Paska Ricuh, Puluhan Personil Turun Bersihkan Malioboro

Malioboro dibersihkan malam hari paska kericuhan demonstran UU Ciptaker pada Kamis (8/10/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
08 Oktober 2020 23:07 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Dampak kericuhan yang timbul dari aksi demonstrasi UU Cipta Kerja di Malioboro masih begitu kentara. Walikota Jogja, Suyuti didampingi Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi secara langsung meninjau proses pembersihan puing-puing paska kaos di Malioboro pada Kamis (8/10/2020) malam.

Setelah meninjau Haryadi begitu prihatin atas kondisi yang terjadi di lapangan. Pasalnya kericuhan terjadi tepat di gerbang utama Kota Jogja yakni di Malioboro. "Tentunya kami prihatin atas kejadian yang terjadi sore sampai petang hari ini di wilayah Kota Jogja khususnya yang berada di wilayah utama, ini kami sebut gerbang utama Jogja yaitu di Malioboro," ungkap Haryadi.

Segenap personil gabungan dari berbagai Organisasi Pemerintah Daerah (OPD), komunitas, dan relawan lain terjun pada malam hari untuk membersihkan Malioboro. Haryadi masih belum bisa memastikan apakah Malioboro akan tetap dibuka atau tidak keesokan harinya.

"Kita lihat situasinya, kalau memang diharuskan dalam konteks kebersihan ini harus menutup ya kami tutup, kami sudah koordinasikan dengan Polres dan Polda untuk minta izin bila dimungkinkan apabila terjadi hal-hal dimana truk kami terlalu banyak mohon maaf mengganggu warga masyarakat kita tutup sementara, tapi hanya malam ini saja, besok tidak ada," terang Haryadi.

Baca Juga: UU Cipta Kerja Bisa Batalkan Izin Usaha jika ...

Sementara itu menyangkut total kerugian materiil yang di seputaran Malioboro masih dalam penghitungan. "Ya nanti sedang didatangi termasuk kerusakan fisik dari bangunan dan juga infrastruktur kota, taman, pot dan sebagainya," tuturnya.

Dari pantauan Reporter Harian Jogja, sejumlah guiding block difabel lepas, bollard miring, sejumlah bola duduk pedestrian pecah.

"Tapi apa mau dikata segala hal sudah terjadi tugas kami adalah merekondisi kembali agar nampak beberapa kebersihannya, perbaikannya akan mulai hari ini dan besok pagi," jelasnya.

Sementara itu menyangkut potensi sebaran Covid-19 yang timbul dari aksi demonstrasi UU Ciptaker, Heroe menyebutkan beberapa perwakilan demonstran telah melakukan Rapid Diagnostic Test (RDT) di Kepatihan. "Sudah kami Rapid beberapa enam orang perwakilan demonstran, hasilnya belum," jelasnya.

Heroe tidak menampik adanya potensi sebaran Covid-19. "Potensi ada tapi kita juga enggak ngerti seperti apa mereka, jadi kalau yang namanya kerumunan itu pasti ada potensi sebaran tapi kan sejauh mana kan kita tunggu aja apakah di antara pandemo tadi ada yang nanti laporan laporan terkait dengan paparan yang terjadi karena demonstransi," terangnya. Menurutnya paparan Covid-19 tidak bisa dilihat seketika, minimal 5-6 hari baru bisa dideteksi.

Baca Juga: Ada Mahasiswa UGM Hingga Polisi, Ini Daftar 9 Orang yang Terluka Akibat Bentrok di Malioboro

Ia memprediksi, unjuk rasa itu berdampak secara ekonomi. "Pasti ada dampak ekonomi karena mereka [PKL] tidak buka, dan kami minta malam ini untuk tidak buka karena masih berjualan karena kita masih bersihkan, bersama meraka juga," ujarnya.

"Mereka tidak buka tetapi juga mereka bersam- sama membersihkan kawasan Malioboro yang masih banyak sekali batu-batu dan beberapa bola-bola yang pecah, mungkin besok bisa buka, makanya malam ini kalau bisa kita selesaikan semua, dan kalau bisa bersih semua," tandasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja, Sugeng Darmanto menyebutkan bahwa pihaknya telah menurunkan 13 kendaraan dump truck, dua mobil penyapu jalan atau swiper, dan dua mobil penyemprotan. Sebanyak 60 personil diturunkan. Tidak sendiri, dalam pembersihan Malioboro tim DLH Kota Jogja dibantu berbagai kalangan mulai dari Dinas PUPKP Kota Jogja, BPBD, PKL, komunitas, ojol dan berbagai relawan lainnya.