GKR Hemas-Muslimatun, Cerita Tentang Perempuan Berdaya

GKR Hemas-Muslimatun, Cerita Tentang Perempuan Berdaya. - Ist.
10 November 2020 18:17 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Hari minggu pagi, seperti biasa Sri Muslimatun mengisi harinya dengan berbagai pertemuan. Namun, yang berebda di pagi itu, ia menerima telepon dari sahabatnya, Gusti Kanjeng Ratu Hemas. “Bu Mus, nanti siang ada waktu kosong? Ikut saya ketemu ibu-ibu hebat di Mrican, Caturtunggal,” begitu ajakan Gusti Ratu.

Tanpa pikir panjang, Muslimatun menjawab, “bu Ratu, saya tak punya alasan untuk menolak ajakan ini, siap saya merapat,” katanya antusias.

Mendengar kata ibu-ibu hebat dari Mrican, Muslimatun langsung tertuju pada Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi, di gang Kuwera, Padukuhan Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman. Sebuah organisasi berangotakan ibu-ibu yang bergerak di bidang perkebunan. Pertemuan yang tak terjadwalkan itu pun terlaksana. Dua sahabat lama berjumpa, membaur bersama para srikandi Mrican.

GKR Hemas dan Sri Muslimatun terkagum dengan keberhasilan ibu-ibu KWT membentuk sistem ketahanan pangan dengan cara berkebun. Mereka memanfaatkan lahan seluas 540 meter persegi milik kas Desa Caturtunggal. Di lahan ini ditanami 33 jenis sayuran, buah-buahan, dan tanaman lainnya. Kebun organik itu dirintis sejak tahun 2015 dan hingga kini, kebutuhan sayuran untuk keluarga ibu-ibu KWT selalu terpenuhi.

Adalah Nur Handayani, Ketua KWT yang aktif memberi semangat pada anggotanya. Nur menuturkan, selain berkebun di lahan bersama, para ibu juga memiliki tanaman masing-masing dengan memanfaatkan lahan di pekarangan rumah. Beragam jenis sayuran ditanam di dalam polybag atau kantong plastik dengan metode vertikultur. “Setiap keluarga mempunyai 70 polybag yang ditanami terong, tomat, cabai, sawi, bawang merah, kangkung, bayam, dan sayur lainnya," kata dia.

Selain bisa memenuhi kebutuhan pangan, ibu-ibu KWT juga membuat produk olahan. Produknya berupa keripik, peyek, dan lainnya. “Ibu-ibu disini jualan lewat online. Praktis, gak harus keluar,” begitu kata Nur Handayani diselingi tawa dari para anggota KWT.

Perempuan Berdaya, Menuju Sleman Sejahtera

Gusti Ratu mengaku bangga menyaksikan potret kehebatan para srikandi ini. “Dari sini kita menyaksikan para ibu gotong royong saling memberdayakan. Disaat ekonomi terimbas pandemi, ibu-ibu KWT mampu menaikkan taraf hidupnya. Ini luar biasa,” ujar Gusti Ratu.

Senator asal DIY itu turut mengapresiasi peran Muslimatun sebagai Wakil Bupati yang mengangkat potensi dusun sebagai strategi pemberdayaan. “Saya tahu Bu Mus aktif bergerak di bidang pemberdayaan, termasuk memanfaatkan potensi dusun,” jelasnya.

Senada dengan Gusti Ratu, Sri Muslimatun senang gerakan perempuan berdaya berhasil memanfaatkan potensi dusun. “Apapun potensinya, perempuan itu bisa untuk bangkit dan berdaya. Saya yakin, menjadi perempuan berdaya akan membentuk keluarga yang sejahtera, bahagia dan saling support dengan suami,” ujar Pendiri RS Sakina Idaman di Mlati itu.

Pemberdayaan perempuan memang menjadi perhatian GKR Hemas dan Sri Muslimatun. Keduanya banyak terlibat dalam gerakan ini untuk membangun kesejahteraan. “Saya optimis kesejahteraan akan lahir dari gotong royong dan partisipasi kita semua,” ujar Gusti Ratu yang diiyakan Muslimatun.