Kubah Lava Merapi Ternyata Masih Terus Tumbuh, Ini Risikonya

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
01 Februari 2021 20:27 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kendati menyusut signifikan setelah erupsi cukup besar pada 27 Januari lalu, kubah lava Gunung Merapi hingga kini masih terus tumbuh sehingga menyebabkan potensi guguran lava dan awan panas masih terus terjadi.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Hanik Humaida, menjelaskan saat ini pertumbuhan kubah lava masih terjadi meski tidak cepat. “Sampai saat ini berdasarkan data monitoring tidak ada tanda-tanda akan adanya runtuhnya kubah bersamaan,” ujarnya, Senin (1/2/2021).

BACA JUGA: Kasus Narkoba di Bantul Justru Meningkat saat Pandemi

Adapun volume kubah lava saat ini sebesar 78.600 meter kubik, dengan laju pertumbuhan 5.573 meter kubik per hari. Pada puncak Gunung Merapi juga terjadi perubahan morfologi yakni berupa jejak-jejak bekas guguran dan awan panas guguran yang semakin lebar dan panjang.

Dengan masih adanya pertumbuhan ini, maka awan panas guguran kemungkinan masih bisa terjadi dengan potensi bahaya masih sama dengan rekomendasi sejak awal Januari lalu, yakni di sektor selatan-barat daya dengan jarak maksimum 5 km.

Adapun aktivitas Gunung Merapi pada Senin (1/2/2021) pukul 00.00 WIB-18.00 WIB, terjadi delapan kali guguran lava dengan jarak maksimal 800 meter ke arah barat daya, hulu sungai Krasak dan Boyong. Pada kegempaan, terjadi 35 gempa guguran, sembilan gempa fase banyak dan satu gempa tektonik jauh.

Dengan tingkat aktivitas ini, status Gunung Merapi masih Siaga dengan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi sungai Boyong, Bedog, Krasak, Bebeng, dan Putih sejauh maksimal 5 km.