Lumpuh, Lansia di Kulonprogo Hidup Sebatang Kara di Rumah Tak Layak Huni

Tunah saat ditemui awak media di rumahnya di Dusun Diran, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Selasa (15/9/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
15 September 2020 16:47 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Seorang lansia di Kulonprogo bernama Tunah, 71, hidup sebatang kara di sebuah rumah tak layak huni. Beban hidup Tunah kian berat saat dirinya didiagnosis mengidap kelumpuhan. Sisa umurnya dihabiskan di atas ranjang.

"Mbah Tunah sudah tidak bisa beraktivitas. Siang dan malam hanya digunakan untuk tiduran, bahkan mandi dan buang air juga di situ [ranjang]," ucap adik Tunah, Rubiyem, 61, saat ditemui awak media di rumah Tunah, di Dusun Diran, Kalurahan Sidorejo, Kapanewon Lendah, Selasa (15/9/2020).

BACA JUGA: Jenguk Syekh Ali Jaber, Mahfud Jamin Proses Hukum Tuntas

Rubiyem menuturkan kakaknya sudah menderita kelumpuhan sejak dua dekade terakhir. Dia tidak tahu pasti penyebab kelumpuhan tersebut, tetapi berdasarkan penuturan dokter kala itu, Tunah lumpuh karena faktor usia.

Kelumpuhan itu membuat Tunah hanya bisa terbaring lemah di atas tempat tidur. Kondisi itu membuatnya tak bisa bekerja. Situasi kian tak menguntungkan bagi Tunah karena ia hidup sendiri. Sang suami sudah tiada. Pasangan ini juga tidak memiliki keturunan.

Dengan kondisi itu, kebutuhan sehari-hari Tunah dipenuhi oleh kerabat dan tetangga sekitar rumah. "Untuk makan dan minum biasanya dikirim oleh adik saya, sedangkan kebutuhan air bersih dari keponakan saya yang tinggal dekat sini," ujar Rubiyem.

BACA JUGA: Muncul Wisata ala Jepang di Tepi Sungai Opak Bantul & Kini Viral

Tunah menjalani hari-harinya di sebuah rumah yang sebenarnya lebih mirip gubuk. Hunian berdinding anyaman bambu yang sudah lapuk termakan waktu itu beralaskan tanah. Di beberapa bagian, terdapat lubang yang ditutup dengan karung plastik.

Saat musim hujan, rumah ini tak berfungsi sebagaimana mestinya. Sebab genting rumah yang bocor membuat air hujan dapat masuk secara deras. Belum lagi jika cuaca buruk menerpa, rumah yang sudah miring ini sangat rawan roboh.

BACA JUGA: Pemain PSS Diminta Konsisten Terapkan Protokol Kesehatan, Ini Taruhannya

Apa yang dialami Tunah menggugah kepedulian dari pelbagai kalangan. Salah satunya adalah Paguyuban Guyon Maton Kulonprogo (GMKP) yang memberikan bantuan berupa program bedah rumah.

Rumah yang masih dalam proses pembangunan itu berukuran 3x4 meter persegi dengan teras berukuran 2 meter persegi. Rumah ini dibangun di atas tanah milik adik kandung Tunah, Wagiman Tulo.

Pembangunan rumah beserta kelengkapan perabot rumah tangga itu memakan dana sekitar Rp25 juta. "Semoga dengan bedah rumah ini bisa membantu kehidupan Mbah Tunah," kata Koordinator GMKP, Mursanto.

BACA JUGA: Begini Kondisi Ruang Perawatan Pasien Covid-19 di Gunungkidul

Mursanto mengatakan pemberian bantuan didasari pada kerelaan sebagai sukarelawan sosial dan adanya rasa kemanusiaan antar sesama. Bantuan diberikan dengan cara menghimpun iuran dari anggota relawan GMKP.

"Kami menjalankan program ini secara estafet antar teman. Kemudian hasil iuran yang telah terkumpul kita jalankan di lapangan," ucapnya.

Tunah mengucapkan terimakasih atas bantuan yang diberikan GMKP. Tak lupa, ia mendoakan para donatur agar selalu dilimpahkan rezeki. "Alhamdulillah mudah-mudahan yang ngasih ini rezekinya banyak dan lancar," ucap Tunah.