GeNose Diuji ke Orang yang Kontak Erat dengan Pasien Covid-19 di Bantul

Ilustrasi - Pixabay
27 Oktober 2020 20:37 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Alat deteksi dini Covid-19 lewat embusan napas, GeNose, yang dikembangkan Universitas Gadjah Mada (UGM) mulai diuji di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid-19 (RSLKC) Bantul, Selasa (27/10/2020).

Berbeda dengan pengujian yang dilakukan di RSUP Dr Sardjito, Jogja, alat ini bakal dimaksimalkan untuk menguji orang yang berkontak erat dengan pasien Covid-19 yang saat ini menjalani perawatan di RSLKC. “Alat ini akan berada di RSLKC selama tiga pekan. Orang yang kontak erat ataupun keluarga dari pasien akan diuji menggunakan alat ini,” kata Direktur RSLKC, Tarsisius Glory, Selasa.

BACA JUGA: Enaknya Rute Baru Trans Jogja: Bayar Nontunai, 10 Menit Sekali Bus Datang

Menurut Glory, keputusan mengujikan alat ini kepada keluarga pasien ini bukan tanpa alasan. Sebab, selain lebih murah alat ini juga lebih praktis untuk mendeteksi orang yang berkontak erat dengan pasien  Covid-19.

Tidak seperti rapid test yang harus menggunakan pengetesan darah, metode GeNose hanya perlu embusan napas orang yang menjalani tes. Selain itu, harganya juga lebih murah dibandingkan rapid test, karena hanya butuh filter udara yang harganya tidak mahal. “Alat ini juga produk anak bangsa,” kata Glory.

Kepala Dinas Kesehatan Bantul, Agus Budiraharjo, mengatakan meski akurasi pengujian dari alat ini mencapai 96%, alat ini belum bisa menggantikan peran uji swab untuk memastikan seseorang terinfeksi Covid-19. “Jika indikasi positif harapannya di uji swab juga positif. Tapi sekali lagi, ini identik seperti rapid test, jika ada indikasi positif akan kami tindak lanjuti dengan uji swab dengan mobil PCR,” katanya.

BACA JUGA: Suara Gemuruh Selamatkan Kusnan dan Keluarganya dari Terjangan Longsor Kulonprogo

Agar lebih tepat, jawatannya akan menggunakan dua metode pengujian terhadap pasien yang diindikasi positif Covid-19. Metode pertama adalah menggunakan GeNose dan metode kedua pengujian dengan mobil PCR.

Agus berharap GeNose mendapatkan izin dari pemerintah untuk pemeriksaan Covid-19. Sebab, harga alat ini sangat murah yakni sekitar Rp70 juta per unit. Adapun untuk biaya pemeriksaan hanya belasan ribu rupiah.

Peneliti GeNose, Dian Kesumapramudya Nurputra, mengatakan selain RSLKC, GeNose juga diujikan ke-8 rumah sakit berbeda selama tiga pekan. Adapun target sampel pengujian sebanyak 1.600 sampel. “Pada setiap subjek nantinya diambil dua kali sampel napas,” katanya.