Galau karena Terdampak Proyek Tol Jogja, Warga Sleman Mengaku Tak Siap Pindah Rumah

Petugas sedang membuat peta pengukuran area terdampak pembangunan jalan tol di Kadirejo II Purwomartani, Selasa (18/8 - 2020)./Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
29 September 2020 21:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Warga Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman berharap pembangunan proyek tol bisa mempertimbangkan aspek psikologis warga. Sebab, banyak warga terdampak yang harus pindah rumah merasa tak siap jika harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru.

Salah seorang warga, Hermanto, 44, warga Dusun Sanggrahan, Desa Tirtoadi, Kecamatan Mlati, Sleman menuturkan ia harus pindah rumah lantaran rumah dan pekarangannya yang seluas 1.600 meter persegi terdampak tol Jogja-Bawen. Ia telah mempersiapkan lahan untuk hunian penggantinya yang masih di dekat lokasi rumah lamanya.

"Cari yang dekat sini saja, karena sudah tahu lingkungannya seperti apa. Kalau direlokasi, kita juga nggak bisa milih lokasinya yang sesuai keinginan kita," kata Hermanto ketika ditemui wartawan seusai tahapan konsultasi publik, Selasa (29/9/2020) di Balai Desa Tirtoadi.

Menurutnya, nantinya jika harus pindah rumah, warga masih merasa sulit untuk menyesuaikan diri. Aspek psikologis ini yang ia rasa perlu diperhatikan oleh tim pengadaan lahan jalan tol supaya dalam memberikan besaran ganti rugi bisa sepadan.

Hermanto menambahkan meski belum ada kesepakatan resmi antar warga terdampak, namun ia menyebut jika warga sudah mulai membahas soal permintaan harga tanah terdampak dari sisi warga. Sebab, secara umum, warga terdampak di Tirtoadi sudah merelakan lahannya untuk proyek tol.

"Makanya kalau ditanya boleh [direlakan] atau nggak, ya mau nggak mau tetap boleh [rela] kan. Tapi soal psikis itu, untuk dinilai uang kan susah, diukur dengan uang tidak bisa. Harapannya [besaran ganti rugi] setinggi-tingginya," kata dia.

Hal senada diungkapkan Sunarya, 63, warga Sanggrahan lainnya. Rumahnya yang terdampak trase tol ini harus ia relakan meski sejak lahir sudah ditinggalinya. Namun, ia mengaku rela jika lahannya digunakan untuk proyek nasional.

"Kendala saya, mau pindah kemana. Soalnya saya tinggal punya sawah. Saya dan banyak warga lain yang tinggal punya sawah mikirnya akan membangun rumah di atas lahan itu," ujarnya.

BACA JUGA: Todongkan Senjata ke Polisi, Pemuda di Jogja Dikenai Wajib Apel

Hal itu mulai ia pikirkan sebab selama ini ia tidak mendapat kepastian informasi dari pihak pemerintah desa, apakah hendak difasilitasi relokasi atau tidak. Kendati demikian, di lokasi yang baru, ia berharap masih bisa menjadi satu dengan warga terdampak lain.

Maka dari itu, jika rencananya jadi membuat rumah di atas lahan pertaniannya bersama warga lain, ia berharap pemdes memfasilitasi pembuatan akses jalan. "Harapannya dicarikan jalan untuk masuk ke sawah yang akan dibikin rumah, ini nggak cuma saya, warga yang punya sawah mau pindah kesitu. Maksudnya biar nggak pada pindah, tetap bisa kumpul," lanjutnya.

Soal besaran harga ganti rugi, Sunarya juga berharap harga bisa sepadan dengan pengorbanan yang telah ia berikan setelah merelakan 'bumi kelahirannya'. Kendati tak menyebutkan secara pasti besaran ganti rugi yang ia inginkan, ia juga ingin besaran ganti ruginya bisa adil untuk seluruh warga.