Isu Retak Prabowo-Jokowi Menguat, Pengamat Buka Fakta
Isu retaknya hubungan Prabowo dan Jokowi mencuat. Pengamat UNS menilai belum ada konflik terbuka jelang Pemilu 2029.
Aksi damai warga Ngampilan menolak kebijakan lalu lintas satu arah Jalan Letjend Suprapto, Kamis, (19/11/2020)-Harian Jogja/Hery Setiawan
Harianjogja.com, JOGJA— Sekelompok warga Ngampilan menggelar aksi damai di Jalan Letjend Suprapto. Mereka menolak penerapan giratori atau rekayasa lalu lintas satu arah di kawasan tersebut.
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Ngampilan, Sudarmo menilai, sejak kebijakan itu diberlakukan sektor UMKM yang banyak dijalankan oleh warga setempat perlahan mengalami penurunan pendapatan. “Yang biasanya bisa berjualan normal, sekarang turun sampai 60%,” ujarnya, Kamis, (19/11/2020).
Meski pendapatan turun, kata Sudarmo warga bukan berarti pasrah dengan keadaan. Mereka telah mengupayakan alternatif usaha lain, seperti angkutan ojek maupun berdagang secara daring. Namun sayang, cara itu tak cukup jitu untuk memperbaiki perekonomian mereka.
Sudarmo menilai, rekayasa lalu lintas itu mendorong para pengendara memacu motor atau mobil dengan kecepatan tinggi. Akibatnya, pengendara lain cukup kesulitan untuk berhenti atau memarkirkan kendaraan di sisi jalan.
BACA JUGA: Ribuan Kera Ekor Panjang Serang Lahan Pertanian di Bantul
“Kemarin saya melayangkan surat ke Ngarso Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur DIY. Isinya terkait penolakan warga terhadap pemberlakuan lalu lintas satu arah di Jalan Letjend Suprapto,” kata Sudarmo.
Ia meminta kepada Pemprov DIY agar segera meninjau kondisi lapangan. Termasuk meminta pendapat dari warga setempat terkait kebijakan jalan satu arah. “Harapannya aspirasi kami diperhatikan,” tambahnya.
Menurut Sudarmo, ada sekitar 200 pedagang yang berjajar di sepanjang Jalan Letjend Suprapto. Salah satunya pedagang bakso bernama Slamet Hadi Prayitno, 63.
Senada dengan Sudarmo, laki-laki yang akrab disapa Slamet itu menganggap kebijakan giratori membuat lalu lintas Jalan Letjend Suprapto menjadi lebih rawan. Pengendara memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.
“Sampai saat ini belum ada rambu-rambu dilarang berhenti. Karena lalu lintas dari utara itu kenceng, orang yang mau parkir ke sisi barat jalan itu jadi agak takut,” katanya kepada Harian Jogja.
Kendati demikian, ia belum merasakan dampak ekonomi yang signifikan terhadap dagangannya. Kalaupun omset menurun, itupun terjadi lantaran Pandemi Covid - 19, bukan semata karena kebijakan lalu lintas satu arah. “Masyarakat mungkin perlu waktu biar terbiasa,” tambahnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Isu retaknya hubungan Prabowo dan Jokowi mencuat. Pengamat UNS menilai belum ada konflik terbuka jelang Pemilu 2029.
Jadwal KRL Solo–Jogja Kamis 2 Juli 2026 lengkap semua stasiun. Tarif Rp8.000, cek jam keberangkatan terbaru di sini.
Anggaran droping air Gunungkidul dipangkas jadi Rp346,5 juta. BPBD pastikan tetap aman dengan dukungan dana BTT.
Pria asal Sleman tewas tertemper KRL di Klaten. Polisi selidiki penyebab, KAI imbau warga jauhi jalur kereta.
Inflasi Juni 2026 capai 3,34%. Menkeu sebut dipicu BBM dan pangan, diprediksi segera mereda karena faktor musiman.
Pemerintah resmi terapkan B50 mulai 1 Juli 2026. Pakar ITB sebut aman untuk mesin diesel, emisi lebih rendah.