Wayang Diponegoro, Unik & Menambah Pemahaman Sejarah Lebih Utuh

Pementasan Wayang Diponegoro di dalem Yudonegaran, Jalan Ibu Ruswo, Kota Jogja. - Harian Jogja/Sunartono.
13 November 2020 09:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Wayang telah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco, menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Berbagai jenis wayang pun bermunculan sesuai dengan budaya masing-masing daerah.

Pada laman Kemendikbud.go.id menjelaskan wayang wetan (Jawa Timuran) dan wayang kulon (Jawa Tengah, DIY) memiliki perbedaan. Di mana wayang timur lebih menggunakan budaya sesuai dengan masyarakat sehingga cerita yang dimainkan hingga sabetan lebih bersifat kasar. Namun wayang kulon lebih mengambil budaya kraton.

Wayang pun makin bermunculan sesuai dengan beberapa kreasi dalang. Namun ada wayang yang secara khusus menceritakan sosok atau tokoh dari awal hingga sampai akhir hayatnya. Wayang ini sangat berbeda bentuknya dengan wayang pada umumnya. Adalah wayang Diponegoro yang akhir-akhir ini tampil menceritakan tentang perjuangan Pangeran Diponegoro.

BACA JUGA : HARIAN JOGJA HARI INI: Teladani Jejak sang Pangeran

Karena tergolong baru, wayang Diponegoro baru memasuki pementasan ke-14 seperti digelar di Dalem Yudonegaran, Jalan Ibu Ruswo, Kota Jogja, Senin (10/11/2020) malam. Wayang ini ceritanya berbeda dengan pewayangan lain, karena secara khusus mengadopsi kisah dari Babad Diponegoro yang merupakan kisah Pangeran Diponegoro saat diasingkan Belanda di Makassar antara 1831-1832.

Sejarawan dari Trinity College, Oxford, Inggris Peter Brian Ramsey Carey mengungkap Babad Diponegoro ditulis seperti puisi dengan tebal 1.170 halaman folio. Naskah ini diceritakan dari sudut pandang orang ketiga meski sejatinya menceritakan diri seorang Diponegoro.

Babad Diponegoro telah mendapatkan penghargaan Badan Kebudayaan Dunia, Unesco sebagai Memory of The World bersama Negarakertagama yang berisi kesaksian Majapahit pada masa Raja Hayam Wuruk di abad ke-14. Dengan mengambil kisah dari babad ini maka cerita yang disampaikan dalam wayang lebih menarik dan menambah pemahaman masyarakat terhadap sejarah menjadi lebih utuh.

“Wayang Diponegoro ini sudah ke-14 pementasan, [wayang] ini dibikin tahun 2017. Semua lakon dari cerita Babad Diponegoro. Harapannya bisa menambah pemahaman masyarakat tentang sejarah perjuangan Diponegoro,” kata Rahadi Saptata dari Paguyuban Keluarga Trah Pangeran Diponegoro.

BACA JUGA : Gua Sriti, Saksi Biksu Perjuangan Pangeran Diponegoro

Melalui media wayang diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat dan persepsi baru tentang sejarah. Karena di dalam cerita wayang tersebut murni mengambil lakon dari isi Babad Diponegoro dengan durasi 3 jam. Rahadi mengatakan pihaknya memiliki satu set berisi 60 wayang dengan bentuk yang unik. Ia mencontohkan sosok wayang seperti Diponegoro dibuat dengan menunjukkan ciri bersurban putih, kemudian sosok HB II memakai mahkota hingga Sentot Alibasyah yang berpakaian Jawa.

“Bentuk wayangnya jelas berbeda dengan wayang lain, [Wayang Diponegoro] ini lebih unik. Yang kami pentaskan ke-14 ini dengan lakon Kusuma Bangsa. Kami Patra Padi menggelarnya bersama Ikatan keluarga Pahlawan Nasional Indonesia [IKPNI] DIY, selain untuk memperingati Hari Pahlawan dan Milad Pangeran Diponegoro ke-235.,” katanya.

Kisah Sang Kusuma Bangsa dalam lakon ini menceritakan tentang babak akhir perjuangan Pangeran Diponegoro secara detail. Salah satunya mengungkap tujuan Belanda mengangkat HB II naik takhta sebanyak tiga kali yaitu agar para pangeran dan sentono yang ikut berjuang dengan Pangeran Diponegoro kembali ke Kraton. Namun HB II tetap mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro meski pun ditekan Jenderal Belanda Van Mook.

“Kusuma Bangsa ini lakon baru menceritakan sisi atau akhir dari perjuangan Pangeran Diponegoro mulai Jejer pertama jumenengnya HB II, karena dalam sejarahnya kan HB II naik raja tiga kali, nah dalam cerita ini saat naik yang ketiga kalinya. Dinaikkan raja kembali oleh Belanda itu supaya para pangeran atau sentono yang ikut berjuang dengan Diponegoro agar balik ke kraton untuk melemahkan perjuangannya, tetapi kenyataannya HB II tetap mendukung Diponegoro,” jelasnya.

BACA JUGA : Menelusuri Jejak Pangeran Diponegoro (1/2)

Dalam lakon ini diakhiri dengan peristiwa licik yang dilakukan Belanda dengan mengajak perundingan damai namun berujung pada penangkapan Pangeran Diponegoro hingga diasingkan ke Manado dan dipindah ke Makassar. Hanya saja khusus untuk sampai akhir hayatnya tidak diceritakan detail di pewayangan karena terkait dengan aturan pakeliran.

“Diceritakan detail kenapa terjadi penangkapan, bahwa ada pengkhianatan Belanda yang awalnya perundingan perdamaian, dengan kelicikan Belanda pangeran Diponegoro dibawa ke Ungaran Batavia, ke Manado dia menulis babad lalu dipindah ke Makassar,” katanya.

Ketua IKPNI DIY GBPH Prabukusumo menyatakan Pangeran Diponegoro sampai saat ini masih relevan untuk menjadi inspirasi dari semangat kepahlawanannya. Oleh karena itu pihaknya bersama Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (Patra Padi) menggelar pagelaran wayang kulit Pangeran Diponegoro.

“Sebetulnya Pangeran Diponegoro dan pahlawan lainnya tentu sangat meninspirasi. Ini bisa menimbulkan semangat generasi muda jiwa kepahlawan muncul, menjadikan jiwa nasionalis, jiwa Indonesia, menjadi generasi muda nusantara yang betul-betul bisa saling mengerti memahami menghormati menghargai antar suku, agam dan adat isti adat,” ujarnya.