Begini Rasanya Naik Bus Malioboro-Parangtritis: Perjalanan 1,5 Jam Tak Terasa

Didit, sopir bus Damri saat mengemudikan bus rute wisata Malioboro-Parangtritis, Selasa (20/10/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
23 Oktober 2020 12:27 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perusahaan Umum Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) membuka delapan rute baru untuk mendukung Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di masa pandemi Covid-19 ini. Salah satu rute tersebut adalah jurusan Malioboro Jogja-Parangtritis Bantul.

Wisatawan yang berkunjung ke Malioboro, Jogja, kini bisa menambah variasi objek wisata. DAMRI menyediakan bus untuk para pelancong dari Malioboro menuju ke Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul. Angkutan ini mudah dijangkau dan enak ditumpangi.

BACA JUGA: KAI Tambah Perjalanan Kereta pada Libur Panjang Akhir Oktober

Bila merasa telah cukup menyusuri hiruk pikuk jalur pedestrian Malioboro, wisatawan tinggal berjalan kaki menuju Titik Nol Kilometer. Dari situ, pelancong tinggal berjalan sejauh 300 meter ke timur di perempatan Gondomanan. Hotel Limaran yang berdiri di pojok utara perempatan menjadi titik pemberangkatan bus jurusan Malioboro-Parangtritis.

Tidak sulit untuk mengetahui arah tujuan bus karena ada tulisan yang terpampang tepat di kaca depan bus: MALIOBORO-PARANGTRITIS

Didit Cahyono, sopir bus jurusan Malioboro-Parangtritis, yang Selasa (20/10/2020) kemarin nrayek mengaku sudah menjajal beragam rute sebagai sopir DAMRI. Rute perintis di salah satu kepulauan di Batam menjadi awal perjalanannya. Namun rute wisata baru pertama kali ini dilalui Didit.

BACA JUGA: Terancam Abrasi, Pemilik Warung Pantai Depok Santai

Rute Malioboro-Parangtritis cukup lengang. Rute yang tidak terlalu macet membuat Didit lebih fleksibel berkendara. Meski tetap mengejar ketetapan keberangkatan dan kedatangan, Didit tak diburu waktu. "Ya kalau pas sepi kecepatan sedang, kalau perlu cepat ya cepat, enggak bisa ngebut terus, lihat situasi aja."

Dalam satu hari bus DAMRI melayani empat kali rute Malioboro-Parangtritis mulai pukul 06.00 WIB, pukul 07.00 WIB, pukul 11.00 WIB dan pukul 12.00 WIB. "Kalau paling sore berangkat dari Parangtritis jam setengah tiga," ujar Didit.

Tidak ada loket dan kondektur di bus DAMRI Malioboro-Parangtritis. Tiket bisa didapatkan langsung dari sopir. Ongkos yang harus dibayar untuk menikmati rute Malioboro-Parangtritis Rp15.000 sekali berangkat.

Dari Hotel Limaran bus melaju ke arah Jalan Brigjen Katamso lalu akan belok ke barat melintasi Jalan Bantul lurus hingga Terminal Palbapang. Bus memang berhenti sejenak di Terminal Palbapang kemudian bertolak Jalan Sultan Agung dan kembali ke jalur utama Jalan Parangtritis.

BACA JUGA: Dianggap Terlupakan, Ma'ruf Amin: Manusiawi, Sama Istri Saja Suka Lupa

Bus Malioboro-Parangtritis cukup nyaman dengan pendingin udara. Penumpang juga tak takut kehabisan daya ponsel kaerena port charging tersedia di setiap bangku. Bagasi mini di langit-langit kabin cukup untuk menampung beberapa oleh-oleh yang barangkali bakal diborong para wisatawan.  Jaringan Wifi, TV, sound music, hingga first aid box juga ada.

Didit bahkan berseloroh, saking nyamannya duduk di dalam bus, banyak penumpang yang sering tertidur selama perjalanan. "Enggak cuma satu dua orang," ujarnya.

DAMRI rute Malioboro-Parangtritis memakai mesin pabrikan Jepang dengan spesifikasi Isuzu 3. "Suspensinya memang kalau istilah saya lembek, kalau di jalan datar bisa anteng, enggak banyak guncangan," kata Didit.

Dengan teknologi ini penumpang tidak akan mengalami guncangan atau hempasan berarti dari kursi saat melintasi jalanan Malioboro hingga Parangtritis.

BAJA JUGA: Pilkada di Tengah Pandemi, KPU Bantul Pasang Target Partisipasi Tinggi

Jika telah lepas dari jalanan perkotaan dan masuk ke Jalan Parangtritis, lanskap pertanian serta sungai mengiringi perjalanan di kanan kiri jalan: petani yang menyiangi gulma, anak-anak bermain layangan, hingga para pemancing yang tak bosan menunggu. Hamparan padi dan aliran sungai yang tenang akan membuat penumpang tidak akan merasa penat.

Saat melintasi pintu retribusi Pantai Parangtritis, bus terus melaju. Penumpang DAMRI tidak dikenai biaya tambahan. Penumpang akan diturunkan di Terminal Parangtritis atau tepat di depan Plaza Parangtritis. Lokasi tersebut hanya sekitar 100 meter dari bibir pantai. Perjalanan kurang dari 1,5 jam dari Malioboro tidak begitu terasa.

Di terminal situasi cukup lengang, tidak banyak bus yang hilir mudik. Rute wisata DAMRI Malioboro-Parangtritis ini memang belum sepekan dibuka. Semenjak beroperasi, bus kapasitas 32 penumpang yang ia kendarai belum pernah penuh, bahkan terkadang hanya mengantar satu dua penumpang. Pandemi Covid-19 dan belum banyaknya warga yang tahu akan angkutan tersebut membuat bus masih sepi.

BACA JUGA: Jusuf Kalla Akan Bertemu Paus Fransiskus di Vatikan Bahas Persaudaraan Sesama

Kendati merupakan rute baru, DAMRI dengan bus engkel trayek Jogja-Parangtritis tidak berkonflik. Awak bus juga akur. "Biasa saja, di terminal juga ngobrol-ngobrol bareng [dengan sopir lainnya]," ucap Didity.

Rute yang dilewati DAMRI dan angkutan umum lainnya sangat berbeda. Selain itu, bus DAMRI hanya mengangkut penumpang di dua titik dan tidak mengangkut penumpang di pinggir jalan. Jadi, bus engkel jurusan Giwangan-Parangtritis tak terganggu.

Ponijo sudah menjadi sopir bus jurusan Jogja-Parangtritis sejak 80-an. Kala itu ia ingat betul, jembatan yang melintang di atas Kali Opak belum dibangun. "Kawit kretek dereng wonten, nyeberang tasik ngangge gethek pring [zaman jembatan Kretek belum ada, dan menyebereng masih memakai rakit]," ujarnya.

BACA JUGA: CDC Laporkan Temuan Terbaru, Covid-19 Bisa Menular Dalam Waktu Satu Menit

Kurang lebih 40 tahun jadi sopir, Ponijo sudah hapal betul dengan naik turunnya para penumpang. "Tahun 2000-an, semenjak ada gempa Jogja, penumpang mulai turun," katanya.

Saat ini, kata Ponijo, bus engkel paling banyak dua kali melayani jurusan Terminal Giwangan-Parangtritis. "Paling sehari sekali, penumpang satu dua, kadang juga blong, kalau siang mau berangkat kedua tapi sampai berapa kilo enggak ada penumpang mending lanjut pulang daripada tombok."

Padahal dalam sehari, Ponijo, harus merogoh Rp50.000 untuk ongkos solar saja. Uang makan selama bekerja yang belum masuk hitungan. Rendahnya jumlah penumpang trayek Giwangan-Parangtritis membuat banyak sopir lainnya juga tak ambil risiko. Akibatnya, Terminal Parangtritis begitu sepi.

Ponijo tetap nekat menarik. Kalau beruntung ia bisa dapat penumpang nyaris 10 orang sekali pulang-pergi. Uang sekitar Rp100.000 bisa dia kantongi. Tarif bus engkel milik Punijo relatif lebih murah yakni Rp10.000 untuk rute Giwangan-Parangtritis.

“Biasanya yang naik itu ya orang-orang sepuh atau ibu-ibu yang tidak berani berkendara jauh ke Jogja," ungkapnya.

Bus yang menemani Ponijo saat ini keluaran sekitar 1997. Bus Punijo tanpa AC, colokan listrik apalagi wifi.