Lakukan Inovasi Teknologi, Museum Vredeburg Peroleh Predikat WBK

Kepala Museum Vredeburg, Suharja. - Ist/Vredeburg.
27 Desember 2020 10:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta melakukan inovasi teknologi untuk memudahkan layanan pengunjung seperti virtual museum hingga tiket secara online. Museum ini memperoleh predikat wilayah bebas korupsi (WBK).

Kepala Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta Suharja menerangkan berbagai inovasi telah dikembangkan demi memberikan layanan kepada pengunjung.  Pihaknya melakukan pengelolaan Forum Komunitas Museum Benteng Vredeburg dalam upaya menjadikan museum sebagai fasilitator dan ruang publik.

BACA JUGA : Wisata Museum Benteng Vredeburg Akan Dibuka Secara

“Ini sekaligus menjadikan komunitas sebagai agen museum di tengah masyarakat. Kemudian kami lakukan inovasi pengembangan teknologi monitoring kedisiplinan pegawai,” terangnya dalam rilis yang diterima Minggu (27/12/2020).

Di era saat ini, kata dia, museum harus terbuka dengan masyarakat. Vredeburg menyediakan layanan pengelolaan informasi lewat media sosial serta program Wadul atau Whatsapp aduan dan layanan informasi museum. Hal ini untuk memudahkan komunikasi museum dengan masyarakat.

Adapun inovasi teknologi lainnya, saat ini untuk berkunjung ke museum yang datang langsung tidak perlu membeli tiket di pintu masuk, melainkan bisa secara elektronik atau online lewat website museum. Pengelolaan tiket masuk secara elektronik dan non-tunai ini untuk memberikan kemudahan layanan serta meniadakan terjadinya penyimpangan.

“Inovasi pengembangan teknologi dalam pengelolaan pameran dan pendukungnya yang futuristik, antara lain holorama, virtual museum, dream corner dan thermal detector,” ujarnya.

BACA JUGA : Cerita Mistis Benteng Vredeburg Jogja, Serdadu Tanpa

Suharja menyatakan keberhasilan Museum Benteng Vredeburg meraih predikat WBK diraih melalui proses panjang dengan mengandalkan sinergitas baik secara internal maupun eksternal. Masukan pengembangan museum tidak hanya didasarkan pada usulan pihak internal tetapi juga berasal dari masukan dan evaluasi dari masyarakat.

“Pengembangan berbasis sinergitas ini menghasilkan produk pengembangan yang inovatif dan efektif untuk kepuasan dan kebutuhan publik,” katanya.