Bantul Belum Capai Target Tes PCR

Ilustrasi. - Freepik
09 Oktober 2020 07:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Dinas Kesehatan Bantul mengakui sasaran tes usap atau polymerase chain reaction (PCR) belum sesuai target sebagaimana yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia atau WHO, yakni 1% dari total jumlah penduduk.

Sejak awal pandemi Coronavirus Disease (Covid-19) sampai pekan pertama Oktober ini test PCR baru di angka sekitar 9.000an dari total jumlah penduduk Bantul 1.006.692 jiwa

“Tes PCR belum sampai satu persen, belum ada,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budi Raharjo, di kantor Dinas Kesehatan Bantul, Kamis (8/10/2020).

Kendati demikian tes massal terus dilakukan, namun kendala bukan hanya dari jawatannya, akan tetapi tergantung dengan intansi lain selaku pemeriksa spesimen.

Baca Juga: Hoaks Penutupan Salon karena Corona di Bantul Beredar Luas

Saat ini pihaknya tengah berupaya melakukan pengadaan mobil PCR yang akan bisa mengambil spesimen ke masyarakat dan langsung diperiksa di tempat sehingga hasilnya bisa diketahui dalam waktu sekitar satu jam. Dengan demikian selain mempercepat tes massal PCR, juga mengurangi kekhawatiran masyarakat.

Menurut dia, selama ini masyarakat masih takut ketika akan dilakukan tes PCR. Selain itu juga masa tunggu hasil swab yang bisa sampai empat hari juga mempengaruhi psikologis masyarakat, sehingga membuat daya imun menurun karena stres.

Selama ini tes masih takut, hasilnya kalau positif bagaimana stigma harus kita siapkan, ketika nunggu empat hari hasil juga was was. Nanti tes langsung jadi jadi enggak stres.

“Dengan adanya mobil tes PCR tidak tergantung lagi [dengan lembaga lain]. Tidak lagi antre dan masyarakat jadi nyaman dites,” kata Agus.

“Dengan mobil PCR target tes PCR bisa cepat tercapai,” lanjut dia.

Baca Juga: Rekor Lagi! Kasus Positif Covid-19 di Indonesia Bertambah 4.850 dalam Sehari

Lebih lanjut mantan Wakil Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Panembahan Senopati Bantul ini mengatakan kasus Covid-19 di Bantul dalam beberapa terakhir ini cenderung melandai. Namun demikian ia belum bisa menyebut ada penurunan kasus Covid-19 di Bumi Projotamansari selama target tes PCR belum terpenuhi sebagai indikator utama.

Yang pasti, kata dia, tes massal PCR dan tracing masif terus dilakukan, bahkan dalam tiga pekan terakhir ini pihaknya sudah melakukan tes massal yang menyasar sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD). Ada 1.100 aparatur sipil negara (ASN) dan pegawai di 10 OPD yang berkaitan langsung dengan pelayanan masyarakat.

Dari jumlah tersebut diketahui tiga orang di antaranya menunjukan hasil positif Covid-19. Saat ini pihaknya masih melakukan penelusuran dari ketiga orang tersebut. Menurut Agus, tiga orang yang positif dari 1.100 orang yang dilakukan tes PCR menunjukan bahwa klaster perkantoran yang selama ini dikhawatirkan tidak terjadi

Penularan Covid-19 di Bantul diakuinya masih didominasi dari riwayat perjalanan, meski ada juga klaster keluarga, namun jumlahnya sedikit. Kasus Covid-19 tertinggi masih didominasi di wilayah perbatasan seperti Banguntapan, Sewon, dan Kasihan.

Tes Massal Diperluas

Setelah tes massal yang menyasar tenaga kesehatan dan ASN, pihaknya juga sudah mengusulkan kepada ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantul untuk memperluas tes massal yang menyasar, perusahaan, pabrik, guru, dan unit-unit usaha lainnya yang berpotensi adanya kerumunan. “Kami tidak berhenti melakukan screening massal supaya tidak kecolongan,” kata Agus.

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso mengatakan sampai Oktober ini jumlah tes PCR baru menyasar sekitar lebih dari 9.000 orang. Dari jumlah tersebut yang terkonfirmasi positif per 7 Oktober 2020 sebanyak 745 dan 21 orang meninggal dunia.

Dari 21 orang meninggal dunia lima di antaranya meninggal tanpa penyakit penyerta atau komorbid, “Bukan tanpa komorbid tapi belum diketahui komorbidnya,” ujar Sri Wahyu.