Jadi Target Penelusuran, Warga di Kulonprogo Ini Sempat Menolak di-swab

Ilustrasi. - Freepik
25 November 2020 18:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, mempercepat proses penelusuran kontak erat menyusul peningkatan kasus Covid-19 di Bumi Menoreh. Bagi masyarakat yang masuk radar tracing, diminta untuk kooperatif, karena langkah ini merupakan satu-satunya upaya antisipasi penyebaran virus agar tidak meluas.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Fajar Gegana mengatakan dirinya telah meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat untuk memperluas dan mempercepat proses tracing terhadap setiap temuan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di Kulonprogo. Jika ditemukan kasus positif, proses tracing terhadap kontak erat diusahakan bisa berlangsung dalam kurun waktu 24 jam.

"Saya sudah sampaikan ke Dinkes, tentang proses tracing cepat ini, kalau perlu dalam kurun waktu 24 jam bisa diketahui berapa kontak eratnya. Jika sampai terlambat kami khawatir virus ini kian menyebar dan menjangkiti lebih banyak orang," kata Fajar, Rabu (25/11/2020).

Demi kelancaran proses penelusuran kontak erat, Fajar meminta seluruh masyarakat yang tinggal di Kulonprogo untuk kooperatif. Jika ada warga yang dinyatakan masuk dalam kontak erat kasus positif, maka wajib mengikuti prosedur yang berlaku. Masyarakat tidak boleh menghindar yang mana itu bisa menyulitkan kinerja petugas di lapangan.

BACA JUGA: KPK Benarkan Novel Baswedan Kepala Satgas Penangkapan Menteri Edhy KKP

"Kalau memang ada yang masuk dalam daftar tracing entah itu masuk ring 1 maupun 2, masyarakat harus kooperatif, jangan malah menghindar, ini demi keselamatan kita semua," ucapnya.

Enggan Ikut Tracing

Apa yang dikatakan Fajar itu berkaitan dengan kasus di Kapanewon Pengasih. Diketahui ada salah satu warga di Kalurahan Margosari, Pengasih yang enggan dimasukkan ke dalam kontak erat meski yang bersangkutan pernah melakukan interaksi ndengan kasus terkonfirmasi positif Covid-19.

Hal itu diungkapkan Panewu Pengasih, Triyanto Raharjo. Dia menerangkan peristiwa itu bermula ketika gugus tugas Margosari mendapati adanya warga yang terkonfirmasi positif Covid-19 pekan lalu. Ketika ditelusuri, penderita tersebut pernah mengikuti tahlilan di salah satu rumah warga. Gugus tugas kemudian melakukan tracing dan memperoleh sejumlah kontak erat termasuk warga yang bersangkutan tersebut.

"Yang bersangkutan merasa keberatan lantaran hanya dirinya dan segelintir orang saja yang masuk dalam tracing tersebut. Menurutnya banyak orang yang ikut dalam tahlilan itu, tapi tidak ikut ditracing," kata dia.

Terkait hal itu, pemerintah kapanewon bersama gugus tugas telah melakukan pendekatan dan edukasi kepada warga yang bersangkutan. Dan saat ini warga tersebut kata Triyanto sudah Legawa dan siap mengikut swab test.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan peristiwa yang terjadi di Pengasih itu sejatinya jamak ditemui di tempat lain. Hal itu menurutnya terjadi karena masih minimnya pengetahuan soal pentingnya tracing dan adanya rasa takut jika nanti dinyatakan positif Covid-19.

"Kadang-kadang ga mau itu karena takut. Takut karantina, apalagi jika nanti hasilnya positif. Masyarakat juga takut kalau nanti positif jadi gak bisa kerja. Belum lagi ada stigma bahwa terinfeksi Covid-19 itu aib. Tapi untuk poin terkahir, saya lihat stigma itu sudah hampir tidak ada," ujarnya.

Baning mengatakan aksi semacam itu tidak boleh dicontoh oleh masyarakat lain. Sebab selain menyulitkan kinerja petugas medis, bagi mereka yang menyatakan tidak mau ditracing padahal masuk dalam kontak erat merupakan sebuah pelanggaran sesuai yang sudah diatur dalam UU RI no 16/2018, tentang Kekarantinaan Kesehatan.

"Harusnya ga boleh menolak, karena hal ini sudah diatur dalam UU karantina dan wabah. Kalau warga menolak bisa kena pasal ini," ucapnya.