Jadi Klaster Corona, Warung Bakmi di Gondomanan Sering Jadi Kerumunan Orang

Ilustrasi. - Freepik
19 November 2020 18:17 WIB Catur Dwi Janati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Munculnya kasus di warung yang menjajakan menu nasi goreng dan bakmi di Kecamatan Gondomanan menyebabkan penerapan protokol kesehatan di usaha kuliner kaki lima ini dipertanyakan. Tidak hanya warung, perilaku konsumen yang masih acuh terhadap protokol berpotensi menimbulkan sebaran.

Beberapa hari yang lalu Satgas Penanganan Covid-19 Kota Jogja mengumumkan adanya kasus di warung bakmi dimana total delapan orang termasuk sang pedagang terpapar Covid-19. Namun laporan dari wilayah menyebutkan warung bakmi sudah menerapkan beberapa protokol kesehatan. Camat Gondomanan, Budi Santosa yang melakukan operasi prokes tiap pekannya. "Kami memang di kecamatan kita sudah punya program protokol, tiap hari rabu kita keliling pakai tosa halo-halo [memberi imbauan], kemudian malam minggu kita juga keliling," ujarnya pada Kamis (19/11/2020).

BACA JUGA: Warga Ngampilan Jogja Turun ke Jalan Tolak Pemberlakuan Lalin Satu Arah

Berdasarkan pengamatan selama operasi keliling, Budi mengatakan jika warung bakmi sebenarnya sudah menerapkan protokol kesehatan seperti menyediakan sarana cuci tangan atau Hand Sanitizer. Dari aspek jaga jarak pun lokasi warung bakmi melebar yang bisa menerapkan jaga jarak. "Dari pantauan memang standarnya sudah [diterapkan], kaya cuci tangan, Hand Sanitizer, kalau jaga jarak memang itu kan melebar, jadi sebenarnya sudah masuk [prokes]," ungkap Budi.

Budi menyoroti konsumen yang mayoritas muda-mudi yang dinilai masih ada beberapa oknum yang tidak terapkan protokol jaga jarak dan masih sering berkerumun. "Iya itu [kerumunan konsumen], tapi sana memang agak kesulitan, belum ada barcode, [mayoritas] anak-anak muda itu. Tapi selama pandemi [keramaian warung] tidak seperti yang dulu, artinya ya ada laris tapi tidak terus kemruyuk kaya yang dulu gitu," ujarnya.

Disebutkan Budi jika pemilik usaha warung bakmi cukup responsif dalam penanganan kasus. "Yang punya warung dia responsif sejak Rapid itu dilaksanakan sendiri mandiri, tapi ndilalah tadi dapatnya dari mana kita enggak tahu," ungkapnya.