Simposium Khatulistiwa, Biennale Angkat Pengetahuan Lokal

Sedang berlangsung Simposium Kathulistiwa Alam Terkembang Jadi Guru hari pertama, Jumat (30/10/2020) di TBY. - Harian Jogja/Lugas Subarkah.
01 November 2020 23:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Indonesia memiliki ribuan budaya yang di dalamnya terdapat begitu banyak ilmu pengetahuan penting, yang sayangnya kian tergerus seiring semakin mendominasinya sistem pengetahuan barat dalam lanskap Pendidikan Indonesia.

Untuk mengangkat kembali wacana pengetahuan lokal khas Indonesia ini, Biennale Jogja menggelar Simposium Katulistiwa dengan tema Alam Terkembang Jadi Guru. Agenda rutin dua tahunan ini berlangsung selama dua hari, Jumat dan Sabtu (30-31/10) secara daring dan luring, di Taman Budaya Yogyakarta (TBY) dan kanal youtube Biennale Jogja.

BACA JUGA : BIENNALE JOGJA VX: Kegelisahan Asia Tenggara

Direktur Yayasan Biennale Jogja, Alia Swastika, menjelaskan tema tersebut merupakan refleksi pemikiran tentang bagaimana praktik seni kontemporer bertaut dengan pemahaman yang berbasis pada pengetahuan lokal, khususnya dalam konteks lingkungan dan ekologi.

“Kami ingin menggali pengetahuan lokal sehingga ia memiliki posisi yang sejajar dengan sistem pengetahuan barat yang selama ini mendominasi sistem Pendidikan modern. Secara khusus, seniman kontemporer telah lakukan pembacaan kembali pengetahuan dan budaya lokal ini dengan penelitian dan kolaborasi dengan warga setempat,” ujarnya, Jumat (30/10/2020).

Hasil dari pembacaan tersebut kemudian ditransformasikan menjadi bentuk karya kontemporer. Mendiskusikan berbagai praktik dan karya seni dari berbagai medium kata dia, menjadi salah satu cara untuk menggali pengetahuan lokal tersebut.

Simposium Katulistiwa menghadirkan 30 pembicara yang dibagi dalam 10 kelas. Para pembicara berasal dari berbagai disiplin ilmu dan konteks kebudayaan. Dari Banda Aceh hingga Papua, dari isu festival sebagai bentuk aktivisme hingga praktik penciptaan seni untuk isu terpinggirkan. Peristiwa ini menjadi titik pertemuan penting bagi seniman dan pengkaji kebudayaan.

BACA JUGA : Diikuti 12 Negara, Biennale Jogja XV Akan Tersebar

“Sebut saja Eko Supriyanto, koreografer terkemuka Indonesia yang kerap melakukan kerja bersama komunitas di luar Jawa, atau Septiana Layan, musisi kontemporer yang banyak menggali tradisi bunyi Papua, atau Daniel Lie, seniman Brazil keturunan Indonesia yang menggali akar identitasnya melalui program Seniman Mukiman,” ungkapnya.

Salah satu pembicara dalam Simposium Katulistiwa, Erni Aladjai, merupakan penulis dari banggai Laut, Sulawesi Tengah. Dalam symposium ini, ia memaparkan tentang belajar tanaman obat lintas generasi dalam perawatan tubuh perempuan pasca persalinan suku Banggai, yang disebut Bakalesang Lapa Monsung.

“Potensi desa seperti tanaman obat itu banyak sekali ditemukan di halaman belakang rumah orang, di pekarangan-pekarangan, tapi tumbuhan obat ini tidak lagi diminati oleh generasi sekarang. Terakhir itu di akhir 90-an,” ungkapnya.