UAJY Gelar Pengukuhan Guru Besar Bidang Teknik Sipil

Pengukuhan Guru Besar dalam Bidang Teknik Sipil Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Jumat (18/12 - 2020).
19 Desember 2020 01:17 WIB Media Digital Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Meskipun dalam kondisi pandemi Covid-19, Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) terus bergerak meraih prestasi dengan bertambahnya Guru Besar dalam Bidang Teknik Sipil yang dikukuhkan pada Jumat (18/12/2020).

UAJY mengadakan Rapat Terbuka Senat Akademik Universitas dalam rangka Penyampaian Pidato Pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. Ir. A.M. Ade Lisantono, M.Eng. Acara ini diadakan secara daring yang disiarkan melalui kanal Youtube UAJY dan luring terbatas yang dihadiri oleh Sekretaris SAU dan Rektorat UAJY serta Dekan Fakultas dengan tetap menegakkan protokol kesahatan yang ketat.

Prof. Dr. Ir. A.M. Ade Lisantono, M.Eng. menempuh pendidikan S3 di Institut Teknologi Bandung dan mempunyai banyak pengalaman dalam penelitian, pengabdian serta meraih berbagai penghargaan. Prof. Ade merupakan salah satu Dosen Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik UAJY yang berprestasi dan aktif dalam Persatuan Insinyur Indonesia. Selain itu, Ia juga aktif menuliskan beberapa penelitiannya yang dipublikasikan melalui beberapa jurnal, dan turut serta merancang pembangunan beberapa tempat ibadah di Yogyakarta.

Dalam pengukuhannya, Prof. Ade menyampaikan pidato yang berjudul “Elemen Struktur Beton Bertulang dan Teknologi Beton Berbasis Kearifan Lokal untuk Menunjang Pembangunan Berkelanjutan”.  Topik ini selaras dengan lima tema yang ada dalam Rencana Strategis Penelitian UAJY, yaitu tentang kebencanaan, kemiskinan, multikulturalisme, kearifan lokal, dan adaptif terhadap kebutuhan global serta selaras dengan Grand Research Design Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik UAJY.

“Studi ini berangkat dari dampak gempa Jogja pada tahun 2006 dengan skala 5,9 SR yang menyebabkan 109.028 bangunan runtuh total, 96.009 bangunan dalam kategori rusak berat dan sedang, serta 73.669 bangunan dalam kategori rusak ringan serta dilaporkan pula bahwa korban jiwa akibat gempa tersebut sebanyak 4.710 orang,” jelas Ade.

Gempa tersebut memberikan pembelajaran bagi masyarakat bahwa ke depan membangun rumah itu harus memenuhi kriteria tahan gempa. Salah satu upaya untuk mengurangi resiko gempa pada bangunan adalah dengan memilih bahan bangunan yang lebih ringan. Hal ini dimaksudkan agar gaya inersia akibat gempa akan menjadi lebih kecil saat bangunan tersebut diguncang gempa. 

Penelitian ini mencari bagaimana cara struktur beton bangunan lebih kokoh ketika terjadi gempa, karena setelah terjadinya gempa Jogja pada tahun 2006 banyak pemilik gedung yang khawatir akan kekuatan struktur bangunan mereka.

“Harapannya dengan hasil dari studi ini akan bermanfaat untuk menunjang pembangunan berkelanjutan yang struktur beton bertulangnya dapat lebih toleran dengan guncangan gempa,” tambah Ade. (ADV)