Bukan Angin Puting Beliung, Ini Penjelasan BMKG Soal Angin Kencang di Blue Lagoon

Salah satu warga Widodomartani, Ngemplak, Sleman saat melihat kondisi Blue Lagoon pasca diterjang angin puting beliung pada Senin (1/2/2021). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
02 Februari 2021 22:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi (Staklim) DIY menyatakan jika angin dengan kecepatan kencang yang memporak-porandakan objek wisata Blue Lagoon di Widodomartani, Ngemplak, Sleman, bukanlah angin puting beliung.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi DIY Reni Kraningtyas mengatakan jika angin dengan kecepatan kencang yang sempat merusak sejumlah infrastruktur yang ada di objek wisata Blue Lagoon, bahkan sempat menumbangkan sebuah pohon berukuran sekitar 20 meter tersebut bukanlah angin puting beliung seperti yang dinyatakan oleh pihak pengelola Blue Lagoon.

"Itu [angin dengan kecepatan kencang] bukan angin puting beliung yang memutar tapi akibat dari downburst," ujar Reni saat dikonfirmasi pada Selasa (2/2/2021).

Baca juga: Lele Kembali Masuk Paket Program Bantuan Pangan di Kulonprogo

Downburst, lanut Reni, adalah sebuah kumpulan udara dingin yang terjadi karena diakibatkan oleh hujan yang mengalir ke bawah sampai dengan permukaan tanah. Selanjutnya, menyebar ke segala arah yang mengakibatkan terjadinya angin kencang. Downburst sendiri terjadi imbas dari awan cumulonimbus (CB).

"Downburst ini terjadi dari awan CB [Cumulonimbus]," sambung Reni.

Lebih lanjut, pihaknya menyatakan jika angin dengan kecepatan tinggi yang terjadi di objek wisata Blue Lagoon dalam istilah meteorologi disebut dengan dengan microbust.

"Microburst yang pertama kali jatuh ke permukaan akan berdampak paling parah karena mendapat kecepatan angin yang paling besar," terangnya.

Baca juga: Sebulan Terakhir, Jumlah Kematian karena Covid-19 di Bantul Melonjak Drastis

Downburst tidak dipungkiri oleh Reni mudah merobohkan rumah-rumah yang kontruksinya semi permanen atau bahkan pohon-pohon di sekitarnya. Adapun, durasi kejadiannya rata-rata berlangsung selama lima hingga 15 menit. Kecepatan angin yang dihasilkan microburst dapat mencapai lebih dari 50 km per/jam.

Angin dengan kecepatan tinggi sebelumnya memporak-porandakan objek wisata Blue Lagoon yang berlokasi di Widodomartani, Ngemplak, Sleman, pada Minggu (31/1/2021). Tidak ada korban jiwa atas peristiwa tersebut. Kerugian ditaksir hingga puluhan juta rupiah.

Ketua Pengelola Desa Wisata dan Budaya Blue Lagoon Tirta Budi Dusun Dalem, Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Suhadi mengatakan jika kejadian angin yang merusak sejumlah infrastruktur yang ada di Blue Lagoon terjadi pada sekitar pukul 15.00 WIB, Minggu (31/1/2021).

"Kejadian bencana alam di Blue Lagoon terjadi pada kemarin siang ya, Minggu (31/1). Kejadian berawal dari hujan deras terus disertai angin puting beliung. Rata-rata di wilayah Ngemplak terkena imbasnya. Namun, salah satu diantaranya desa wisata Blue Lagoon yang ikut terimbas dari hujan deras disertai angin puting beliung," ujar Suhadi saat dikonfirmasi pada Senin (1/2/2021).

Berdasarkan pantauan Harian Jogja, pada Senin (1/1/2021), pengelola Blue Lagoon dibantu oleh sejumlah unsur seperti Koramil Ngemplak, TRC BPBD Kabupaten Sleman, maupun warga setempat masih melakukan upaya pembersihan. Sejumlah pohon besar maupun pohon bambu yang tumbang dan sempat mengenai bangunan di desa wisata Blue Lagoon turut dipangkas.

"Hari ini (Senin, 1/1/2021) kita kerjasama dengan Koramil Ngemplak dan teman-teman mahasiswa, TRC BPBD Kabupaten Sleman, dan warga masyarakat serta pengelola melakukan pembersihan dan menentukan langkah antisipasi yang perlu diambil," sambung Suhadi.