Hari Batik Jadi Titik Balik Kebangkitan Perajin di Sleman

Dari kiri ke kanan, Ketua Mukti Manunggal, Endang Wilujeng; Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sleman, RR Mae Rusmi Suryaningsih; serta Kepala Dinas Pariwisata Sleman, Sudarningsih, saat mengikuti acara talk show online bertajuk Melestarikan Batik Sleman demi Kesejahteraan Ekonomi, Jumat (2/10/2020). - Harian Jogja/Galih Eko Kurniawan\\r\\n\\r\\n
02 Oktober 2020 20:12 WIB Abdul Hamied Razak Bantul Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Peringatan Hari Batik pada Jumat (2/10/2020) dinilai spesial. Selain digelar di tengah pandemi Covid-19, peringatan ini sekaligus menjadi titik balik kebangkitan para perajin batik di Sleman.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman, Mae Rusmi Suryaningsih, mengatakan pandemi Covid-19 memukul hampir semua sektor, mulai perdagangan, perindustrian hingga pariwisata, termasuk di dalamnya para perajin batik. Namun demikian, kata Mae, peringatan Hari Batik tahun ini bisa menjadi titik balik kebangkitan para perajin batik di Sleman.

"Kami mencoba bangkit bersama teman-teman perajin. Kami siap menghadapi tantangan pandemi dengan mengadakan gelar karya batik," katanya dalam diskusi webinar Melestarikan Batik Sleman demi Kesejahteraan Ekonomi di Gedung Dekranasda Sleman, Jumat.

Untuk menarik minat masyarakat datang dan berbelanja, para perajin batik memberikan label Batik Great Sale up to 30%. Baginya, pemberian potongan atau diskon tersebut merupakan salah satu bentuk perjuangan para perajin batik untuk bangkit. "Ini luar biasa. Para perajin batik dengan semangat bersama-sama bangkit. Mereka rela mengurangi pendapatan agar masyarakat bisa lebih mudah dan murah mendapatkan batik," katanya.

Salah satu karya batik yang ditawarkan adalah Batik Sinom Parijotho Salak. Batik yang memiliki motif utama terdiri dari elemen tangkai, daun, bunga parijotho, daun salak dan bunga salak yang menjadi andalan Sleman ini pun didiskon. Parijotho Salak itu, kata Mae, penuh makna karena mengeskplorasi potensi daerah yang menjadi tanaman khas di lereng Merapi dan buah salak yang menjadi buah khas Sleman. “Ini yang didiskon benar-benar harga asli dari perajin," ujarnya. Dia juga mengajak masyarakat untuk memborong untuk mengangkat produk lokal seluruh UMKM di Sleman demi kesejahteraan masyarakat.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman, Sudarningsih, menyepakati ajakan Mae. Baginya, untuk menggerakkan perekonomian masyarakat selama pandemi ini tidak ada hal yang bisa dilakukan kecuali dengan bersinergi. Jika sinergi antarsektor dilakukan, maka ekonomi masyarakat akan bergerak.

Dispar, katanya, juga bersinergi mempromosikan produk UMKM dengan beragam kegiatan wisata. "Kami sudah minta pelaku usaha dan jasa pariwisata untuk menyiapkan sarana dan prasarana serta sumber daya manusianya agar siap menjalankan protokol kesehatan dan tidak terpapar Covid-19," katanya.

Ketua Mukti Manunggal, Endang Wilujeng, mengatakan di awal pandemi banyak perajin yang tidak bekerja. Mereka yang kehilangan penghasilan lebih dari 90%. "Perajin hanya melipat roda kami, kami simpan. Tapi ini tidak mengurangi semangat kami, tidak mungkin kondisinya seperti ini terus," katanya.

Akhirnya para perajin pun bertekad untuk terus berkarya dengan cara beradaptasi selama pandemi Covid-19. Dengan desain dan konsep produk yang sesuai dengan masa pandemi Covid-19.

"Kami bersama-sama dan bersinergi. Kebersamaan ini sangat penting untuk membangun dan mengembangkan batik Sleman. Hanya cara seperti itu, para pembatik bisa bangkit untuk menggerakkan kembali perekonomian," katanya.