Simulasi Bencana di Kepatihan Tingkatkan Kesiapsiagaan Penyelamatan
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Seorang anak menyimak pembelajaran yang disiarkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari untuk PAUD hingga SMA melalui TVRI. /ANTARA FOTO-Saiful Bahri
Harianjogja.com, JOGJA-Kendati telah berjalan lebih dari satu semester, sekolah dengan sistem pembelajaran jarak jauh selama masa pandemi covid-19 masih menyisakan sejumlah persoalan. Dari sisi akademis, lebih dari 50% siswa SD, SMP, SMA/SMK kesulitan memahami pelajaran yang disampaikan.
Hal ini terungkap pada hasil survey Komisi D DPRD DIY, dengan melibatkan 925 responden yang terdiri dari siswa, orang tua siswa dan guru. Sekretaris Komisi D DPRD DIY, Sofyan Setyo Darmawan, menuturkan, dari sisi akademis, 60% siswa SD tidak paham pelajaran yang disampaikan.
Presentase ini diikuti oleh tingkat pendidikan di atasnya, dimana paling parah berada di tingkat SMP, yakni 80%. Sementara tingkat SMA sebesar 58%. “Selain itu, persoalan yang harus diperhatikan yakni psikososial siswa selama pembelajaran jarak jauh,” ujarnya, beberapa waktu lalu.
Baca juga: 238 Petugas Pilkades Sleman Reaktif Rapid Test
Berdasarkan survei ini, siswa mengalami tekanan psikologis berupa bosan, sedih, tertekan, kesepian, tidak nyaman dan bingung, dengan presentase semua tingkat pendidikan di atas 80%. Untuk SD sebesar 84%, SMP 96% dan SMA 88%.
Pada sisi sosial, penggunaan gadget juga berdampak pada perilaku siswa, dimana mereka menjadi lebih ketergantungan pada gadget. “Gadget bikin males gerak, komunikasi dengan orang tua terbata-bata. Siswa terjebak persoalan gadget untuk non belajar. Pada jam semestinya sudah selesai belajar, hampir tidak mungkin gadget lepas,” ungkapnya.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY, Didik Wardaya, mengakui jika pembelajaran jarak jauh memang belum berjalan maksimal. Berdasarkan evaluasinya, sistem pembelajaran ini efektivitasnya hanya berkisar 60-70%.
Persoalan jaringan internet menurutnya turut mempengaruhi pelaksanaan pembelajaran jarak jauh. Di DIY terdapat setidaknya 49 titik blank spot yang tidak memiliki jaringan internet. “49 titik diganti jaringan fiber optic mudah-mudahan Desember ini selesai. Untuk akses informasi lebih mudah,” katanya.
Baca juga: Buka Layanan COD, PT Pos Jogja Dorong UMKM Berkembang
Ia melihat sejauh ini pembelajaran jarak jauh masih dilakukan paling banyak menggunakan aplikasi whatsapp. Padahal, Pemda DIY sebenarnya sudah memiliki sistem pembelajaran jarak jauh yang telah dikembangkan sejak 2015 lalu yakni portal Jogja Belajar.
“Maret mulai covid, kami manfaatkan Jogja Belajar untuk salah satu penyangga KBM [kegiatan belajar-mengajar]. Awalnya tertatih karena biasanya sehari yang akses hanya 50.000, melonjak menjadi ratusan ribu,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemda DIY gelar simulasi bencana gempa di Kompleks Kepatihan untuk tingkatkan kesiapsiagaan. ASN dilatih penyelamatan diri dan penanganan darurat di Yogyakarta.
Pemda DIY matangkan penataan eks Parkir ABA dan Panggung Krapyak dengan konsep ruang hijau minim bangunan, RTH ditargetkan mulai 2026.
Polresta Banyumas menangkap tiga pelaku pencurian aset BTS di dua lokasi dan menduga aksi dilakukan di banyak TKP lain.
Bukan cuma gaya menyetir, ini 8 faktor teknis seperti tekanan ban, oli, hingga modifikasi pelek yang bikin mobil boros BBM. Simak tips solusinya.
Orang tua diingatkan waspadai risiko game online seperti Minecraft, Roblox, dan Fortnite yang berpotensi jadi sarana kejahatan terhadap anak.
Aston Villa juara Liga Europa 2026 usai mengalahkan Freiburg 3-0. Pangeran William menangis haru di tribun stadion.