Pandemi, Perajin Gerabah Kasongan Kebanjiran Order Pot Bunga

Gerbang Kasongan, Bantul. - Wikipedia
20 November 2020 02:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Sejak adanya tren menanam bunga di tengah pandemi Covid-19, perajin gerabah Kasongan, Bantul kebanjiran pesanan pot bunga. Pembuatan pot bunga berbagai ukuran bahkan sudah over kapasitas karena saking banyaknya permintaan.

Salah satu perajin gerabah sekaligus pemilik Surya Craft di sentra kerajinan gerabah Kasongan, Rahmat Sholeh, 35, mengatakan saking banyaknya pemesanan dari berbagai daerah dirinya kesulitan mencari pekerja. Awalnya dia hanya mempekerjakan tiga orang pekerja, kini bertambah 7-12 orang untuk memenuhi pesanan khususnya pot bunga bahkan jumlah tersebut masih kurang.

Sejak new normal atau adaptasi kebiasaan baru (AKB) mulai ada pesanan untuk pembuatan tempat cuci tangan dari gerabah dan pot bunga, “Permintaan pot bunga yang paling meledak permintaannya,” kata Sholeh, Kamis (19/11/2020).

Baca juga: Kulonprogo Tambah 10 Kasus Baru dari Klaster Disdukcapil

Dia tidak mengetahui pesanan pot bungan berbagai ukuran banyak permintaan, namun ia menduga karena adanya tren berkebun di halaman rumah selama masa pandemi Covid-19 ini. Banyak masyarakat memanfaatkan waktu di rumah untuk bercocok tanam dan menanam tanaman hias di halaman rumah.

Imbasnya, kata Sholeh, pesanan pot bunga meningkat. Saat ini dengan jumlah pekerja 7-12 orang setiap orang bisa membuat 20 buah pot bunga. Harga pot bunga juga meningkat dari yang tadinya Rp5.000an kini mencapai Rp15.000 sampai ratusan ribu rupiah tergantung ukuran dan model pot bunga. “Harga itu masih rendah jika dibanding dijual oleh tangan kedua atau ketiga bisa dua kali lipat,” kata Sholeh

Maraknya pesanan pot bungan sehingga warga sekitar Kasongan juga ramai-ramai untuk membuat pot bunga berbahan tanah liat tersebut. Sementara pemesanan sendiri datang dari berbagai daerah seperti Surabaya, Sidoarjo, Bandung, dan Jakarta. Tidak hanya pemesanan namun yang datang langsung pada hari libur di sentra kerajinan kasongan juga banyak yang memburu pot bunga.

Banyaknya pesanan membuatnya kewalahan mencari pekerja untuk membuat pot bunga maupun produk vas bunga dan guci untuk pasar eskpor. “Ya memang saat ini para perajin gerabah di Kasongan baru banyak dapat rejeki karena pesanan tak pernah berhenti. Namun ini juga berdampak pada pesanan gerabah untuk diekspor juga tersendat karena harus melayani permintaan pot bunga untuk pasaran lokal yang tak kalah banyaknya,” ucapnya.

Untuk pasar ekspor vas bunga dan guci, bapak dari dua anak ini tetap memproduksi, bahkan ia bisa mengekspor dalam sebulan sebanyak empat kontainer. Dia mengaku sempat terdampak pandemi selama beberapa bulan. Namun sejak empat bulan terakhir permintaan ekspor dari lua negeri seperti Belanda, Inggris, dan Prancis sudah membuka kembali pasar ekspor.

Baca juga: Selain Covid-19 Waspadai Juga DBD

Hanya, saat ini ia baru mampu mengekspor sekitar dua kontainer dalam sebulan karena perajin di kawasan kerajinan Kasongan sibuk memenuhi pesanan pot bunga untuk pasar lokal.

Darmono salah satu perajin gerabah di Kasongan mengaku kewalahan untuk memenuhi pesanan dari pengusaha gerabah di Kasongan bahkan harus menolak pesanan gerabah karena kekurangan tenaga. “Saya buat pesanan gerabah hanya mengandalkan anggota keluarga saya saja sehingga tidak mungkin memenuhi semua permintaan dari pengusaha gerabah di Kasongan,” ucap dia.

Menurut dia, hampir semua perajin gerabah di Kasongan saat ini over pesanan sehingga pesanan tidak bisa dikerjakan dalam waktu yang cepat dan harus rela menunggu waktu lebih lama. Bahkan dia mengaku baru pertama ini pesanan pot bunga banyak di sentra kerajinan Kasongan.