Muncul Dua Kubah Lava Baru di Puncak Merapi, BPBD: Potensi Bahayanya Kecil

Kubah lava Gunung Merapi terlihat dari Dam Sabo Kali Gendol, Bronggang, Cangkringan, Sleman, Minggu (12/4/2020). - ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah
07 Februari 2021 10:07 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Biwara Yuswantana, mengatakan munculnya dua kubah lava di puncak Gunung Merapi, masing-masing potensi bahayanya masih kecil.

"Potensi bahayanya kecil, sehingga tidak mengubah rekomendasi daerah ancaman. Artinya permukiman yang di luar 5 km itu masih aman," Biwara Yuswantana, Sabtu (6/2/2021).

Menurutnya, selain bahaya secara fisik, aktivitas Gunung Merapi ini juga menimbulkan persoalan psikologis dan sosial. Ia berharap BPBD kabupaten bisa mengkondisikan itu.

"Apabila ada kekhawatiran [warga] kemudian dievakuasi. Tapi rekomendasi masih tetap,” katanya.

Baca juga: Hari Pertama Jateng di Rumah Saja, Kawasan Borobudur Sepi

Sebelumnya, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan muncul kubah lava baru yang berada di tengah kawah. Munculnya dua kubah lava dalam satu erupsi yang sama baru pertama kali terjadi dalam sejarah Gunung Merapi.

Kepala BPPTKG, Hanik Humaida, menuturkan kubah lava kedua ini mulai teramati sejak Kamis (4/2/2021) lalu, yang lokasinya di timur-tenggara, ke arah bukaan kawah yakni kali gendol. Kubah lava ini terlihat masih memiliki volume kecil dan pertumbuhan yang sangat lambat.

Meski demikian pengukuran volume dan kecepatan tumbuh belum bisa dilakukan lantaran pengamatan menggunakan drone masih terhalang kabut. “Kami coba ambil drone hari ini tapi gagal karena tertutup kabut. Namun assessment bahayanya belum signifikan dalam artian masih belum terlalu besar,” ujarnya, Jumat (5/2/2021).

Baca juga: Muncul Dua Kubah Lava di Gunung Merapi, Pertama Kalinya dalam Sejarah

Ia menjelaskan terbentuknya dua kubah lava ini disebabkan berdasarkan data hypocentre, aktivitas Gunung Merapi saat ini membentuk sebuah dike atau cekungan dalam. “Sejak Desember ada pelebaran hypocentre. Dari hypocentre ini ujung sebelah kiri keluar menembus lava 1997. Ujung kanan menembus kubah lava yang di tengah. Masih satu area, tapi titik lemahnya ada di dua ujung, kanan dan kiri,” katanya.

Karena bukaan kubah lava kedua ini berada di kali Gendol, maka potensi bahayanya pun ada di situ. Namun karena volume dan pertumbuhan masih kecil, maka jika terjadi awan panas tidak akan mencapai permukiman warga sehingga rekomendasi bahayanya pun masih sama, yakni 5 km dari puncak.

Pihaknya akan tetap melakukan assessment penilaian bahaya pada masing-masing kubah lava, berapa volume dan pertumbuhannya, sehingga jarak jangkau jika terjadi awan panas dapat diperkirakan. Meski terbagi dalam dua kubah lava, menurutnya tidak bisa dikatakan potensi bahaya guguran berkurang, sehingga harus tetap harus dipantau perkembangannya.

Adapun kubah lava pertama yakni yang berada di sisi selatan-barat daya, pada Kamis (4/2/2021) tercatat volumenya sebesar 117.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 13.000 meter kubik per hari. Pasca erupsi besar pada 27 januari lalu, aktivitas guguran lava dan awan panas relatif berkurang.

Pada laporan mingguan 29 januari-4 Februari, BPPTKG mencatat hanya terjadi satu kali awan panas dengan jarak luncur 600 meter, amplitude 25 mm dan durasi 100 detik. Pada kegempaan, terjadi sati gempa awan panas guguran (AP), 31 gempa Fase Banyak (MP), 574 gempa Guguran (RF), 14 gempa Hembusan (DG) dan delapan gempa Tektonik (TT).