Demi Ternak, Pengungsi Merapi Memilih Pulang

Luncuran awan panas Gunung Merapi menuju hulu Sungai Krasak sekitar pukul 12.44 WIB terlihat dari Kawasan Turi, Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Kamis (7/1/2021). - Harian Jogja/Gigih M Hanafi
01 Februari 2021 09:27 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Jumlah pengungsi yang berada di barak pengungsian Purwobinangun, Pakem, Sleman kembali mengalami penurunan. Berdasarkan catatan dari pemerintah Desa Purwobinangun, Pakem, Sleman, jumlah pengungsi yang berada di barak pengungsian total sebanyak 128 orang. Para pengungsi banyak memilih pulang demi ternak mereka.

Kepala Pelaksana Harian Unitlak Desa Purwobinangun Nurhadi mengatakan jika jumlah pengungsi sebanyak 128 orang berdasarkan catatan dari pemerintah desa Purwobinangun per Minggu (29/1/2021) hingga pukul 12.00 WIB.

BACA JUGA : Ancaman Merapi Berubah, Ratusan Pengungsi Dipulangkan

"128 pengungsi terdiri dari laki-laki sebanyak 46 orang dan perempuan sebanyak 82 orang. Jumlah KK ada 67 orang. Dari 128 orang, kelompok rentan ada 67 orang," ujar Nurhadi saat dikonfirmasi pada Minggu (31/1/2021).

Lebih lanjut, Nurhadi tidak menampik jika warga yang bukan masuk kategori kelompok rentan, artinya dari usia produktif kerap kembali ke rumahnya yang berada di dusun Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman. Alasan warga kembali adalah merumput untuk memberi pakan ternak mereka.

"Warga kembali untuk merumput. Kebanyakan yang kembali adalah bapak-bapak. Warga yang kembali ke rumahnya didominasi oleh usia produktif. Kembalinya warga ke atas tentunya atas dasar pengawasan dari desa melalui unitlak, BPBD Kabupaten Sleman, dan petugas dari Basarnas. Portal juga masih dijaga, tujuannya untuk melakukan skrining terhadap warga dari luar Turgo," jelasnya.

BACA JUGA : Desa Glagaharjo Siapkan Mekanisme Pemulangan Pengungsi

Sementara itu, Muriyem, 59, warga Dusun Turgo RT 3 RW 2, Purwobinangun, Pakem, Sleman, mengatakan jika kebutuhannya di barak pengungsian dipenuhi dengan baik oleh pemerintah desa Purwobinangun. Aspek keamanan juga dinilai olehnya terlaksana dengan baik di barak pengungsian.

Mengurus Ternak

"Di sini [barak pengungsian] aman, kebutuhan terpenuhi, dan pokoknya semuanya memenuhi syarat," ujar Muriyem saat diwawancarai di barak pengungsian Purwobinangun pada Minggu (31/1/2021).

Muriyem yang mengungsi ke barak pengungsian Purwobinangun bersama anaknya tersebut juga mengatakan jika keputusan untuk turun ke barak pengungsian merupakan kesepakatan antara dirinya dengan pemerintah desa Purwobinangun.

BACA JUGA : Pengungsi Merapi di Glagaharjo Dipulangkan

Adapun, suami Muriyem tidak ikut mengungsi dikarenakan harus mengurus ternak yang dimilikinya di rumah. Namun demikian, suaminya juga diklaim Muriyem selalu memantau aktivitas vulkanik Gunung Merapi.

"Di sini sama keluarga, anak. Suami tidak ikut ke sini, di rumah ngurusin ternak. Kalau malam juga masih di atas. Kemarin turun dengan dijemput. Keputusan untuk turun merupakan kerja sama. Warga menghendaki keamanan, didukung oleh kelurahan," terangnya.

Muriyem yang mempunyai rumah berjarak sekitar satu kilometer dari Kali Boyong tersebut juga mengatakan jika protokol pencegahan penularan Covid-19 harus dilakukan dirinya dan keluarganya di pengungsian. Pasalnya, pandemi Covid-19 belum berakhir.

"Terkait prokes, ya untuk memakai masker itu menjaga dari adanya virus Covid-19 oleh karena itu kebersihan merupakan kebutuhan kita semua. Jadi kita harus taat dengan peraturan atau protokol kesehatan. Ini juga untuk kita semua," ungkapnya.