DWS-ACH Berjanji Rawat Kemajemukan Sleman

Pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya - R. Agus Cholik (DWS-ACH), memaparkan visi dan misi di hadapan perwakilan umat Katolik DIY di Kantor Kevikepan DIY di Jalan Panembahan Senopati 22, Kota Jogja, Kamis (15/10/2010). - Istimewa
16 Oktober 2020 11:37 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pasangan calon (paslon) bupati dan wakil bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya - R. Agus Cholik (DWS-ACH), memaparkan visi dan misi di hadapan perwakilan umat Katolik DIY di Kantor Kevikepan DIY di Jalan Panembahan Senopati 22, Kota Jogja, Kamis (15/10/2010).

Pertemuan tersebut dihadiri Kepala Kevikepan DIY Bagian Timur, Romo Adrianus Maradiyo Pr., Kepala Kevikepan DIY Bagian Barat, Romo AR Yudono Suwondo Pr., serta para pengurus Forum Masyarakat Katolik di Indonesia (FMKI) DIY.

Dalam pertemuan tersebut, selain memaparkan visi misi serta sejumlah program unggulan, pasangan DWS-ACH juga menerima sejumlah masukan dari perwakilan masyarakat Katolik tersebut.

Ketua FMKI Sleman, Bernardus Suliantoro, meminta kepada pasangan DWS-ACH untuk bisa menjaga toleransi dan kerukunan antar umat beragama di Sleman jika kelak memenangi Pilkada 2020.

"Saya berharap jika Anda berdua terpilih nanti, tolong saya minta agar suasana toleran dan damai di Sleman dijaga betul. Jangan sampai oknum-oknum intoleran yang sebenarnya bukan warga Sleman dibiarkan masuk dan merusak kedamain di Sleman," kata Bernardus.

Selain itu, Bernardus juga berharap jika pemerintah daerah akan mengeluarkan kebijakan yang menyangkut umat kristiani, pemangku kepentingan dilibatkan.

"Saya harap, setiap kebijakan yang terkait kepentingan umat kristiani, tolong kami dilibatkan. Umat diajak ngomong gitu," tambahnya.

Di waktu yang sama, Romo AR Yudono Suwondo, Pr. berharap pasangan DWS-ACH fokus melakukan pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19,  khususnya di kalangan masyarakat kecil.

"Kasihan masyarakat kecil, mereka sangat terdampak secara ekonomi akibat pandemi Covid-19. Saya minta dengan sangat, kalau njenengan berdua nanti mendapat amanah memimpin Sleman, saudara- saudara kita masyarakat kecil menjadi prioritas pertama," kata rohaniawan yang akrab disapa Romo Wondo tersebut.

Di samping itu, Romo Wondo juga menyatakan ketertarikannya atas visi pasangan DWS-ACH untuk menjadikan kawasan Sleman utara sebagai kawasan penyangga air DIY.

"Saya sangat setuju bila kawasan penyangga air DIY harus dijaga dan dilindungi. Bagaimanapun juga, persoalan air bukan hanya untuk kebutuhan hari ini, tapi juga menyangkut kehidupan anak cucu kita kelak," kata Romo Wondo.

Saat ini, tercatat lebih dari 70.000 pemeluk Katolik berdomisili di Sleman. DWS menyatakan dirinya bersama Agus Choliq berkomitmen menjadi garda terdepan dalam menjaga toleransi di Sleman. Dia juga memastikan akan melibatkan pemangku kebijakan untuk bersama-sama merawat kemajemukan.

"Tidak hanya umat Katolik, kami berdua juga akan menjamin kebebasan beribadah dan menjalankan keyakinan bagi seluruh umat beragama, termasuk hak-hak administratifnya," kata DWS.

Selain itu, DWS-ACH juga menjamin kebebasan para penganut aliran kepercayaan, sesuai dengan amanat Undang-Undang (UU) No.3/2006 tentang Administrasi Kependudukan yang penerapannya telah dikuatkan dengan Peraturan Pemerintah No.40/2019.

Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan bahwa penghayat kepercayaan harus masuk dalam catatan administrasi kependudukan pada 2017. Sebelumnya, kolom agama pada kartu tanda penduduk rlektronik (e-KTP) hanya mencantumkan enam agama resmi yang diakui pemerintah, yaitu Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Sementara bagi penduduk yang agamanya belum diakui sebagai agama (termasuk penghayat kepercayaan), kolom tersebut tidak diisi. Pada praktiknya, akibat kolom agama yang kosong tersebut, penghayat kepercayaan sering mendapatkan diskriminasi.

Sebelumnya, penelitian Wahid Foundation menyebutkan penghayat kepercayaan biasanya mendapat perlakuan diskriminatif dalam pekerjaan dan pencatatan pernikahan.

 Jika berhasil menjadi pemimpin di Sleman, DWS-ACH bertekad untuk menjaga keberagaman karena hal itu merupakan modal pembangunan.

"Kerukunan, keberagaman dan kemajemukan harus dirawat. Karena tanpa itu, wilayah tidak akan kondusif dan pembangunan tidak akan berjalan dengan baik," kata DWS.