Miniatur Kapal Pesiar Asal Genjahan Berlayar Sampai Amerika

Pradana Famila Sholikhin saat menunjukan kreasi miniatur kapal pesiar dari bahan anyaman bambu di rumahnya di Dusun Tanggulangin, Kalurahan Genjahan, Ponjong. Rabu (27/1/2021). - Harian Jogja/David Kurniawan.
30 Januari 2021 11:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Anyaman bambu sudah lama menjadi bahan kerajinan tangan. Namun ditangan Pradana Famila Sholikhin,28, asal Dusun Tanggulangin, Genjahan, Ponjong menjadi kerajinan dengan nilai jual hingga belasan juta rupiah. Sejak 2017 lalu, ia membuat miniatur kapal pesiar berbahan anyaman bambu. Berikut kisah yang dihimpun wartawan Harian Jogja, David Kurniawan.

Tumpukan bambu kering tersimpan di samping rumah milik Pradana Famila Sholikhin di Dusun Tanggulangin, Kalurahan Genjahan, Kapanewon Ponjong. Jika masuk ke dalam terdapat dua miniatur kapal pesiar yang ada di meja. Sedangkan di meja lebih kecil terdapat satu buah miniatur kapal phinisi. Ketiga kerajinan ini dibuat dengan menggunakan bahan baku anyaman bambu.

Tak jauh dari meja pajangan miniature kapal itu, terdapat sebuat sebuah wadah yang berisi bilahan-bilah bambu yang sudah diiris tipis-tipis. Tak jauh dari lokasi penyimpanan itu, terdapat sebuah meja yang diatasnya terdapat beberapa peralatan seperti bor, gergaji hingga pasah untuk memilah batang bambu menjadi bilahan tipis-tipis. Di meja inilah, lajang berusia 28 tahun itu mengkreasikan miniatur kapal pesiar berbahan anyaman bambu.

BACA JUGA : Kisah Rohmad Pertahankan Bisnis Genting Kripik Meski

Pada saat Harianjogja.com berkunjung, Rabu (27/1/2021), Pradana sedang membilah bambu. Proses ini dilakukan dengan teliti karena ketebalan bambu tidak lebih dari satu millimeter sehingga butuh ketekunan untuk mendapatkan hasil yang sempurna.

Pembilahan dilakukan berkali-kali karena mulai dari memotong batang bambu kemudian dilanjutkan membelah menjadi ukuran yang sangat tipis. Setelah batang bambu teriris tipis, masih butuh proses finishing agar bilah-bilahan bambu terlihat halus dan rapi. “Saya gunakan pasah dan hasilnya bagus dan sesuai dengan ukuran yang diinginkan,” katanya, kemarin.

Menurut dia, usaha membuat kerajinan miniatur kapal pesiar sudah dijalani sejak empat tahun lalu. Sebelum menggeluti usaha ini, Pradana mengaku sempat berkelana mulai dari Kalimantan hingga Jakarta untuk bisa mendapatkan penghasilan sendiri.

BACA JUGA : Perajin Sangkar Burung di Kulonprogo Banjir Pesanan

“Terakhir saya membuat keripik di Jakarta. Namun sebagai anak terakhir harus pulang untuk menemani orang tua di rumah,” katanya.

Dimakan Rayap

Ide membuat miniatur muncul saat ia bermain ke rumah temannya yang pulang dari bekerja di kapal pesiar. Saat itu, Pradana melihat miniatur kapal yang berbahan fiber. “Saya pun langsung tertarik dan memiliki ide untuk membuat dari anyaman bambu,” katanya.

Ia pun mulai membuat miniatur kapal pesiar. Untuk bentuk, dia mencomot gambar-gambar di internet. Proses pembuatan kapal ini ternyata tak semudah yang dibayangkan karena setelah berhasil membuat satu miniatur, timbul masalah karena bambu dimakan bubuk rayap. “Ternyata tidak tahan lama karena ada bubuk rayap yang menggangu,” ungkapnya.

Permasalahan ini pun ia konsultasikan dengan seorang teman yang bekerja sebagai pegiat seni. Hasil konsultasi itu, ia mendapatkan saran bahwa batang bambu tidak bisa dipotong sembarangan karena ada masa-masa tertentu untuk pemotongan.

“Saya juga konsultasi dengan tetua di desa. Ternyata benar, bambu tidak bisa dipotong sembarangan agar mendapatkan kualitas yang bagus,” katanya.

Ia mengakui saran ini terlihat aneh, tapi sudah membuktikan omongan tersebut bukan isapan jempol belaka. “Ternyata benar saat dipotong di waktu tepat, maka bambu tidak akan dimakan bubuk rayap,” ujarnya.

BACA JUGA : Pandemi, Perajin Gerabah Kasongan Kebanjiran Order Pot

Untuk pembuatan minatur kapal pesiar, Pradana tidak hanya menggunakan bilah bambu, tapi juga menambahkan kulit bambu dan kayu. Untuk kayu dijadikan dasaran minitur, setelah itu dipasang anyaman bambu. Selanjutnya agar lebih kuat dengan ditempeli lapisan kulit bambu.

Beri Garansi

“Untuk hasil kerajinan, asalkan tidak jatuh saya berani menggaransi selama satu tahun. Saya bersyukur hingga sekarang belum ada yang mengeluh berkaitan dengan miniatur kapal yang saya buat,” katanya.

Satu kapal dihargai Rp3-12 juta tergantung dengan ukuran kapal. Adapun pengerjaan membutuhkan waktu satu hingga dua bulan. “Semakin besar ukuran, maka pengerjaannya juga semakin lama. selain itu, tingkat kerumitan juga jadi pertimbangan,” katanya.

Untuk pemasaran, ia banyak menggunakan media sosial secara online. Miniatur kapal miliknya sudah dikirim ke Gorontalo, Kalimantan, Jawa Timur hingga Jakarta. Bahkan ia mengakui kapal yang dibuat sudah ada yang dibawa ke Amerika Serikat untuk koleksi.

“Kebetulan ada orang indoensia yang tinggal di sana dan tertarik dengan kerajinan yang saya buat,” katanya.

BACA JUGA : Calon Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo Dorong Inovasi

Disinggung mengenai dampak pandemi corona, Pradana mengakui usaha yang dijalani ikut terpukul. Terlebih lagi, segmentasi pembeli yang dibidik adalah orang-orang yang bekerja di kapal pesiar. “Memang ada order tapi tidak banyak. Apalagi saat ini banyak orang yang bekerja di kapal pesiar tidak berlayar karena pandemi sehingga ikut memberikan dampak,” katanya.

Untuk mensiasati sepinya order, ia pun membuat miniature kapal lain seperti pinishi dengan bahan bambu. Selain itu, ia juga belajar membuat miniatur kapal dengan bahan fiber.

“Kalau dari kesulitan jelas lebih sulit dengan anyaman bambu karena semua dikerjakan menggunakan tangan. Beda, yang menggunakan bahan fiber sudah bisa dibantu dengan komputer sehingga desainnya lebih mudah,” katanya.