Tembus Pasar Ekspor, Pembudidaya Ikan Guppy Inginkan Dukungan Pemerintah

Danang Wicaksana Sulistya (DWS), Calon Bupati Sleman Nomor Urut 1 yang diusung Partai Gerindra, PKB dan PPP, menyusuri potensi desa di wilayah Pakem, beberapa waktu lalu./Ist
19 Oktober 2020 19:17 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Komunitas pembudidaya ikan guppy yang tergabung dalam kelompok Jogja Fancy Guppy (JFG) melakukan pertemuan dengan calon bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya (DWS) di Dusun Sempu, Pakembinangun, Pakem, Sleman, Sabtu (17/10/2020).

Dalam pertemuan yang berlangsung dalam suasana santai, para breeder ikan hias tersebut bercererita bagamaina Pandemi Covid- 19 justru mendatangkan berkah bagi mereka. Pasalnya, pembatasan sosial yang berlangsung di berbagai tempat justru membuat permintaan akan ikan hias, khususnya jenis guppy justru naik dua kali lipat.

"Mungkin karena orang- orang membutuhkan hiburan atau kegiatan selama harus tinggal dirumah, jadi sebagian dari mereka memutuskan untuk memelihara ikan hias," kata Rularto mewakili anggota JFG yang saat itu hadir kepada DWS.

Rularto menambahkan, dengan metode pemasaran daring menggunakan media sosial, beberapa temannya di JFG berhasil mengekspor ikan guppy hasil budidaya nya ke beberapa negara seperti Vietnam, Filipina dan Amerika Serikat.

BACA JUGA: Buruh Harus Tahu! Ini 64 Komponen Hidup Layak 2020 yang Ditetapkan Menaker

"Harga ikan guppy jika diekspor bisa mencapai 50 sampai 80 dollar amerika per pasang, Mas," kata Rularto kepada DWS.

Pada kesempatan tersebut, beberapa anggota JFG juga curhat mengenai kendala yang mereka hadapi selama ini. Salah satunya mengenai mahalnya pengiriman ikan ke daerah diluar pulau Jawa. Hal yang sudah berlangsung selama setahun belakangan tersebut terjadi setelah PT. Pos Indonesia tidak lagi menerima jasa pengiriman ikan hias.

"Kami terpaksa menggunakan jasa pengiriman swasta yang harganya bisa sepuluh kali lipat. Kami berharap, jika terpilih menjadi bupati Sleman, Mas Danang (DWS) bisa memecahkan persoalan ini," kata anggota Destu Indrakusuma, yang diamini anggota JFG lainnya.

Selain itu, Destu juga mengeluh soal kurangya perhatian pemerintah daerah terhadap para pembudidaya ikan hias di Sleman.

"Kami merasa seperti anak tiri. Selama ini yang kami rasa, budi daya ikan konsumsi yang selalu mendapat perhatian," keluhnya.

Menurut Destu, salah satu cara untuk meningkatkan pamor ikan guppy di masayarakat adalah dengan sering mengadakan lomba atau kontes ikan hias. Namun, Destu mengaku pemerintah kabupaten tidak pernah memberikan respon setiap kali mereka mengajukan permohonan bantuan.

"Contohnya, setiap kali kami mengajukan permohonan peminjaman tempat milik pemkab untuk mengadakan kontes, kami selalu ditolak. Mudah- mudahan pemerintah Sleman medatang memiliki kebijaksanaan yang lain," tambah Destu.

Menanggapi beberapa keluhan tersebut, DWS menyatakan terima kasihnya karena telah diberi masukan yang berharga.

Selanjutnya, DWS menjelaskan bahwa tidak ada hubungan hirarki antara pemerintah kabupaten dengan PT. Pos. Namun begitu, DWS menyatakan, jika dirinya bersama calon wakil bupati R. Agus Cholik (ACH) diberi amanah memimpin Sleman, pihaknya akan meminta dinas terkait melakukan pendekatan kepada PT. Pos untuk mencari jalan keluar persoalan tersebut .

Selain itu, DWS juga mengatakan bahwa ikan hias bisa menjadi salah satu komoditas andalan Sleman. Untuk itu, DWS meminta kepada anggota JFG untuk terus berinovasi dalam budidaya agar bisa mengasilkan jenis ikan guppy baru yang bisa menjadi salah satu ikon Kabupaten Sleman.

Dihari yang sama, DWS juga mengunjungi Dusun Bendolole-Bendosari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman. Selain bersilaturahi dengan masyarakat setempat, DWS juga bertemu dengan kelompok budidadya ikan dan kelompok ternak yang ada di tempat tersebut.