Tak Melulu Urusan Politik, Rumah Pemenangan DWS-ACH Juga Jadi Rumah Seni

Calon bupati dan calon bupati Sleman nomor urut 1 Danang Wicaksana Sulistya (DWS) dan Raden Agus Cholik. - Istimewa
25 Oktober 2020 19:37 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Tidak melulu soal politik praktis, rumah pemenangan pasangan calon (paslon) Bupati-Wakil Bupati Sleman nomor urut 1, Danang Wicaksana Sulistya-R. Agus Cholik (DWS-ACH) untuk wilayah Kecamatan Pakem di Dusun Pakemtegal, Pakembinangun, Pakem, Sleman juga dimanfaatkan sebagai ruang apresiasi seni, seperti saat digunakan para seniman lukis dalam acara "On the spot melukis bersama para pelukis Sleman", Minggu (25/10/2020).

Acara yang diisi dengan kegiatan melukis bersama belasan seniman lukis dari wilayah Sleman utara tersebut juga dihadiri DWS bersama keluarganya.

"Acara ini merupakan manifestasi dari usul dan harapan para seniman di Sleman terhadap kepemimpinan Sleman mendatang," kata pelukis Joko Timun, inisiator acara.

Menurut Joko, apresiasi pemerintah Sleman terhadap keberadaan ruang apresiasi seni dirasa sangat kurang.

BACA JUGA: Warga Ponpes yang Terinfeksi Terus Bertambah, Covid-19 di DIY Belum Melandai! Ini Data Terbaru

"Sebagai kabupaten kaya, seharusnya Sleman tempat untuk apresiasi seni seperti Ancol di Jakarta, atau Ubud di Bali," tambah Joko.

Joko berharap, pemerintah Sleman mendatang lebih memperhatikan keberadaan ruang apresiasi bagi karya para seniman di Sleman.

"Agar karya seniman dan para penikmat seni bisa dipertemukan kemudian bisa diapresiasi," harap Joko.

Ketua RT 38 Pakemtegal Suratno, yang menghadiri acara tersebut berharap kegiatan kesenian di kampungnya bisa berlangsung rutin. Menurut dia, acara seperti melukis bersama tersebut bisa berdampak positif bagi warga sekitar, khususnya generasi muda.

Selain itu, Suratno juga menyambut positif rencana untuk menjadikan rumah pemenangan DWS sebagai galeri seni usai perhelatan Pilkada 2020 mendatang.

"Warga Pakemtegal sangat terbuka, tentu kalau galeri seni dibuka di sini, masyarakat akan menyambut baik. Tidak hanya semakin memasyarakatkan kesenian, dampak ekonomi juga akan dinikmati masyarakat di sini," kata Suratno.

Di tempat yang sama, DWS yang hadir bersama Lindra Putriatna istrinya itu menyatakan, meskipun sederhana kegiatan apreseasi seni tersebut cukup untuk menjadi pengobat rindu bagi pegiat kesenian yang selama pandemi Covid-19 vakum.

"Termasuk dalam prioritas saya dan Mas Agus Choliq adalah menciptakan ruang-ruang apreseasi di wilayah Sleman. Ini untuk merangsang kreatifitas dan memberikan ruang bagi seni dan budaya kita," kata DWS.

DWS menyebut, visi keduanya adalah pembangunan wilayah yang berkualitas, merata, berkarakter budaya serta berwawasan lingkungan. Untuk itu, menurut dia, tidak ada salahnya dimulai dari lingkup terkecil, di kampung-kampung dan memanfaatkan tempat yang tersedia.

"Karena visi kedua itu berkait dengan visi ketiga, membangun sumber daya manusia unggul, berakhlak dan berbudaya," kata DWS.

Kegiatan budaya bagi DWS-ACH adalah sisi yang harus mendapatkan prioritas. Selain sebagai bagian dari identitas masyarakat Sleman, budaya juga diyakininya akan memberikan dampak kepedulian, rasa memiliki, rasa bangga terhadap wilayah dan kepekaan sosial yang sangat diperlukan dalam pembangunan suatu daerah.

"Apalagi untuk wilayah lereng Merapi, pembangunan sektor wisata diharapkan dapat bertumpu pada atraksi, bukan destinasi. Pasalnya, lereng Merapi ini kita cadangkan untuk daerah tangkapan air, meskipun juga harus dipakai mendorong pertumbuhan sektor wisata," ungkapnya.

Ke depan, pengembangan pariwisata di wilayah Kecamatan Pakem bersama Kecamatan Cangkringan, Turi dan sebagian Tempel akan difokuskan pada kegiatan (event) untuk menarik pengunjung.

"Potensi seni dan budaya di empat lokasi tersebut harus kita inventarisir, ditata, diagendakan yang rapi, dikemas yang bagus, dipromosikan dan difasilitasi," pungkasnya. (*)