60 Orang Daftarkan Diri Jadi Abdi Dalem Kraton Jogja

Seorang abdi dalem sedang berlatih tari di Bangsal Sri Manganti, Kraton Jogja, pada Kamis (4/3/2021)-Harian Jogja - Sirojul Khafid
04 Maret 2021 20:57 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA– Sebanyak 60 orang mendaftar sebagai abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sebelumnya Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridhomardowo Divisi Kesenian dan Pertunjukan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat membuka pendaftaran terbuka untuk abdi dalem.

Sistem terbuka ini baru pertama kalinya dilakukan di KHP Kridhomardowo. Masyarakat berkesempatan mengisi empat golongan abdi dalem di KHP Kridhomardowo yaitu Wiyaga, Pasindhen, Lebdaswara, dan Musikan. Pendaftaran berlangsung sekitar tiga minggu sampai batas akhir pada 1 Maret 2021.

Penghageng KHP Kridhomardowo Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro mengatakan pembukaan pendaftaran abdi dalem secara terbuka ini lantaran membutuhkan keahlian spesifik. Sementara itu di luar Kraton banyak pertanyaan terkait cara menjadi abdi dalem.

“Memberi kesempatan pada publik apabila berniat mengabdi sebagai abdi dalem, ini lah jalannya, inilah prosesnya,” kata KPH Notonegoro kepada para wartawan di Bangsal Madukaran pada Kamis (4/3/2021).

KPH Notonegoro belum memeriksa secara detail identitas para pelamar abdi dalem. Namun menurutnya usia termuda yaitu mahasiswa yang masih semester satu.

Ada beberapa langkah agar peserta bisa menjadi abdi dalem. Pertama tahap seleksi administrasi. Setelah itu peserta mengirimkan video berisi kemampuan seni sesuai dengan posisi yang dia lamar. Setiap golongan memiliki persyaratan khusus seperti bisa memainkan gamelan Gaya Jogja untuk Wiyaga.

Sementara untuk Lebdaswara dan Pasindhen bisa melagukan gerongan atau sindhenan (syair) dari materi pilihan yaitu Ladrang Raja Manggala atau Ladrang Prabu Mataram. Berbeda pula dengan Musikan yang mensyaratkan bisa membaca not balok dan memainkan alat musik tiup atau alat musik perkusi. Apabila lolos seleksi melalui video, peserta akan seleksi secara langsung di Kraton.

Setelah lolos semua tahap, ada masa magang sebagai abdi dalem selama enam bulan sampai dua tahun. Masa ini sebagai perkenalan antara Kraton dengan abdi dalem dan sebaliknya.

BACA JUGA: Diguyur Hujan Deras, 30 Rumah di Kricak Terendam Banjir

“Melihat dan mengobservasi perilaku, tingkah laku, dan sebagainya. Masa magang itulah yang kami butuhkan untuk itu. Peserta magang juga bisa memperhatikan, setiap marak (sebutan abdi dalem perempuan dalam berkunjung ke Kraton) harus sanggulan, kemungkinan itu berat, masa magang itu juga bisa memutuskan apabila [abdi dalem] tidak lanjut,” kata Kanjeng Noto, panggilan KPH Notonegoro.

Setelah menjadi abdi dalem, mereka akan mendapat jadwal untuk berkunjung ke Kraton, latihan, dan sebagainya. Untuk sowan (sebutan abdi dalem laki-laki dalam berkunjung ke Kraton) atau marak misalnya, jadwalnya pada hari Senin dan Rabu dari pukul 10.00 – 12.00 WIB. Jadwal yang sudah pasti sedari awal ini agar abdi dalem bisa mengatur jadwalnya di luar kegiatan Kraton. Abdi dalem diperbolehkan untuk memiliki pekerjaan sampingan di luar Kraton.

Perekrutan secara terbuka ini juga sebagai cara Kraton beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Dengan pemanfaatan yang tepat, maka teknologi bisa membuat Kraton semakin berkembang. Namun Kanjeng Noto tidak memungkiri hal ini perlu upaya keras, terutama untuk abdi dalem senior atau yang sudah sepuh.

Sebagai contoh saat ada jadwal latihan, abdi dalem muda cukup dikirim lokasi melalui WhatsApp, namun hal itu tidak bisa untuk yang tua. Namun Kraton tetap memfasilitasi dengan keterangan tempat dalam kertas. “Ke depan harapannya paperless. Maka dari itu, kami berinvestasi membuat font baru untuk penulisan gending, agar cukup nyaman dan bagus,” kata Kanjeng Noto.

Selain melakukan berbagai kegiatan di Kraton Jogja, abdi dalem juga akan mendapat kekucah atau uang dari Kraton. Menurut Kanjeng Noto, kekucah merupakan tanda kasih dari Ngarso Dalem (Sultan) untuk abdi dalem. “Temen-temen abdi dalem kalau dapet kekucah itu disimpen, [tidak digunakan]. Dari dulu kaya gitu,” kata Kanjeng Noto.

Salah satu abdi dalem penari, Dewa, mengatakan tidak fokus pada kekucah. Dia menjadi abdi dalem untuk belajar dan mengabdi. Sehingga besaran kekucah tidak menjadi perhatiannya. Terlebih bagi Dewa, yang mendapat nama Lalita dari Kraton, merasa berkah dari Ngarso Dalem lebih penting. “Mendapat berkah lebih dari materi. Seiring berjalannya waktu, ada saja rejeki,” kata Lalita.

Lalita menjadi abdi dalem sejak tahun 2018. Namun dia sudah belajar menari di Kraton sejak 2014. Selama tiga tahun menjadi abdi dalem, tidak hanya menari yang dia pelajari. Setelah mendapat tugas di kantor KHP Kridhomardowo, Lalita juga belajar tentang produksi seni, keuangan, dan sosial media.

Salah satu pengalaman Lalita yang berkesan saat dia menari di Amerika Serikat, tepatnya di New York pada tahun 2018. Dalam misi memperkenalkan budaya Kraton Jogja di New York, Lalita pergi bersama Gusti Hayu dan Gusti Mangkubumi. “Penonton di Amerika pada exited dan appreciate,” kata Lalita.