Penulisan Sejarah Kalurahan di Gunungkidul Ditarget Selesai Tahun Depan

Ilustrasi - Pixabay
08 Februari 2021 16:27 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kundha Kabudayan Gunungkidul menargetkan di tahun depan seluruh kalurahan sudah memiliki sejarah desa masing-masing. Sekarang sudah ada 100 kalurahan yang menulis sejarah mereka.

Kepala Bidang Sastra Bahasa Sejarah dan Permuseuman, Kundha Kabudayan Gunungkidul, Sigit Pramudyanto, mengatakan penulisan sejarah ini sudah berlangsung sejak beberapa tahun lalu. Namun, belum seluruh desa memiliki sejarah tersebut. “Yang menulis sudah ada 100 desa,” kata Sigit, Senin (8/2/2021).

BACA JUGA: Kecuali DIY, Seluruh Provinsi di Jawa Berstatus Siaga Banjir

Ia menargetkan penulisan selesai di 2021. Tahun ini ada 25 kalurahan akan menulis sejarah. “Sisanya 19 kalurahan ditarget menuliskan tahun depan,” ungkapnya.

Menurut dia, tujuan penulisan untuk mengetahui sejarah asal usul maupun perkembangan desa di masing-masing kalurahan. Guna penulisan ini, Kundha Kabudayan juga memberikan pendampingan berkaitan dengan tata cara penyusunan maupun penggalian sumber data untuk bahan menulis.

Kepala Kundha Kabudayan Gunungkidul, Agus Kamtono, mengatakan penulisan ini memiliki banyak manfaat karena salah satunya bisa menjadi salah satu ciri yang dimiliki di setiap kalurahan. “Minimal warga bisa mengetahui asal usul desa masing-masing,” kata Agus.

BACA JUGA: PTKM DIY Resmi Diperpanjang tetapi Lockdown Tetap Sulit Diterapkan, Ini Alasannya

Penulisan tersebut juga menjadi salah satu upaya mendukung sektor kepariwisataaan. Terlebih lagi, kata dia, ada banyak kesenian rakyat maupun budaya dan tradisi yang ada di masyarakat. “Jadi bisa saling melengkapi karena budaya dan adat tradisi yang dimiliki harus terus dilestarikan,” katanya

Pemerhati sejarah di Gunungkidul Markus Yuwono mengapresiasi adanya program penulisan sejarah desa. menurut dia, kegiatan ini sebagai upaya mencari asal usul maupun bagaimana perkembagan desa dari masa ke masa.

Meski demikian, ia berpesan bahwa proses penulisan harus mengacu pada dasar-dasar penulisan ilimah sehingga hasil dari penulisan bisa dipertanggunjawabkan. “Tidak boleh asal karena ada metode dalam penulisan sejarah. Untuk tahapan banyak mulai dari penggalian sumber hingga menganalisa terhadap data yang diperoleh. Setelah itu, baru dilakukan penulisan,” katanya.