Sleman Optimistis Perekonomian 2021 Membaik

Ngopi Bareng Bupati bertema Prospek Perekonomian Sleman pada 2021. - Istimewa
05 Februari 2021 17:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Bupati Sleman Sri Purnomo mengatakan pandemi Covid-19 sejak Maret tahun lalu menyebabkan persoalan di berbagai sektor usaha. Namun program vaksinasi yang mulai dijalankan diharapkan mampu menggairahkan perekonomian masyarakat di Sleman.

Sri mengatakan selama awal pandemi pada 2020 lalu, Pemkab Sleman memberikan beragam bantuan ke sektor-sektor ril seperti berbagai usaha jasa, wisata, perdagangan dan UMKM. Bantuan diberikan mulai dalam pendampingan, dana stimulan bantuan langsung tunai (BLT) hingga dana hibah bagi pelaku pariwisata. Bahkan pedagang pasar juga diedukasi agar tetap bisa berjualan di tengah pandemi. Ini dilakukan agar perekonomian masyarakat masih bergerak di tengah pandemi.

"Sektor pariwisata, restoran, UMKM dan lainnya cukup terdampak. Kami pun memberikan relaksasi pajak. Desa-desa wisata juga diberi bantuan agar tetap bisa beroperasi [secara terbatas] selama pandemi," katanya saat Ngopi Bareng Bupati bertema Prospek Perekonomian Sleman pada 2021, Jumat (5/2/2021).

Kegiatan yang diprakarasi Harian Jogja bersama Pemkab Sleman, PUDAM Tirta Sembada Sleman dan PHRI Sleman itu bertujuan untuk melihat prospek perekonomian Sleman tahun ini. Selain menghadirkan Bupati Sleman, acara ini mendatangkan dua narasumber lainnya masing-masing Direktur Utama PDAM Tirta Sembada Sleman Dwi Nurwata dan Ketua PHRI Sleman Joko Paromo.

Sri optimistis sektor wisata Sleman akan segera bangkit setelah program vaksinasi tahun ini. "Ini mudah-mudahan terjadi serentak di Indonesia, kalau hanya di Sleman ya kebangkitan ekonomi masih belum bisa maksimal," katanya.

Dia mencontohkan saat ini sekitar 250.000 mahasiswa dari berbagai daerah belum kembali ke Sleman. Jika seluruh proses vaksinasi selesai, diharapkan mereka kembali ke Sleman sehingga roda perekonomian masyarakat kembali bergerak. "Memang betul banyak usaha yang tidak bergerak, tetapi di sisi lain ada usaha yang melesat. Jadi jangan putus asa, tetap optimistis menjalankan usaha di masa pandemi Covid-19 ini," kata Sri.

Apalagi pada tahun ini, kata Sri, pemerintah mulai melakukan program vaksinasi. Dimulai dari tahap pertama bagi para tenaga kesehatan agar kekebelan imunnya agar tidak mudah tertular saat merawat pasien Covid-19. Program tersebut kata Sri harus disukseskan. Jika program vaksinasi sudah mencapai 70% masyarakat, maka perekomian dengan sendirinya akan bergerak. "Antara kesehatan dan perekonomian harus berjalan pararel. Kesehatan diperbaiki, perekonomian juga digerakkan," ujar Sri.

Direktur Utama PDAM Tirta Sembada Sleman Dwi Nurwata mengatakan selama pandemi Covid-19 pelayanan tetap diberikan secara optimal di samping kegiatan CSR kepada masyarakat. Salah satu upaya membantu masyarakat terdampak, PDAM memberikan diskon dan juga peniadaan denda bagi pelanggan rumah tangga yang terdampak Corona. Selain itu, mengatasi persoalan kekeringan atau kekurangan air bersih yang terjadi bertahun-tahun di Prambanan, PDAM pun memperluas layanan ke wilayah ini. "Masyarakat Prambanan saat ini sudah tidak perlu melakukan droping air. Droping air dengan tangki sudah tidak ada lagi di sana," katanya.

Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional Kartamantul DIY juga akan terus dimaksimalkan untuk kebuhan masyarakat Sleman. Dua tahun lalu, PUDAM Sleman berhasil meraih Penghargaan TOP BUMD Award 2019 dan Best Winner Indonesia Excellent Quality Awarad 2019 untuk kategori The Most Trusted and Reliable PDAM in Service Excellent of The Year 2019.

Kedua prestasi tersebut didukung pula dengan peningkatan dari berbagai aspek baik dari sisi pelayanan, jumlah pelanggan serta laba yang dihasilkan. Prestasi yang diraih, diharapkan menjadi modal bagi jajaran direksi untuk terus mengembangkan bisnis PUDAM. "Salah satunya Air Minum Kemasan Daxu. Kami sudah memiliki pabrik sendiri untuk mengembangkannya," kata Dwi.

Ketua PHRI Sleman Joko Paromo mengatakan sebelum pandemi Covid-19, sektor pariwisata di Sleman tergolong moncer. Hal ini tidak terlepas dari upaya Pemkab Sleman melakukan branding wisata Sleman ke luar daerah. Namun saat pandemi terjadi okupansi hotel terjun bebas hingga mencapai 18% saat ini. Dampaknya banyak pelaku usaha hotel dan restoran yang berupaya menekan biaya operasional.

"Jumlah pekerja mulai dipangkas untuk menekan biaya. Ada sekitar 3.000 karyawan di sektor ini yang terdampak kebijakan itu. Untuk tahun ini, kami optimistis dengan kondisi perekonomian di Sleman. Mulai Mei Juni sudah ada booking kamar dan kegiatan dari luar daerah," kata Joko.

Meskipun ada pelaku usaha pariwisata yang tutup akibat pandemi, namun dia berharap agar mereka tetap semangat dan tidak pantang menyerah. "Insyaallah badai akan berlalu. Kita semua butuh sinergi. Saya yakin 2021 pariwisata akan kembali maju. Semangat dan optimistis membangun kembali pariwisata Sleman," kata Joko.