DIY Siapkan Budaya Maritim Optimalkan Potensi Laut Selatan

Paniradya Pati Paniradya Keistimewan DIY, Aris Eko Nugroho (tengah) dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Bayu Mukti Sasongka (kanan) dalam podcast Rembag Keistimewaan dengan tema Laut Selatan sebagai Halaman Muka DIY. - Ist/ tangkapan layar Youtube paniradya pati
23 Oktober 2020 10:44 WIB Media Digital Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Laut selatan memiliki beragam potensi yang selama ini belum terjamah dengan maksimal oleh masyarakat DIY. Dalam menyongsong Abad Samudra Hindia sesuai visi Sri Sultan HB X, Pemda DIY mulai bersiap memaksimalkan pemanfaatan laut selatan.

Paniradya Pati Paniradya Keistimewaan DIY, Aris Eko Nugroho, menjelaskan laut selatan memiliki potensi besar baik tangible maupun intangible. “Bisa bergerak dengan mengarahkan laut selatan menjadi muka akan menjadi hal yang sangat luar biasa,” ujarnya dalam podcast Rembag Keistimewaan dengan tema Laut Selatan sebagai Halaman Muka DIY.

Baca juga: Satlantas Gunungkidul Sosialisasikan Tilang CCTV ke Masyarakat

Dalam mewujudkan visi Sri Sultan HB X, Paniradya Keistimewaan DIY menjadi salah satu perencananya. Kendati demikian, pihaknya tidak bisa bergerak sendiri, melainkan harus melibatkan organisasi perangkat daerah (OPD) terkait lainnya, yang lebih memahami hal teknis di bidang kelautan, salah satunya Dinas Kelautan dan Perikanan DIY.

Jika melihat kekayaan laut, bukan saja isinya, namun airnya pun bisa dimanfaatkan. Dalam optimalisasi pemanfaatan kekayaan laut, bukan saja berbicara bagaimana memanfaatkannya, namun juga bagaimana menjaganya. “Kami lihat potensi lain Pelabuhan Gesing. Kami berharap Pelabuhan ini menjadi bagian dari optimalisasi, karena sangat strategis,” ungkapnya.

Baca juga: Pengedar Pil Koplo Dicokok Polres Kulonprogo, Pangsa Pasarnya Remaja

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Bayu Mukti Sasongka, menuturkan visi Sri Sultan HB X untuk menyongsong abad Samudra Hindia berorientasi mengubah paradigma dari yang semula bercocok tanam menjadi kebudayaan maritime yang menghadap laut. “Urgensi visi karena adanya ketimpangan wilayah, perkembangan ekonomi di utara lebih bagus ketimbang yang di pinggir pantai,” ujarnya.

Untuk menuju visi tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan DIY memiliki misi untuk membuat keragaman ekonomi di masyarakat khususnya yang berkaitan dengan kelautan dengan memanfaatkan sumber daya di laut.

Di samping itu, sangat diperlukan peran dari OPD lainnya, karena dukungan sarana-prasana lain juga turut menentukan keberhasilan visi ini. Ia mencontohkan diperlukan fasilitas pasar untuk para nelayan agar dapat memasarkan produknya. Lalu dari sisi keamanan juga perlu dilengkapi, mengingat laut selatan memiliki ombak yang kuat.

Ia melihat dalam mencapai visi tersebut, tentu akan menemui sejumlah hambatan, salah satunya mengubah mindset masyarakat yang awalnya cenderung pada tani menjadi nelayan. “DIY baru punya nelayan tahun 80-an, Pak Gubernur membuat visi itu 2012, kalau dibanding nelayan di daerah lain mungkin nenek moyangnya sudah pelaut,” katanya.

Saat ini, DIY memiliki sebanyak 17 titik pangkalan pendaratan ikan dan dua Pelabuhan perikanan pantai di sepanjang pantai selatan. Dengan optimalisasi ini, diharapkan ke depan para nelayan tidak lagi mencari ikanm tapi menangkap ikan. “Sudah tahu lokasinya dimana, jenis ikannya apa, dibawa pulang,” ungkapnya.