Protokol Kesehatan di Tempat Wisata di DIY Harus Diperketat

Focus Group Discussion Prokes Tempat Wisata Harus Diperketat yang diadakan Satgas Penanganan Covid-19 bekerja sama dengan Harian Jogja, Kamis (17/12 - 2020).
17 Desember 2020 21:27 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pariwisata menjadi bidang yang paling terdampak pandemi Covid-19. Upaya membangkitkan kembali pariwisata harus berhadapan dengan protokol kesehatan (prokes) pencegahan Covid-19. Dibutuhkan upaya lebih tegas dalam menerapkan prokes di tempat wisata.

Pengamat pariwisata, Hendrie Adji Kusworo, mengungkapkan prokes di tempat wisata tidak cukup. Dibutuhkan upaya yang lebih tegas dalam  upaya mencegah penularan Covid-19. "Dalam konteksnya ada enam hal sebagai background," katanya, dalam Focus Group Discussion Prokes Tempat Wisata Harus Diperketat yang diadakan Satgas Penanganan Covid-19 bekerja sama dengan Harian Jogja, Kamis (17/12/2020).

Pertama, esensi turisme berkurang dari adanya PSBB. Inti pariwisata itu adalah getting out of the environment, sedangkan PSBB mengimbau warga tetap di rumah. Kedua, penutupan tempat wisata, pemberhentian opeasional kegiatan wisata ini punya implikasi yang luar biasa, dampaknya adalah industri pariwisata dan pendukungnya kolaps.

Dampak ketiga, penerapan prokes clean, health, savety dan environment (CHSE) untuk pendukung pariwisata dan pendukungnya. Selama ini, menurutnya industri pariwisata sudah sangat aware dengan prinsip ini.

Keempat, rentang kesempatan rekreasi di dalam rumah itu jauh lebih sempit dibandingkan dengan di luar rumah. "Makanya ketika pariwisata sedikit dibuka, orang-orang seperti laron keluar, karena di dalam rumah sangat sempit, sensasi rekreasi di di luar rumah tidak bisa digantikan di dalam rumah," kata dia.

Kelima, perlu diperhatikan menghadapi situasi pandemi ini. Terakhir, kebijakan akomodatif diambil, yakni mengakomodasi sektor kesehatan dan ekonomi tetap jalan dengan logika gas dan rem.

Narasumber kedua, Pendiri Komunitas Malam Museum, Erwin Djunaedi, mengungkapkan ada penyesuaian yang dilakukan museum di masa pandemi ini. "Penyesuaian meliputi di sisi penyajian, publikasi dan fasilitasi karena berhubungan langsung dengan pengunjung. Sedangkan pengkajian, pengumpulan, registrasi dan perawatan museum dilakukan di belakang layar, jadi tidak terdampak," jelasnya.

Pandemi membuat orang harus di rumah, dan menurutnya, itu adalah hal yang sangat tabu di pariwisata. Tidak mungkin menikmati sebuah destinasi kalau tidak datang langsung, karena pengalaman langsung berbeda dengan hanya menikmati dari foto atau video.

Saat ada pandemi, banyak museum ditutup. Saat itu ada pengelola yang mengubah aktivitas wisata di museum, seperti dengan menggunakan media sosial untuk menyosialisasikan koleksinya, memberikan gambaran diorama, hingga edukasi topik yang faktual. Event dan layanan online tidak hanya posting tetapi juga kegiatan virtual seperti games online, yang bisa dikerjakan lewat daring melalui postingan di medsos. Ada pula virtual tur,. Namun intinya, museum harus adaptif dengan kondisi pandemi.

Kepala UPT Malioboro, Ekwanto, menjelaskan pihaknya berkomitmen untuk menegakkan prokes di Malioboro meski sulit. "Pengunjung yang melanggar, sampai saat ini belum ada denda, masih bersifat edukatif, sanksi sosial, seperti membersihkan sampah dan puntung rokok, mengucapkan Pancasila," katanya.

Di kawasan Malioboro, menurutnya prokes sudah diterapkan sejak awal April 2020, atau delapan bulan hingga saat ini. Prokes tidak lepas dari TKP atau tempat khusus parkir. Mulai tempat parkir, bus yang masuk, kru atau leader-nya langsung menemui petugas di kantong parkir untuk menyerahkan dokumen parkir, seperti dari mana asalnya, jumlah pengunjung, dibarengi petugas TKP naik ke bus, untuk cek suhu badan satu per satu.

Setelah selesai, penumpang tidak langsung turun. Mereka harus memperhatikan agar turun tidak berbarengan biar tidak terjadi kerumunan. Jika sudah longgar, baru penumpang turun. Penumpang juga harus cuci tangan sebelum masuk kawasan Malioboro, di wastafel yang sudah banyak disediakan.

"Begitu masuk Malioboro, kami lakukan lagi prokes. Ada zonasi-zonasi, ada lima zonasi masing-masing maksimal 500 orang. Jika sudah melebihi, petugas akan mengimbau agar pengunjung yang sudah lama diminta bergeser dan berganti dengan pengunjung lainnya," jelasnya.

Malioboro juga menerapkan one way di jalur pedestrian. Sisi timur untuk jalan ke selatan, sedangkan pengunjung yang parkir di selatan harus jalan di sisi barat. Jika mereka ingin ke seberangnya, akan dibantu menyeberang oleh petugas Jogoboro. Selain itu, tempat duduk di jalur pedestrian hanya bisa digunakan oleh satu orang.