Hadapi Potensi Angin Kencang, Sumberahayu Bentuk Destana

Anggota Destana Sumberahayu melakukan simulasi mitigasi bencana angin kencang, di kantor Kalurahan Sumberahayu, Rabu (3/3/2021) - Harian Jogja/Lugas Subarkah
04 Maret 2021 07:37 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-Memperkuat upaya pengurangan risiko dan mitigasi bencana, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY kembali mengukuhkan Desa Tangguh Bencana (Destana) di Kalurahan Sumberahayu, Kapanewon Moyudan, Sleman.

Berlangsung pada Rabu (3/3/2021) di Kantor Kalurahan Sumberahayu, pengukuhan Destana diawali dengan simulasi mitigasi bencana angin kencang yang menyebabkan sejumlah pohon tumbang dan korban luka.

Karena masih dalam situasi pandemi Covid-19, simulasi dilakukan secara terbatas dengan protokol kesehatan dan hanya diikuti oleh anggioa Destana Sumberayu yang berjumlah 40 orang, tanpa melibatkan warga Sumberayu lainnya.

Dalam simulasi tersebut, terlihat anggota Destana Sumberahayu dengan sigap menjalankan tugasnya masing-masing, mulai dari koordinasi, pembersihan potongan pohon, pembuatan tenda darurat, penyediaan logistik, pertolongan pada korban luka dan sebagainya.

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana, menuturkan meski saat ini masih pandemi Covid-19, DIY tidak lepas dari potensi bencana lainnya sehingga masyarakat harus terus disiapkan dalam mitigasi bencana alam.

"Covid-19 memang harus kita hadapi, tapi tidak boleh lengah dengan potensi bencana lain. Saat ini kita memasuki musim pancaroba. Di Sumberahayu, angin kencang potensi bencananya," kata dia.

Dalam menghadapi potensi bencana ini, selain harus terus memantau prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), warga juga perlu mengurangi risiko bencana.

"Kita kurangi kerentanannya. Angin kencang jadi bencana kalau ketemu pohon besar, tua, lapuk. Kalau menimpa rumah atau orang jadi bencana. Maka itu harus selalu diperhatikan," ungkapnya.

Kepala Seksi Pencegahan Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD DIY, Ali Sadikin, mengatakan tahun ini BPBD DIY membentuk 25 Destana, tiga diantaranya merupakan lanjutan dari Destana 2020 yang sempat tertunda akibat Covid-19.

Tiga kalurahan tersebut meliputi Wirokerten, Sumberahayu dan Ngestirejo. "Gladi lapangan diganti gladi posko dengan peserta dibatasi 50-60 orang. Kalau yang normal 150-250 orang termasuk masyarakat terlibat," ujarnya.

25 Destana yang akan dikukuhkan pada 2021 meliputi enam Destana di Sleman, enam Destana di Gunungkidul, enam Destana di Kulonprogo, empat Destana di Bantul dan tiga Katana di Kota Jogja.

263 Destana

Sampai Maret ini, DIY telah memiliki 263 Destana dari total 438 Kalurahan/Kelurahan. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 301 kalurahan/kelurahan berpotensi bencana alam.

Lurah Sumberayu, Sigit Tri Susanto, mengatakan meski pelatihan hingga pengukuhan Destana telag selesai, tugas sebenarnya Destana baru akan dimulai.

"Tugas kita yakni tugas kemanusiaan untuk membantu masyarakat yang terkena bencana alam. Kita menjadi ujung tombak, mata dan telinga untuk menyikapi bencana di masyarakat," katanya.