Ketua Umum Hizbul Wathan: Sepenuh Hati Meresapi Semangat Soedirman

Endra Widyarsono (paling kiri) bersama dengan rekan dan kader HW. - Istimewa
12 Maret 2021 14:07 WIB Sirojul Khafid Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Endra Widyarsono terpilih menjadi Ketua Umum Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan. Sebagai gerakan pembentukan karakter yang banyak berkegiatan sacara tatap muka, adanya pendemi mengubah banyak hal di HW. Bagaimana kegiatan HW saat ini, terutama dengan pemimpin barunya? Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Sirojul Khafid.

“Suatu ketika, kalian akan mengalami bencana yang lebih hebat dari ini.”

Dari ujung telepon, Endra Widyarsono bercerita kata-kata dari Jenderal Soedirman itu. Dahulu, saat Soedirman masih berusia 25 tahun dan berprofesi sebagai guru salah satu sekolah Muhammadiyah, dia pernah berkemah. Salah satu kegiatan kemah dengan melakukan perjalanan dari Cilacap menuju Batur dengan jarak 260 kilometer.

Dengan menempuh waktu tiga hari, Soedirman dan rombongannya melakukan perjalanan di berbagai medan, termasuk menembus hutan. Dalam perjalanan itu pula dia meminta rekannya membawa kendi. Menurut sejumlah informasi, kendi berisi air tersebut untuk Soedirman menjaga wudhu. Saat melewati hutan dan tidak sengaja menginjak tanaman, Soedirman dan rombongannya memperbaiki posisi tanaman yang roboh. Hal ini merupakan pengamalan cinta sesama alam, salah satu dasar dari Gerakan Kepanduan Hizbul Wathan (HW). Kala itu, Soedirman salah satu anggotanya. “Selama perjalanan itu, kegiatan Soedirman sama dengan kegiatannya saat perang gerilya. Bisa disimpulkan perang gerilya terinspirasi dari [kegiatan HW] itu,” kata Endra saat dihubungi, Minggu (8/3/2021).

Selain melewati hutan, Soedirman dan rombongan juga melewati permukiman warga untuk pengajian. Saat sampai di Batur dan kembali berkemah, situasi di luar mengalami gejolak yang meningkat. Rekan-rekan Soedirman keluar dari tenda dan pergi menghindar. Namun Soedirman tetap bertahan di tenda dan berkata, “Suatu ketika, kalian akan mengalami bencana yang lebih hebat dari ini.”

Tidak ada yang bisa memastikan bencana lebih hebat apa itu yang dimaksud Soedirman. Bisa jadi bencana itu berupa penjajahan atas bangsa Indonesia atau lainnya. Namun yang pasti, saat ini bencana itu juga melanda dunia dengan adanya pandemi Covid-19. Hal ini Endra rasakan betul, terutama ketika mengurus HW.

Sejak 28 Februari 2021, Endra mendapat amanat sebagai Ketua Umum Kwartir Pusat HW. Naiknya Endra menjadi orang nomor satu di HW terjadi tanpa rencana. Ketua Umum sebelumnya, Mayor Jenderal TNI (Purn) Muchdi Purwoprandjono (Muchdi PR) mundur lantaran mendapat jabatan baru sebagai Ketua Umum Partai Berkarya.

Setelah menjadi Plt. Ketua Umum HW sejak akhir Desember 2020, Endra resmi menjadi ketua setelah ada Tanwil Ke-2 HW tahun 2021. Tanwil dihadiri peserta dari 30 provinsi di Indonesia. “[Pemilihan ketua] tetap harus kolegial, maka ditawarkan di Tanwil. Di Tanwil itu setelah dialog, akhirnya seluruh provinsi menyetujui saya ditetapkan [sebagai ketua umum HW],” kata Endra.

Tanwil terlaksana secara daring, pertama kalinya dalam sejarah Tanwil HW. Sejak pandemi Covid-19, kegiatan HW banyak dilakukan secara daring. Adanya pandemi mengubah cukup banyak pola kegiatan HW yang sebelumnya banyak secara tatap muka, termasuk dalam pendidikan kadernya.

Sebelum pandemi, kegiatan HW banyak tersebar di lembaga pendidikan yang berada di bawah Organisasi Masyarakat Muhammadiyah, dari tingkat sekolah dasar (SD) sampai perguruan tinggi. Dari seluruh provinsi di Indonesia, hanya tiga yang belum memiliki pengurus resmi. “Aceh, Sulawesi Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Kegiatan sudah jalan, tetapi belum dilantik kwatir wilayahnya,” kata Endra yang juga berprofesi sebagai Kepala SMP Muhammadiyah 10 Jogja.

Sebagai wadah pembinaan karakter, kegiatan HW banyak terlaksana di luar sekolah. Metode yang dipakai seperti bermain, bernyanyi, bercerita, berpetualang, dan lainnya. Seluruh kegiatan ini sebelumnya terjadi secara tatap muka langsung. Maka ketika pandemi seperti ini, Endra sering mendapat anggapan posisi tawar HW menjadi diragukan. Dari keraguan tersebut, Endra menciptakan upaya transfer of value HW tetap berjalan.

Ada beberapa penyesuai kegiatan. Pertama, HW mengawal kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah baik secara langsung maupun melalui Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC).

Beberapa waktu lalu, HW melaksanakan kegiatan bagi-bagi masker. “Ramadan kemarin [tahun 2020], selama 30 hari penuh HW distribusi 150 paket sembako. Kemudian kerja sama dengan BNPB dan MDMC selenggarakan bimtek satuan pendidikan aman bencana satu Indonesia, di empat wilayah yaitu Banyuwangi, Lampung, Pasaman Sumatra Barat, Maluku Ambon,” kata Endra.

Bimtek pendidikan rawan bencana ini sudah terencana sejak sebelum pandemi. Namun lantaran keadaan yang berubah, pelaksanan juga berupa daring.

Tantangan Saat Ini

Sejak pandemi melanda dan mengubah banyak sistem pendidikan, termasuk di HW, para pimpinan khawatir ada generasi atau transfer ilmu pengetahuan yang hilang. Namun Endra lebih khawatir transfer nilai-nilai karakter yang hilang. Maka dari itu, hal yang paling mungkin dilakukan saat ini adalah meningkatkan monitoring di setiap wilayah. Untuk sekolah-sekolah, mereka mendukung alokasi paket data untuk para kader HW.

Namun bantuan itu bukan tanpa kendala. Kondisi geografi setiap daerah beragam. Ada yang gampang akses Internet, banyak pula yang masih susah. “Musim pandemi kemampuan menguasai teknologi menjadi mutlak. Kalau tidak, akan terlibas kekinian,” kata Endra.

Selain problem teknis, ada pula tantangan Endra dalam menggerakan kader HW masa ini. Ia sering mendengar kader HW perlu role model. Beberapa orang mengatakan Soedirman terlalu jauh untuk menjadi suri tauladan.

Menurut Endra anggapan itu sangat keliru. Semangat Soedirman masih relevan sampai saat ini. Apabila menilik ke belakang, Soedirman menjadi panglima bahkan masih dalam usia yang cukup muda. Sebelum menjadi panglima, HW merupakan satu-satu latar belakang pendidikan militernya. Semangat cinta alam, bertahan hidup, dan cinta Tanah Air masih sangat relevan saat ini. Terlebih di masa sulit pandemi, keilmuan HW harusnya menjadi modal penting untuk bisa melewati tantangan. “Ini menjadi role model bagi generasi muda,” kata Endra.

Tahun ini, HW memasuki usia yang ke-103 tahun. Tentu banyak hal telah berubah. Endra paham betul, sejak dia bergabung dengan Muhammadiyah sekitar 1988, dia pernah merasakan HW saat masih “mati suri”. Vakumnya HW saat itu lantaran pemerintah melahirkan Pramuka pada 1961. Sekitar 1999 pascareformasi, HW kembali bangkit.

Endra, yang saat itu berusia 37 tahun mendapat amanat untuk menyiapkan deklarasi HW di Jogja. Dia diminta mengumpulkan 10.000 kader HW di seluruh DIY. “Di Kota Jogja saja [kader HW] lebih dari 10.000 dari SD sampai SMA, apalagi ini se-DIY. Maka acara digelar di Stadion Kridosono setelah sebelumnya longmarch melalui Malioboro. Sebelumnya Malioboro tidak pernah dipakai untuk acara seperti itu. Karena reformasi, saya yang pertama pecah telur,” kata Endra.

Di masa kepemimpinannya, Endra berharap pengurus HW ada di seluruh provinsi di Indonesia. Ia juga akan menegaskan serta mengukuhkan HW sebagai wadah pembentukan kader-kader yang berkarakter. Sesuai namanya, kader HW diharapkan mencintai bangsa dan negaranya. Layaknya para senior HW terdahulu semisal Soekarno, Hatta, Adam Malik, Abdul Kahar Muzakar, dan lainnya. “Bela bangsa dan cinta Tanah Air sudah menjadi DNA dari HW,” kata Endra.