Angka Kemiskinan di Jogja Melonjak Melebihi Rata-Rata Nasional, Begini Tanggapan Pemda DIY

Sekda DIY Kadarmanta Baskara Aji-Harian Jogja - Lugas Subarkah
15 Februari 2021 21:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Terkait naiknya angka kemiskinan di DIY, Sekda Kadarmanta Baskara Aji, menjelaskan saat ini ekonomi DIY dan Indonesia pada umumnya sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19. Pada kondisi darurat, ia mengklaim bantuan sosial sudah mengkover masyarakat miskin di DIY.

Seperti diketahui, berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), Jumlah penduduk miskin di DIY naik menjadi 503,14 ribu orang. Jika dibandingkan Maret 2020, terjadi peningkatan penduduk miskin sebanyak 27,4 ribu penduduk, atau sebesar 5,76%. Covid-19 dinilai menjadi salah satu pemicunya.

“Selama periode September 2019-September 2020, persentase penduduk miskin juga mengalami peningkatan dari 11,44% menjadi 12,80%,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, Sugeng Arianto, Senin (15/2/2021).

BACA JUGA: Jumlah Pelanggar PTKM di Sleman Diklaim Turun

Bila merujuk data kemiskinan seluruh Indonesia, angka kemiskinan di DIY tersebut melebihi rata-rata angka kemiskinan di tingkat nasional yang hanya sekitar 10,19%. DIY bahkan masuk dalam 16 besar wilayah yang angka kemiskinannya melebihi rata-rata nasional.

“Kalau kita lihat DTKS sekitar 500.000 KK, sementara bantuan sosial tunai sudah ada sekitar 750.000 KK. Jauh di atas DTKS kita.Sehingga harapanya mereka yang dulu di atas garis kemiskinan sekarang tergelincir di bawah sudah terkover bantuan sosial,” katanya, Senin (15/2/2021).

Meski demikian ia mengakui bantuan sosial tidak bisa menyelesaikan masalah. Kedepan, langkah yang perlu diambil adalah bagaimana menggerakkan ekonomi masyarakat. “Pertama, kami akan gunakan cara padat karya pada setiap aktivitas di desa. Supaya mereka mendapat bantuan tapi dari bekerja sebagai padat karya,” ujarnya.

Kedua yakni pemberian relaksasi kepada mereka yang punya hutang di bank dengan mengurangi bunga atau menunda angsuran supaya para pelaku ekonomi dapat bergerak dulu. “Di belakang perusahaan ada karyawan, di belakang karyawan ada keluarga. Harapanya dengan begitu kalau ekonomi bisa bergerak naik akan meningkatkan daya beli masyarakat,” ungkapnya.