencananya tol baru ini tuntas pada 2023. Badan usaha pada ruas ini adalah PT Jogjasolo Marga Makmur (JMM) dengan masa konsesi 40 tahun.

JMM ini merupakan kongsi swasta dan BUMN yang terdiri dari Gama Group bersama PT Daya Mulia Turangga (DMT) dengan pemilikan 51 persen. Serta PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) masing-masing 25 persen dan 24 persen.

“Pemenang tender proyek ini adalah kontraktor swasta sebagai leader dan didukung BUMN karya. Proyek ini diharapkan mulai konstruksi Oktober 2020 dan ditargetkan paling lambat Oktober 2023 sudah beroperasi,” jelas Basuki, Rabu (9/9/2020).

Lalu siapa Gama Group, swasata yang dimaksud Menteri BasukI? Apalagi proyek tol ini membutuhkan investasi sangat besar yakni Rp26,6 triliun. Apalagi peran swasta dalam proyek investasi besar namun pengembalian jangka  panjang ini tidak banyak.

BACA JUGA : Kontrak Proyek Tol Jogja-Solo & Jogja-YIA Diteken Hari Ini

Gama Group menambah semarak keikutsertaan swasta di sektor jalan tol. Bergandeng dengan nama besar Salim, Bosowa, hingga Aastra.

Gama Group merupakan perusahaan yang didirikan oleh Martua Sitorus bersama saudaranya, Ganda Sitorus. Perusahaan ini mulanya bergerak di bidang kelapa sawit dan belakangan mulai melebarkan sayapnya ke berbagai sektor, seperti properti dan semen.

 

Seiring waktu, biaya proyek Tol Solo-Yogyakarta menelan investasi Rp26,6 triliun./Dok. BPJT 

WILMAR

Martua sendiri lebih dikenal sebagai pendiri Wilmar International Ltd. yang berbasis di Singapura. Perusahaan tersebut didirikan Martua bersama rekannya Kuok Khoon Hong alias William pada 1991. Kuok tak lain merupakan keponakan dari pengusaha kenamaan Malaysia Robert Kuok.

Di perusahaan awalnya Martua mengambil peran sebagai Chief Operating Officer (COO), sedangkan Kuok Berperan sebagai Chairman & CEO. Perusahaan ini mulanya didirikan dengan nama Wilmar Trading Pte Ltd dengan jumlah modal disetor sebesar 100.000 dolar Singapura.

BACA JUGA : Begini Mekanisme Ganti Rugi Tanah yang Terdampak Jalan 

Proyek pertama yang dijalankan oleh Wilmar adalah PT Agra Masang Perkasa yang memiliki lahan perkebunan kelapa sawit seluas 7.000 hektare di Sumatra. Proyek ini kemudian diikuti oleh pendirian pabrik pengolahan inti sawit dengan kapasitas 50 MT per hari di Sumatra Utara dan penyulingan 700 MT per hari di Dumai, Indonesia.

Pada 2005 Wilmar juga mencaplok PT Cahaya Kalbar Tbk. yang berfokus di bisnis industri makanan. Perusahaan ini kemudian berganti nama menjadi PT Wilmar Cahaya Indonesia Tbk. dan masih tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan ticker CEKA.

Dalam perjalanannya Wilmar Trading berganti nama menjadi Wilmar International Limited pada 14 Juli 2006. Pergantian nama tersebut dilakukan setelah selesainya proses pengambilalihan kembali Elyzabeth Asia Pacific Limited.

Pada tahun yang sama, Wilmar International melakukan re-listing atau pencatatan ulang saham di Bursa Singapura, tepatnya pada 8 Agustus 2006. Melalui aksi korporasi ini, perseroan mendapatkan dana segar sekitar US$180 juta.

Perusahaan terus berkembang hingga pada akhir 2019 mengoperasikan dan memiliki lebih dari 900 pabrik di 32 negara, dan mempekerjakan lebih dari 90.000 tenaga kerja. Indonesia, China, dan Malaysia menjadi tiga negara dengan jaringan distribusi paling kuat milik Wilmar.

Sepanjang 2019, Wilmar mencatatkan laba bersih sebesar US$1,29 juta, meningkat 15 persen secara year on year (yoy). Kinerja perusahaan terdorong oleh kontribusi dari lini bisnis produk konsumer dan minyak tropis.

Meski begitu, per Juli 2018 Martua sudah tak lagi menjabat sebagai Direktur Non-Eksekutif Non-Independen. Pengunduran diri Martua itu juga diikuti dengan langkah serupa yang dilakukan oleh Hendri Saksti, saudara iparnya, yang sebelumnya menjabat sebagai Country Head Wilmar Indonesia.

 MArtua Sitorus

Martua Sitorus saat menjabat di Wilmar./Bloomberg - Munshi Ahmed

GAMA GROUP

Hengkangnya Martua dari struktur pengurus Wilmar membuat dirinya membesarkan konglomerasi dirinya melalui Gama Group. Perseroan tercatat memiliki perkebunan sawit dengan luas sekitar 250.000 hektare.

Grup ini juga memiliki fasilitas pengolahan kelapa sawit yang berlokasi di sejumlah daerah, seperti Riau, Jambi, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Barat.

Martua juga melebarkan sayap Gama Group dengan menggarap sektor bisnis properti. Langkah ini dilakukan lewat kemitraan yang dijalin dengan Ciputra Group.

BACA JUGA : Duit Lahan Tol Jogja-Solo Cair Tahun Ini, Begini Tanggapan

Salah satu proyek yang dimiliki Gama Group adalah East Jakarta City yang mencakup 15 menara Apartemen dan satu pusat perbelanjaan. Proyek yang berlokasi di Pulogadung, Jakarta Timur ini berada di bawah naungan bendera Gama Land.

Keduanya juga menjalin kemitraan pada proyek prestesius di Jl. H.R Rasuna Sahid atau kawasan Kuningan, Jakarta melalui proyek Gama Tower. Menara ini menjadi salah satu gedung tertinggi di Indonesia. Gedung ini memiliki ketinggian arsitektural 288,6 meter dan pucuk 310 meter, dengan 69 lantai di Jakarta.

Gama Group dan Ciputra Group juga berkongsi dalam proyek CitraLand Gama City di Medan, Sumatra Utara lewat kerja sama operasi. Dalam proyek di atas lahan seluas 211,57 hektare itu, Gama masuk lewat PT Karya Pancasakti Nugraha, sedangkan Ciputra lewat PT Ciputra Bangun Selaras.

Selain masuk ke sektor properti, Gama tercatat ikut merambah bisnis semen sejak 2011. Gama Group mendirikan perusahaan patungan dengan Singapura WH Investment dengan nama PT Cemindo Gemilang yang memproduksi merek Semen Merah Putih.

Perusahaan ini memiliki pabrik semen terpadu di Banten, dua pabrik penggilingan di Banten dan Jawa Timur, serta pabrik pengemasan semen di Kalimantan Barat. Cemindo Gemilang juga memiliki anak usaha bernama PT Motive Mulia yang memproduksi ready mix concrete dan precast concrete.

Lewat jejaring bisnisnya tersebut, Martua tercatat sebagai orang terkaya ke-13 di Indonesia versi majalah Forbes edisi 2019. Per hari ini, 10 September 2020, kalkulasi Forbes memperkiraan total kekayaan Martua mencapai US$1,9 miliar.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia