Warga Ngampilan Jogja Turun ke Jalan Tolak Pemberlakuan Lalin Satu Arah

Aksi damai warga Ngampilan menolak kebijakan lalu lintas satu arah Jalan Letjend Suprapto, Kamis, (19/11/2020)-Harian Jogja - Hery Setiawan
19 November 2020 16:47 WIB Hey Setiawan (ST18) Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA— Sekelompok warga Ngampilan menggelar aksi damai di Jalan Letjend Suprapto. Mereka menolak penerapan giratori atau rekayasa lalu lintas satu arah di kawasan tersebut.

Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Ngampilan, Sudarmo menilai, sejak kebijakan itu diberlakukan sektor UMKM yang banyak dijalankan oleh warga setempat perlahan mengalami penurunan pendapatan. “Yang biasanya bisa berjualan normal, sekarang turun sampai 60%,” ujarnya, Kamis, (19/11/2020).

Meski pendapatan turun, kata Sudarmo warga bukan berarti pasrah dengan keadaan. Mereka telah mengupayakan alternatif usaha lain, seperti angkutan ojek maupun berdagang secara daring. Namun sayang, cara itu tak cukup jitu untuk memperbaiki perekonomian mereka.

Sudarmo menilai, rekayasa lalu lintas itu mendorong para pengendara memacu motor atau mobil dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, pengendara lain cukup kesulitan untuk berhenti atau memarkirkan kendaraan di sisi jalan.

BACA JUGA: Ribuan Kera Ekor Panjang Serang Lahan Pertanian di Bantul

“Kemarin saya melayangkan surat ke Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY. Isinya terkait penolakan warga terhadap pemberlakuan lalu lintas satu arah di Jalan Letjend Suprapto,” kata Sudarmo.

Ia meminta kepada Pemprov DIY agar segera meninjau kondisi lapangan. Termasuk meminta pendapat dari warga setempat terkait kebijakan jalan satu arah. “Harapannya aspirasi kami diperhatikan,” tambahnya.

Menurut Sudarmo, ada sekitar 200 pedagang yang berjajar di sepanjang Jalan Letjend Suprapto. Salah satunya pedagang bakso bernama Slamet Hadi Prayitno, 63.

Senada dengan Sudarmo, laki-laki yang akrab disapa Slamet itu menganggap kebijakan giratori membuat lalu lintas Jalan Letjend Suprapto menjadi lebih rawan. Pengendara memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

“Sampai saat ini belum ada rambu-rambu dilarang berhenti. Karena lalu lintas dari utara itu kenceng, orang yang mau parkir ke sisi barat jalan itu jadi agak takut,” katanya kepada Harian Jogja.


Kendati demikian, ia belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan terhadap dagangannya. Kalaupun omset menurun, itupun terjadi lantaran Pandemi Covid - 19, bukan semata karena kebijakan lalu lintas satu arah. “Masyarakat mungkin perlu waktu biar terbiasa,” tambahnya.