Pemkot Jogja Kebut Bersihkan Luberan Sampah di TPS Akibat Penutupan TPST Piyungan

Sejumlah armada pengangkut sampah lalu lalang di sekitar TPST Piyungan, Rabu (23/12/2020). Setelah ditutup warga beberapa hari terakhir, kini TPST Piyungan dibuka kembali. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
23 Desember 2020 17:37 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Dinas Lingkungan Hidup Kota Yogyakarta berusaha mempercepat upaya normalisasi luberan sampah yang terjadi di seluruh depo dan tempat pembuangan sementara di kota tersebut akibat Tempat Pembuangan Sampah Terpadu Piyungan tutup sejak Jumat (18/12/2020) hingga Selasa (22/12/2020).

“Harapannya, normalisasi kondisi temat pembuangan sementara dan depo sampah bisa dilakukan dalam tiga hari,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Rabu (23/12/2020).

Menurut Sugeng, DLH Kota Yogyakarta sudah berusaha membuang sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan di Kabupaten Bantul pada Selasa (22/12/2020) siang. Namun upaya tersebut tidak membuahkan hasil maksimal.

Sugeng mengatakan, terdapat 30 truk yang sudah masuk ke area penimbangan sampah di kawasan TPST Piyungan, namun hanya tiga truk yang berhasil menurunkan sampah. Sisanya harus kembali pulang ke Yogyakarta karena masih ada penolakan dari warga dengan memblokir TPST.

“Setelah dilakukan komunikasi dengan warga bersama Pemerintah DIY, maka disepakati TPST Piyungan dibuka mulai Rabu (23/12/2020),” katanya.

Sugeng mengatakan, langsung mengerahkan 50 truk yang sudah dipenuhi sampah untuk membuang sampah ke TPST Piyungan sejak pagi hari.

“Truk yang turun dari TPST Piyungan kemudian melakukan eksekusi luberan sampah di beberapa titik yang dinilai jadi prioritas karena sudah meluber sampai ke badan jalan. Misalnya di Jalan Hayam Wuruk, Jalan Urip Sumoharjo dan di sekitar Lapangan Karang,” katanya.

Proses eksekusi luberan sampah di hampir semua depo dan TPS, lanjut Sugeng dapat dipercepat jika mengerahkan bantuan alat berat. “Selama ini, normalisasi sampah di TPS dilakukan secara manual. Mengandalkan personel yang dimiliki dinas. Tetapi, kalau harus sewa alat berat, biayanya juga mahal,” katanya.

Seluruh armada pengangkutan sampah diturunkan untuk menangani luberan sampah tersebut termasuk tiga truk convenctor yang baru saja diterima DLH Kota Yogyakarta. Setiap truk memiliki kapasitas hingga tujuh ton sampah.

Rata-rata, volume sampah yang dihasilkan Kota Yogyakarta mencapai 360 ton per hari, sehingga diperkirakan tumpukan sampah sudah mencapai lebih dari 1.500 ton dalam lima hari.

“Kejadian penutupan TPST Piyungan oleh warga tidak hanya terjadi sekali ini saja. Sudah berkali-kali terjadi,” katanya.

Oleh karenanya, Sugeng mengatakan, diperlukan solusi jangka panjang untuk mengatasi permasalahan sampah di Kota Yogyakarta, salah satunya memaksimalkan pemilahan sampah dari rumah tangga yaitu memisahkan sampah organik dan anorganik.

Sampah organik dapat diolah menjadi kompos dengan berbagai metode pengolahan, sedangkan sampah anorganik dapat dikelola menjadi barang lain atau dimasukkan ke bank sampah.

“Selama ini, masyarakat masih menilai sampah hanyalah sampah. Cukup membayar dengan biaya tertentu untuk memuang sampah. Selama tidak terlihat di rumah, maka sampah bukan masalah. Pola pikir ini perlu diubah, tetapi tidak mudah,” katanya.

Sumber : Antara