Tiket Ludes 15 Menit, MJM 2026 Siap Dongkrak Wisata Jogja
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Ilustrasi pedagang beras/JIBI-Solopos-Sunaryo Haryo Bayu
Harianjogja.com, SLEMAN-Kebijakan impor beras pemerintah pusat disayangkan banyak kalangan, tak terkecuali petani di Sleman. Pasalnya bulan Maret yang merupakan musim panen raya, akan membuat permintaan beras dari petani lokal turun drastis juka pemerintah melempar beras impor ke pasar.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (gapoktan) Sidomulyo, Godeyan, Jumedi, menjelaskan saat ini produksi gabah dari petani Sleman sedang melimpah, sehingga tidak perlu impor beras. “Kalau bisa pemerintah membeli hasil produksi petani,” ujarnya, Kamis (18/3/2021).
Ia mengungkapkan saat ini DIY produksi gabahnya surplus. Jika pemerintah mengimpor beras, berdasarkan analisanya, meski tidak akan menurunkan harga, namun akan menurunkan permintaan. “Kalau [harga] turun tidak, tapi permintaannya jadi tidak banyak,” katanya.
Dengan tidak banyaknya permintaan, beras dari petani lokal tidak akan laku. Padahal, petani di Sleman kata dia, semuanya menggantungkan hidup pada budidaya padi, sehingga kebijakan impor beras ini dikhawatirkan akan berpengaruh pada kesejahteraan petani.
BACA JUGA: Susah Tidur? 3 Bahan Herbal Ini Bantu Tidurmu Menjadi Nyenyak
Gapoktan Sidomulyo memiliki lahan produksi padi seluas 137 hektar, dengan kemampuan produksi 6 ton per hektar dalam sekali panen. Pada musim panen kali ini sampai dengan Maret, setidaknya 100 hektar lahan telah dipanen. “Penjualan ada yang ke Kalimantan, Jakarta, Surabaya, Bekasi, ASN [Aparatur Sipil Negara] pegawai Sleman,” ungkapnya.
Adapun harga gabah kering panen saat ini Rp4.300/kg. dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya, harga ini di tingkat Gapoktan cenderung stabil. Ia juga menambahkan beras hasil produksi Sleman memiliki keunggulan gurih, bersih dan tanpa pengawet atau pemutih kimia.
Senada dengan Jumedi, Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman, Heru Saptono, juga menyayangkan langkah pemerintah pusat untuk mengimpor beras. Pasalnya pada 2020 Sleman mengalami surplus beras sebesar 60.000 ton dan pada Maret 2021 ini surplus 2.000 ton.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sebanyak 10.000 tiket Mandiri Jogja Marathon 2026 habis dalam 15 menit. Event lari internasional ini siap mempromosikan wisata DIY dan UMKM lokal.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa
Jadwal lengkap KA Prameks Jogja–Kutoarjo dan berdasarkan data resmi KAI Access.
BMKG memprakirakan mayoritas wilayah di DIY cerah pada Kamis 13 Agustus 2026. Bantul berpotensi berawan, sementara Kota Jogja terpanas.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.