Petani Diajak Memahami Cuaca dan Iklim untuk Cegah Gagal Panen

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyerahkan bantuan alat pengukur curah hujan tipe observatorium kepada Sekretaris Daerah Bantul, Helmi Jamharis pada pembukaan Selolah Lapang Iklim di Kapanewon Kretek Senin (12/4). - Harian Jogja/ Catur Dwi Janati.
13 April 2021 08:17 WIB Catur Dwi Janati Sleman Share :

Harianjogja.com, KRETEK--Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) adakan Sekolah Lapang Iklim (SLI) di Padukuhan Karang, Kalurahan Tirtohargo, Kapanewon Kretek. Peserta SLI yang tergabung dalam Kelompok Tani Sumber Mulyo mendapatkan berbagai materi perihal iklim pendukung pertanian dan mitigasi bencana.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menyampaikan SLI di Kretek mengarah ke pemanfaatan iklim bagi budidaya tanaman bawang merah dengan target sasaran para petani dan penyuluh pertanian. Mengingat betapa pentingnya komoditas bawang merah di Bantul, Dwikorita menilai pengetahuan terhadap iklim dapat menunjang aktivitas budidaya tanaman, khususnya bawang merah. Kegagalan panen akibat cuaca dapat dicegah dengan pengetahuan tentang iklim melalui SLI.

BACA JUGA : Sultan Berharap Sekolah Iklim Bisa Kurangi Risiko Dampak

"Mari kita perdalam pemahaman praktis tentang cuaca dan iklim, praktik lapangannya bagaimana. Nanti ada bantuan alat agar akurat," terangnya pada Senin (12/4/2021).

Dalam kesempatan itu Dwikorita memerintahkan satu petani untuk mengunduh aplikasi infoBMKG. Dari situ petani diajarkan bagaimana memprediksi cuaca yang tepat untuk berbagai kegiatan budidaya, seperti penanaman, pemupukan dan lain sebagainya. Data potensi curah hujan dan kelembaban yang tertera dalam aplikasi dapat memudahkan penjadwalan agenda budidaya pertanian.

"Sekolah Lapang Iklim (SLI) ini memberikan kemampuan bapak ibu petani dan penyuluh untuk dapat membaca data curah hujan dengan informasi dari BMKG tentang cuaca," imbuhnya.

Di sisi lain, Dwikorita menegaskan bila pengetahuan akan prakiraan iklim juga dapat membantu masyarakat dalam mitigasi bencana. Satu orang yang membaca peringatan adanya bencana siklon dapat membantu puluhan warga lainnya.

"Harapan kami dengan mengikuti SLI membuat selamat dari berbagai ancaman bahaya hidrometeorologi serta panennya bisa sama. Semoga tidak gagal panen dengan beradaptasi seperti itu," tandasnya.

BACA JUGA : Petani Gunungkidul Ikuti Sekolah Iklim, Untuk Apa

Peserta SLI telah mendapatkan berbagai pengetahuan tentang cuaca dan iklim sebanyak empat kali, tiga di antaranya dilakukan tatap muka. Dalam kegiatan SLI ada dua materi pokok yang diberikan yakni pengenalan unsur cuaca/iklim dan alat ukurnya serta materi pemahaman prakiraan iklim. BMKG juga memberikan alat pengukur curah hujan tipe observatorium.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan (DPPKP) Bantul, Yus Warseno menegaskan akan menyebarkan informasi dari SLI ke petani dan nelayan di Bantul melalui para penyuluh.

"Karena SLI tidak bisa semua masyarakat untuk ikut karena pandemi, tapi pegawai DPPKP, penyuluh kan ikut. Karena kita ada 17 Kapanewon, penyuluh akan menyebarkan informasi kepada masyarakat," tegasnya.

"Artinya tidak harus menunggu SLI lagi untuk menunggu tersebarnya informasi tidak. Dari hasil ini aja nanti akan tertularkan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Bantul, bahkan di luar Bantul melalui getok tular," tukasnya.

Salah satu peserta SLI, Syuhada mengaku senang adanya pelatihan tentang cuaca dan iklim dari BMKG. Menurutnya pengetahuan tentang cuaca dan iklim dapat digunakan dalam budidaya tanaman bawang merah. "Bagus, biar bisa tahu kapan waktu yang pas buat tanam dan memupuk. Harapannya ke depannya diadakan pelatihan lagi," ungkapnya.